Fakta-fakta Sejarah Seputar G30S/PKI


Beberapa waktu terakhir telah terjadi usaha pengaburan fakta-fakta terkait G30S/PKI oleh para anggota Lekra dan para sejarahwan komunis seperti Weirtheim, Ben Anderson, Ruth McVey yang digalang oleh Carmel Budiardjo alias Carmel Brickman, wakil ketua divisi propaganda PKI dan disebarkan oleh Goenawan Mohamad dan grup penerbitan Tempo yang memiliki agenda membangkitkan komunisme dan Partai Komunis Indonesia.

Di bawah ini adalah ringkasan beberapa fakta-fakta penting sejarah yang terjadi menjelang, pada saat dan setelah meletusnya G30S/PKI yang tidak terbantahkan oleh siapapun juga bahwa PKI sebagai institusi memang benar telah melakukan pemberontakan dengan mendompleng nama Soekarno:

Pra G30S/PKI

1.  Sebelum G30S/PKI 1965, Partai Komunis Indonesia (PKI) telah tiga kali melakukan pemberontakan terhadap Republik Indonesia, yaitu di Tangerang, pemberontakan politik maupun bersenjata oleh Tan Malaka dan Soedarsono, dan pemberontakan Madiun tahun 1948 oleh Musso dan Amir Sjariffudin.

2. Pulihnya nama PKI di mata masyarakat pasca pemberontakan 1948 adalah sepenuhnya jasa ketua divisi propaganda PKI, Njoto yang dibantu Carmel Brickman jagoan propaganda, warga negara Inggris dan agen rahasia komunis internasional yang sebelumnya ditempatkan di Cekoslovakia. Untuk menghindari kecurigaan pemerintah Indonesia, Carmel Brickman dinikahkan dengan anggota Politburo PKI, Suswondo Budiardjo, sehingga sampai hari ini dikenal sebagai Carmel Budiardjo.

*Kelak Njoto dan Carmel Budiardjo terlibat affair dan Carmel Budiardjo adalah “wanita Rusia” misterius yang membuat Njoto hampir menceraikan istri resminya tapi tidak jadi karena Njoto keburu “dijemput” Jenderal Soemitro setelah G30S/PKI. Perselingkuhan Njoto dan Carmel Budiardjo ini tidak disukai PKI sehingga posisi Njoto sebagai ketua Divisi Propaganda PKI dicopot menjelang meletusnya G30S/PKI.

3. Untuk memuluskan agenda propaganda PKI, Njoto bersama anggota Committe Central lain membentuk Lekra untuk mengumpulkan berbagai seniman dan sastrawan yang akan di”merahkan”. Selanjutnya Njoto mengambil paksa Harian Rakyat yang akan digunakan sebagai wadah tulisan-tulisan yang akan dihasilkan para sastrawan Lekra/PKI dalam mempropagandakan PKI dan menyerang kelompok-kelompok anti PKI seperti yang dilakukan Pramoedya Ananta Toer ketika mengancam menghancurkan dan menjebol saingan Lekra yang anti PKI, Manifes Kebudayaan/Manikebu.

*Lekra adalah underbouw PKI merupakan fakta tidak terbantahkan, selain didirikan dan diketuai oleh pimpinan tertinggi PKI, otoritas PKI terhadap Lekra juga mutlak, terbukti PKI dapat memecat anggota Lekra yang tidak disukai partai, karena selingkuh misalnya.

** Di akhir pemerintahan Soekarno, Njoto dan Carmel Budiardjo adalah penulis pidato-pidato Soekarno.

4. Puncak kekuasaan Lekra adalah ketika mereka membantu menekan pemerintahan Soekarno untuk membubarkan Badan Pembela Soekarnoisme yang kegiatan utamanya adakah menyebarkan ajaran Soekarno sebagai usaha membendung kampanye politik dan ideologi PKI yang dilakukan oleh Lekra. Lekra juga berhasil menjebol berbagai universitas sehingga para pengajar, dosen dan profesor yang anti PKI seperti Dr. H.B. Jassin, Mochtar Kusumaatmadja, dan Taufiq Ismail diusir dari tempat mereka bekerja.

Akibat tekanan-tekanan Lekra, para seniman penandatangan Manifes Kebudayaan tidak bisa mengumumkan karya mereka dengan menggunakan nama sebenarnya. Buku-buku sastrawan yang dituduh PKI sebagai Manikebuis dilarang beredar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang menterinya waktu itu Prof. Dr. Priyono adalah simpatisan komunis dan menerima bintang Stalin dari Moskow.

*Walaupun salah satu penandatangan Manifest Kebudayaan, tetapi belakangan baru ketahuan bahwa ayah dan keluarga Goenawan Mohamad adalah komunis sejati, sehingga kuat dugaan keberadaannya di Manifes Kebudayaan adalah sebagai penyusup atau mata-mata bagi kaum komunis (PKI dan Lekra).

5. Adalah Mikhail Suslov yang memerintahkan Operation Palmer, yaitu pembuatan dokumen Gilchrist yang memuat kata-kata “our local army friend” yang membuat Soekarno menjadi panik dan membuat kumat rasa gila kekuasaan pada dirinya karena mengira dokumen palsu tersebut membuktikan adanya penghianat di kalangan Angkatan Darat Indonesia. Perancang dan pelaksana pemalsuan dokumen Gilchrist ini sendiri adalah divisi rahasia Cekoslovakia dan Uni Soviet yang dilakukan oleh Ladislav Bittman, Mayor Louda, Jenderal Agayant dan Carmel Budiardjo, mata-mata Cekoslovakia di Indonesia dan PKI.

6. Penyebaran informasi dokumen Gilchrist dilakukan oleh PKI dan Soebandrio dengan cara organisasi underbouw PKI, yaitu Pemuda Rakyat menyerang rumah Bill Palmer yang memang sering dituduh sebagai antek CIA. Setelah itu Soebandrio yang sejak awal sudah memegang dokumen Gilchrist palsu membuat pengumuman bahwa dia menerima dokumen tersebut yang diberikan oleh orang tidak dikenal yang mengaku menemukan dokumen itu ketika menyerang rumah Bill Palmer.

7. Melihat kesuksesan Operation Palmer, kemudian PKI memanfaatkan momentum tersebut dengan menyebarkan desas-desus keberadaan Dewan Jenderal yang akan memberontak dan menggantikan kabinet Soekarno. Kali ini penyebar cerita Dewan Jenderal adalah Soebandrio yang memang berhaluan kiri dan badan intelijennya, BPI.

8. Dokumen Gilchrist dan Dewan Jenderal sudah cukup membuat Soekarno panik dan segera menyiapkan rencana pendaulatan/penculikan terhadap orang-orang yang dianggap sebagai anggota Dewan Jenderal tanpa menyadari bahwa Letkol Untung, anak buah yang diperintah Soekarno untuk mendaulat sudah lama dibina oleh Biro Chusus PKI pimpinan Sjam dan DN Aidit. Dengan kata lain karena angkatan darat memastikan bahwa PKI tidak akan dapat memiliki kekuatan bersenjata maka untuk mengatasi hal tersebut PKI memberontak memanfaatkan para perwira ABRI yang berhasil dimerahkan seperti Untung, Omar Dhani dan Soekarno sendiri.

9. Jauh-jauh hari banyak orang sudah memperkirakan bahwa cepat atau lambat PKI akan memberontak, dan PRRI/Permesta meletus adalah sebagai protes karena Soekarno menolak mendengar nasehat militer seperti Ventje Sumual, atau sipil seperti Mohammad Hatta bahwa PKI akan memberontak karena sifat komunis di negara manapun adalah merebut kekuasaan melalui jalan pemberontakan bersenjata dan berdarah. Setahun menjelang G30S/PKI berita PKI akan memberontak semakin mengekskalasi antara lain didukung oleh hasil penggeledahan yang dilakukan ABRI atas perintah AH Nasution yang menemukan dokumen-dokumen yang membuktikan PKI memiliki rencana memberontak.

10. Karena tidak memiliki angkatan bersenjata sendiri, maka PKI mengusulkan pembentukan angkatan perang kelima yang terdiri dari buruh dan petani dengan senjata dari RRC yang diselundupkan ke Indonesia oleh Suswondo Budiardjo, suami Carmel Budiardjo dengan bantuan Omar Dhani.

11. Mayjen Soeharto yang kelak menumpas pemberontakan PKI menjelang G30S/PKI adalah orang kedua di angkatan darat setelah Ahmad Yani. Di antara perwira angkatan darat saat itu tidak ada lagi yang memiliki pengalaman tempur dan ahli strategi seperti Pak Harto. Betapa tidak, saat itu Pak Harto tidak pernah kalah perang, dari perang Palangan Ambarawa sampai Operasi Mandala, semua operasi yang dijalankannya selalu berakhir dengan kemenangan. Tidak heran di kalangan angkatan darat banyak yang menjadi loyalis Pak Harto tapi banyak juga yang cemburu dengan selalu mengungkit pendidikan rendah Pak Harto. Pak Harto juga satu-satunya panglima teritorial yang dipilih oleh anak buahnya untuk menjadi Panglima Diponegoro.

12. Menurut keterangan Romo Mangunwijaya yang pernah menjadi anak buah Pak Harto pada serangan umum 1 Maret, dari dulu wibawa Pak Harto sangat besar dan ketika dia berbicara bahkan atasannya akan mendengar dengan seksama. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Omar Dhani yang mengatakan bahwa Ahmad Yani sendiri dihadapannya mengatakan bahwa tidak ada seorangpun bisa menolak keinginan Pak Harto, termasuk Ahmad Yani sebagai atasan langsung Pak Harto.

13. Pengangkatan Pak Harto sebagai wakil Omar Dhani di Kolaga adalah atas usulan Pak Harto sendiri yang melihat operasi-operasi yang dijalankan Omar Dhani di Malaysia sangat kacau, sehingga tidak benar Pak Harto kecewa dengan pengangkatannya di bawah Omar Dhani oleh Ahmad Yani.

14. Dikatakan bahwa Pak Harto membenci seluruh jenderal korban G30S/PKI karena mereka semua terlibat dalam pencopotan dirinya sebagai Panglima Diponegoro karena terbukti menyelundupkan gula ke Singapura dan Malaysia untuk ditukar beras. Penyelundupan semacam ini sangat biasa bagi angkatan 45, bahkan Soekarno dalam buku biografi yang ditulis Cyndy Adam mengakui bahwa hampir seluruh kebutuhan negara pasca proklamasi diperoleh dengan jalan penyelundupan, dan setengah dari menteri-menteri dalam kabinet adalah pelaku penyelundupan. Jadi dari konteks ini para perwira yang memeriksa Pak Harto termasuk AH Nasution tidak menghukum Pak Harto karena menyelundup beras untuk rakyat Jawa Tengah yang kelaparan.

15. Kedatangan Latief ke RS Gatot Subroto adalah menyampaikan rencana pendaulatan jenderal untuk dihadapkan kepada Soekarno dan bukan rencana pembunuhan. Adapun daulat adalah tradisi revolusi Indonesia yang sudah dimulai sejak penculikan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok. Karena itu tidak ada alasan bagi Pak Harto untuk melakukan tindakan apa-apa di malam G30S/PKI tersebut karena pendaulatan adalah atas perintah Soekarno, panglima tertinggi ABRI dan sebagai panglima kostrad Pak Harto tidak memiliki pasukan tersendiri. Lagipula jangankan Pak Harto, Ahmad Yani sendiri sudah diberitahu bahwa akan ada penculikan terhadap dirinya tetapi dia tidak percaya dan malah mengurangi jumlah pasukan pengawal rumah. Jenderal lain yang menjadi korban juga demikian.

16. Latief mengunjungi Pak Harto atas perintah Sjam dan Brigjend Soepardjo bukan untuk menjenguk Tomi Soeharto atau melaporkan perkembangan kepada “pemimpin gerakan G30S/PKI”, melainkan untuk memeriksa keberadaan dan keberpihakan Pak Harto. Pada siang hari naas tersebut, Latief sendiri mengunjungi rumah AH Nasution untuk memeriksa jam berapa dia akan ada di tempat sebab malam harinya Latief akan memimpin pasukan untuk membunuh AH Nasution. Jadi kunjungan Latief ke Pak Harto bukan kunjungan sosial, melainkan memang bagian dari persiapan akhir G30S/PKI.

17. Yang memanggil dua pasukan yang digunakan PKI untuk melakukan penculikan dengan perlengkapan tempur tingkat pertama adalah Pak Harto atas perintah Soekarno yang memberikan alasan agar peringatan hari ABRI menjadi lebih meriah dan semarak.

18. Hari-hari menjelang G30S/PKI tanda-tanda PKI akan memberontak semakin kuat, salah satunya adalah penulis Lekra, Anwar Sanusi menulis artikel pada tanggal 30 September 1965 untuk Harian Rakyat edisi 1 Oktober 1965 bahwa revolusi akan terjadi di Indonesia dan para kapitalis birokrat akan diganyang.

19. Perintah yang diberikan kepada pasukan penculik adalah tangkap hidup atau mati, dan bagi tentara perintah semacam ini hanya berarti hukuman mati adalah target primer sedangkan hidup orang yang diculik adalah pilihan sekunder. Demikianlah perintah daulat Soekarno kemudian menjadi perintah pembantaian para jenderal.

20. Berdasarkan dokumen yang ditulis oleh Brigjen Soepardjo kepada Omar Dhani pasca G30S/PKI, rencana yang akan diambil PKI apabila ternyata gerakan gagal adalah memutus hubungan partai dengan anggota gerakan sehingga hanya anggota partai yang terlibat gerakan yang dihukum sedangkan partai sendiri selamat.

21. Karena kuatnya pengaruh partai komunis saat itu, beberapa bulan menjelang G30S/PKI sebenarnya Pak Harto sudah ingin mengajukan pensiun dini, dan bahkan sudah mengirim surat kepada AH Nasution, namun permintaan tersebut ditolak oleh Soekarno.

G30S/PKI

1. Selama proses penculikan terjadi penyiksaan dan penganiyaan terhadap para jenderal, seperti dipopor wajahnya, ditembak dan kemudian diseret.

2. Pelaku penculikan adalah tentara angkatan darat yang sudah dimerahkan oleh Biro Chusus pimpinan Sjam, dan Pemuda Rakyat yang merupakan underbouw PKI dan didukung oleh divisi propaganda melalui Harian Rakyat dan Lekra, sehingga dapat dikatakan bahwa seluruh Committe Central PKI terlibat dalam G30S/PKI, dari DN Aidit sampai Njoto, dari Biro Chusus sampai Lekra dan Harian Rakyat.

3. Walaupun dijalankan oleh angkatan darat, akan tetapi G30S/PKI dirancang, dan dipimpin oleh sipil, yaitu Syam dari PKI. Belakangan Brigjend Soepardjo mengatakan bahwa alasan para perwira aktif dalam G30S/PKI setuju pimpinan Syam adalah karena mereka terlalu kagum dengan cerita keajaiban pada saat Partai Komunis China membalikan keadaan dari kondisi terdesak sampai dapat menyingkirkan saingannya, kuomintang.

4. Bukti terkuat G30S/PKI adalah pemberontakan dan bukan gerakan penyelamatan Bung Karno adalah pengumuman Letkol Untung di RRI yang intinya mendemisioner atau membubarkan kabinet Soekarno tanpa izin Soekarno dan kemudian menjadikan dirinya sebagai pemimpin Republik Indonesia yang baru.

5. Setelah diduduki oleh pasukan G30S/PKI, penjagaan terhadap RRI diserahkan kepada Pemuda Rakyat, organisasi underbouw PKI.

6. Sesungguhnya G30S/PKI direncanakan bergerak serentak di seluruh Indonesia, khususnya Sumatera dan Jawa, akan tetapi karena pemimpin gerakan adalah sipil yang tidak mengerti metode menggerakan pasukan, maka terjadi miskomunikasi dan koordinasi yang sangat buruk antara pelaku gerakan.

Pasca G30S/PKI

1. AH Nasution selamat karena kurangnya koordinasi di pihak penculik sehingga para penculik tidak bisa membedakan Piere Tendean dengan AH Nasution. Keberuntungan bagi AH Nasution berarti kiamat bagi G30S/PKI karena AH Nasution adalah satu-satunya perwira yang memiliki cukup kharisma yang dapat menandingi pengaruh  dari kharisma Soekarno di angkatan darat. Dalam proses menghancurkan PKI dan G30S/PKI nantinya memang dipimpin oleh Pak Harto, akan tetapi kekuatan menggerakan pasukan dan mengatasi politik-politik digerakan oleh AH Nasution. Misalnya, AH Nasution-lah yang memberikan usul untuk menggunakan perintah pangti (Soekarno, Supersemar) untuk membubarkan PKI. AH Nasution-lah yang menjadi Ketua MPR untuk meminta pertanggungjawaban Soekarno terkait G30S/PKI dan mencopot kedudukannya sebagai presiden seumur hidup beserta gelar-gelar lainnya.

2. Fakta di atas juga didukung dengan hasil penelitian RE. Elson yang menemukan fakta bahwa Pak Harto pada tahun 1965 adalah bukan primus inter pares (yang utama dari yang sederajat) di kalangan jenderal angkatan darat yang tidak memiliki pasukan, sebab dia hanya salah satu jenderal di antara banyak jenderal. Pak Harto baru berhasil mengkonsolidasikan kekuatan pada tahun 1970. Dengan demikian peristiwa-peristiwa pasca G30S/PKI tidak dapat dipertanggungjawabkan seluruhnya kepada Pak Harto.

3. CIA baru terlibat pada pemberantasan PKI dengan memberikan peralatan-peralatan komunikasi canggih, akan tetapi sebelumnya tidak terlibat.

4. Ketika DN Aidit dalam pelarian terdapat bukti kuat bahwa Soekarno berkomunikasi melalui surat dengan Aidit secara terus menerus, karena komunikasi seperti ini maka angkatan darat dapat melacak keberadaan DN Aidit dan mengeksekusinya. Secara hukum perbuatan Soekarno yang bersekongkol dengan buronan adalah perbuatan pidana.

5. Ketika Sarwo Edhie Wibowo mengejar PKI ke pedalaman Jawa, dia menggunakan strategi memanunggalkan rakyat dengan ABRI dalam memberantas PKI atau buronan komunis karena kekurangan pasukan mengingat kekuatan inti ABRI sedang berperang di Malaysia dan Sarwo Edhie waktu itu bekerja sama dengan rakyat yang pernah menjadi korban PKI, kemudian melatih mereka agardapat mengatasi PKI secara mandiri.

6. Berbeda dengan Soekarno yang memenjarakan orang tanpa pengadilan, pemerintahan Pak Harto justru mengadakan pengadilan yang terbuka untuk umum bagi para pelaku G30S/PKI, dan hal ini juga ditujukan untuk mencegah para komunis memutar balikan sejarah, sebab mereka memang sangat ahli dalam hal ini.

7. Seluruh anggota inti G30S/PKI yang diajukan ke muka sidang seperti Soebandrio, Untung, Soepardjo, Omar Dhani, dan lain-lain, tidak ada satupun yang menyatakan bahwa Pak Harto adalah anggota gerakan. Kisah Untung berharap Pak Harto menolongnya sebagai satu-satunya anggota gerakan yang tersisa baru muncul dari mulut Soebandrio setelah orde baru jatuh, dan sejak zaman orde lama seorang Soebandrio dan BPInya sudah terkenal sebagai pembohong dan penipu sehingga tidak layak dipercaya. Bahkan Latief tidak mengatakan Pak Harto terlibat G30S/PKI, dia hanya mengatakan Pak Harto sudah diberitahu tentang rencana G30S/PKI mendaulat dewan jenderal akan tetapi tidak melakukan apa-apa.

8. Pasca G30S/PKI banyak komponen rakyat dan mahasiswa termasuk angkatan bersenjata yang ingin mengadili Soekarno atas keterlibatannya dalam G30S/PKI, akan tetapi Pak Harto berhasil mencegahnya supaya kehormatan Soekarno tidak bertambah rusak.

9. Indonesia ketika itu tidak memiliki kesadaran untuk menyimpan dokumen asli, oleh sebab itu naskah asli proklamasi sendiri pernah dibuang Soekarno ke tempat sampah, tetapi dipungut oleh seseorang dan dianggap hilang hilang selama puluhan tahun dan baru ditemukan untuk dikembalikan pada negara tahun 1990. Demikian pula halnya dengan naskah Supersemar yang asli, akan tetapi Soekarno sendiri telah mengakui keberadaan Supersemar dan bahkan mengatakan bahwa Pak Harto sebagai pengemban supersemar telah melakukan amanah supersemar dengan baik.

10. Para ilmuwan komunis seperti Weirtheim, Ruth McVey dan Ben Anderson marah kepada Pak Harto karena membubarkan partai komunis di Indonesia sehingga mereka melakukan cara apapun untuk membersihkan nama PKI yang berlumur darah supaya PKI bangkit kembali. Penelitian-penelitian ketiganya yang hanya bersumber dari klipingan koran dan asumsi belaka tanpa dasar fakta seperti teori “konflik internal angkatan darat” atau “teori missing link” dari Weirtheim selalu diungkit oleh komunis Indonesia, terutama para eks Lekra.

11. Goenawan Mohamad dan Tempo adalah bagian dari klik komunis yang bermaksud membersihkan nama komunis dengan menyebarkan cerita-cerita atau teori-teori palsu seputar G30S/PKI. Demikian pula dengan komunitas Salihara bentukan Goenawan Mohamad adalah wadah berkumpulnya para eks Lekra untuk membangkitkan komunisme kembali menggunakan cara-cara yang pernah digunakan Lekra pada saat membangkitkan PKI setelah pemberontakan Madiun.

12. Carmel Budiardjo yang seharusnya dieksekusi mati karena terlibat G30S/PKI namun berhasil dibebaskan karena kewarganegaraannya, sekembalinya ke Inggris membentuk Tapol UK untuk mengkampanyekan PKI dan komunis Indonesia sambil mendeskriditkan dan mengadu domba antara warga negara Indonesia dengan pemerintahnya.


Hendra B

No comments: