Hasyim Asy’ari, Sang Kiai Revolusioner

13907853931390065622
Siapa sangka, kita yang sebagian besar terlahir setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia merasa kaget ketika mendengar maupun membaca bahwa salah satu tokoh yang merupakan sentral dari pertempuran 10 November adalah seorang kyai. Beliau adalah Kiai Hasyim Asy’ari pendiri pondok pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur sekaligus pendiri organisasi islam terbesar di Indonesia yakni Nahdlatul Ulama pada tahun 1926.
Di tahun 1945 saat tentara sekutu mendarat di berbagai wilayah Indonesia yang sejatinya untuk melucuti tentara Jepang dan membebasakan tentara sekutu yang ditawan oleh Jepang ini malah membelot dan kemudian ingin kembali memaksa menjajah indonesia kembali. Hal ini diketahui oleh Kiai Hasyim yang sering merasa galau akibat memikirkan kondisi bangsa ini. Sehingga dengan berjalannya sejarah beliau membentuk Barisan Hisbullah yang terdiri dari berbagai santri dan rakyat.
Sangat sedikit menemukan sosok Kiai yang dengan penuh pengorbanan memikirkan bangsa dan negara yang mana didalamnya tidak hanya berisi oleh orang islam melainkan orang dengan agama, suku dan budaya yang berbeda. Inilah Kiai Hasyim dengan sosok kesederhanannya berhasil menelurkan fatwanya tentang berjihad membela bangsa dan negara yang kemudian diikuti oleh sebagian rakyat Jawa Timur untuk mengusir penjajah dalam berbagai pertempuran di Surabaya Oktober-November 1945. Beliau sebelumnya disowani oleh utusan Bung Karno dari Jakarta, Bung Karno ingin bertanya tentang hukumnya membela negara, bukan membela agama ataupun islam tetapi negara. Kemudian Kiai Hasyim mengatakan bahwa membela negara hukumnya adalah fardu ain. Inilah yang membuat semangat arek-arek Surabaya membara untuk segera mengusir penjajah yang kembali merongrong kemerdekaan setelah proklamasi dibacakan Bung Karno sebelumnya.
Setelah itu beliau juga di sowani oleh Bung Tomo untuk meminta pendapat beliau tentang pidato yang akan disampaikan saat arek-arek Surabaya bertempur melawan penjajah. Dan akhirnya Bung Tomo dengan gagah berani berbicara di mimbar dan berhasil memekikan “Merdeka” dan “Allahu Akbar” di akhir orasinya. Sehingga rakyat dengan segala upaya berhasil melancarkan perlawanan yang sebagian kecil akibatnya dua jendral dari Inggris tewas.
Pada saat sebelum kemerdekaan, beliau juga sempat disowani Tan Malaka. Pada saat itu Tan Malaka merasa tertarik dengan gaya pengajaran Kiai Hasyim di pesantren Tebuireng saat Tan Malaka sebelum membentuk sekolah rakyat. Kiai Hasyim mengajari para santri untuk hidup mandiri tanpa bergantung orang tua yakni dengan cara berladang, bertani dan bahkan berternak sebagai sumber penghidupan para santri di pondok. Inilah yang kemudian membuat Tan Malaka merasa tertarik dengan beliau yang selanjutnya hal ini dipraktekannya di semarang dengan sekolah rakyatnya, yang kesemua insfrastruktur dari sekolah tersebut dari kerja keras peserta didik dan sumbangan saudagar. Kiai Hasyim juga mengatakan kepada Tan Malaka sebagai tokoh penganut sosialis saat itu, bahwa ada hubungan yang serasi antara sosialis dan islam. Yakni sosialis mengajarkan orang utuk bersikap adil dan melindungi kaum tertindas, kemudian islam-pun demikian disana terdapat zakat fitrah untuk dibagikan kepada rakyat miskin dan diajari untuk bersikap adil serta melindungi orang lemah.
Kyai kelahiran Jombang, Jawa Timur ini selama hidupnya pernah belajar diberbagai pondok pesantren di Jawa dan Madura bahkan sempat mendalami ilmu agama di Mekkah sampai beberapa tahun lamanya, sebagai contoh saat beliau mondok di tempat Kiai Sholeh Darat Semarang yang pada saat itu beliau bertemu dan kemudian berteman akrab dengan KH. Ahmad Dahlan pada saat remaja, yang merupakan pemimpin sekaligus pendiri Muhammadyah. Beliau berteman akrab sampai masa dewasa dan tuanya yang meskipun mereka berbeda pandangan tetapi rasa kerukunan dan kearifan yang beliau contohkan kepada para santri sungguh menakjubkan. Menurut beliau perbedaan adalah hal yang fitri sekali dan memang manusia didunia ini tidak ada yang sama oleh sebab itu harus saling mengerti dan memahami satu sama lain untuk membentuk tatanan kemasyarakatan yang rukun dan bersatu dalam melawan penjajah pada saat itu. Itulah yang kiranya bisa kita contoh dari para tokoh tersebut.
Dalam perjuangan memerdekakan Indonesia sebelumnya, Kiai Hasyim Asy’ari sempat menyerukan kepada rakyat Jombang untuk mogok kerja di perkebunan tebu milik Kolonial Belanda. Dengan alasan tanah yang dipakai sejatinya adalah milik rakyat, akan tetapi dalam praktiknya disewa Belanda dengan paksa yang kemudian rakyat sendiri memeras keringat dengan bekerja sehingga hasilnya disetorkan kepada Belanda dan rakyat hanya mendapatkan sebagian kecil dari hasil tersebut. Hati Kiai Hasyim merasa tak tega dengan keadaan tersebut sehingga ini dilakukan sebagai ladang perjuangan bagi beliau pada saat itu.
Kemudian banyak sekali rintangan dan halangan yang beliau hadapi saat itu, bahkan sampai pondok pesantren Tebuireng di bakar oleh Belanda. Memang perubahan dan perjuangan penuh dengan pengorbanan, dan Kiai Hasyim menyadari akan hal itu. Tak serta merta Kyai Hasyim merasa putus asa dan takut akan akibat yang di perolehnya, karena menurut beliau bahwa berjuang membela tanah air adalah hal yang semestinya dilakukan oleh semua orang di negara ini tanpa terkecuali.
Dengan mempelajari kisah dari para pendahulu bangsa salah satunya dari Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, inilah yang semestinya kita sebagai bagian dari negara ini sadar akan pentingnya perjuangan. Perjuangan untuk mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang positif, perjuangan untuk membela kaum-kaum tertindas serta perjuangan untuk menegakan keadilan. Dengan penuh dengan rasa kebhinekaan antara satu dengan lainnya untuk bersatu membangun negara agar senantiasa bisa maju dan makmur.

Exsan

No comments: