Mengenal Lebih Dekat Mujtahid Besar Pembaharu Pemikiran Dunia Islam : Ibnu Taimiyah(1262-1328 M)(03)
5.Kecerobohan Ibnu Batutah Ketika Mengisahkan Pertemuannya Dengan Ibnu Taimiyah.
Fitnah yang paling populer di kalangan umat Islam, pasca wafatnya Ibnu Taimiyah adalah tuduhan bahwa Ibnu Taimiyah termasuk penganut paham Anthrophormisme, Mujasimah atau Musyabihat. Tuduhan ini terus dilancarkan oleh musuh-musuh Ibnu Taimiyah. Tuduhan yang paling populer bahwa Ibnu Taimiyah adalah penganut Mujasimah, dilakukan oleh seorang pengembara terkenal, Ibnu Batutah dalam catatan kisah pengembaraannya yang diterbitkan hampir dua puluh tahun kemudian setelah wafatnya Ibnu Taimiyah(1328 M ).
Ibnu Batutah adalah seorang pengembara yang lahir di Kota Tangiers, Maroko pada tahun 1305 M. Pada usianya yang masih amat muda, dia memulai pengembaraannya pada tahun 1325 M.Dia kunjungi kota-kota penting di Afrika Utara, lalu mengunjungi Mesir, dan akhirnya tiba juga di Damaskus pada tahun 1326 M. Setelah tinggal beberapa bulan Ibnu Batutah melanjutkan perjalanannya menuju Makkah, Madinah, kemudian meneruskan perjalanannya ke Irak, Azerbaijan, Baghdad, Samarkand, Mosul, kembali lagi ke Bghdad. Selama tiga tahun antara 1327 – 1330 M, Ibnu Batutah tinggal di tanah suci, sehingga sempat melaksanakan ibadah Haji sampai tiga kali. Tahun 1330 M, Ibnu Batutah melanjutkan pengembaraannya lewat Laut Merah menuju Yaman, Aden, mengunjungi Somalia dan sejumlah kota pelabuhan di Pantai Timur Afrika. Dari sini perjalanan dilanjutkan ke Oman dan mengunjungi sejumlah kawasan di Teluk Persia. Dan pada tahun 1332 H, dia kembali mengunjungi Makkah guna menunaikan ibadah Hajinya yang ke empat.
Usai menunaikan ibadah Haji pada tahun 1332 M itu, Ibnu Batutah memulai lagi babak baru pengembaraannya. Kali ini ia menuju Mesir kembali, kemudian dari Mesir dilanjutkan pengembaraannya menuju Suriah, Asi Kecil, Asia Tengah bagian barat atau Golden Horde, terus berbelok ke Konstantinopel. Saat itu Konstantinopel masih merupakan Kota Kristen dan merupakan pusat pemerintahan Kekaisaran Romawi Timur.
Dari Konstantinopel, Ibnu Batutah melanjutkan perjalanannya dengan kembali ke Golden Horde, melanjutkan ke Transsoxania, Afghanistan, akhirnya tiba di Punyab India pada tahun 1333 M. Dari Punyab Ibnu Batutah melanjutkan perjalanannya menuju Kesultanan Delhi. Rupanya Kesultanan Delhi sangat menawan hatinya, sehingga Ibnu Batutah sempat tinggal hampir sepuluh tahun lamanya. Hubungannya yang baik dengan Sultan Kerajaan Islam Delhi, menyebabkan Ibnu Batutah mendapat mandat untuk menjalin persahabatan dengan tugas mengunjungi Samudra Pasai di Sumatra Utara dan Beijing di China. Kesempatan yang baik itu dimanfaatkan Ibnu Batutah untuk mengunjungi terlebih dahulu Kepulauan Maladewa, Sri Langka, Benggali sampai tiba di Assam.Baru dari sana dia melanjutkan perjalanan ke Samudra Pasai di Sumatra Utara dan Beijing di China. Dalam perjalanan pulang dari Beijing, Ibnu Batutah kembali menyinggahi Samudra Pasai(1347 M), sebelum melanjutkan perjalanannya kembali ke New Delhi. Dari New Delhi, Ibnu Batutah kembali melanjutkan perjalannya dengan menuju Malabar,kawasan Teluk Persia, Baghdad, Suriah, Mesir,akhirnya tiba di Makkah kembali untuk menunaikan Ibadah Haji yang ke lima kalinya. Usai menunaikan Ibadah Haji, Ibnu Batutah kembali ke Mesir dan tinggal beberapa bulan di sana. Pada tahun 1349 M, Ibnu Batutah meninggalkan Iskandariyah, menyeberang Laut Tengah menuju Sardinia, Tunisia, Aljazair, akhirnya tiba di Fez. Antara tahun 1352-1353 M, setelah mengunjungi Granada di Andalusia-Spanyol dan Marakezy, Ibnu Batutah menyeberangi Gurun Sahara menuju selatan dan tiba di Nigeria.
Ketika sampai di Nigeria, usia Ibnu Batutah sudah menginjak 50 tahun. Agaknya ini lah akhir dari pengembaraannya, yang dilakukannya selama seperempat abad lebih (1325 – 1353 M).Akhirnya Ibnu Batutah kembali ke kampung halamannya. Ibnu Batutah menuturkan kisah-kisah perjalanannya yang dengan tekun dicatatnya, sekalipun ada sebagian dari catatannya yang tercecer hingga hilang.
Tersebutlah ada seorang penguasa dari Marini, Abu Iyan namanya yang sangat tertarik dengan kisah-kisah pengembaraan Ibnu Batutah. Penguasa Marini itu kemudian menugaskan kepada seorang penulis terkenal, yaitu Ibnu Juza’i. Ibnu Jusa’I dengan tekun duduk manis mendengarkan penuturan Ibnu Batutah yang disampaikan berdasarkan catatannya, kemudian merekam dan mencatatnya.
Pada tahun 1355 M, Ibnu Juza’I berhasil menuliskan kisah-kisah pengembaraan Ibnu Batutah dalam bukunya yang bercorak sastra rihlah,”Tuhfat an-Nazzar fi Gara’ ib al-Amsar wa Afa’ib al-Asfar”(Hadian Hasil Pengamatan tentang Keunikan Negeri-Negeri dan Keanehan Perjalanan). Buku catatan perjananan Ibnu Batutah yang disadur oleh Ibnu Juza’I itu, kemudian disalin berkali-kali dan salinannya terkenal sebagai Rihlah Ibnu Batutah.
Sayang sekali karena ada catatannya yang hilang, tidak jarang Ibnu Batutah menuturkan kisahnya hanya berdasarkan ingatannya saja, terutama bila catatan mengenai hal yang diceriterakan itu hilang. Salah satu catatan yang agaknya hilang adalah kisah ketika Ibnu Batutah mengunjungi Suriah untuk pertama kalinya pada tahun 1326 M. Ibnu Batutah mengaku bahwa pada tanggal 9 Ramadhan 1326 M, dia bertemu dengan Ibnu Taimiyah yang tengah memberikan khutbah Jum’at di Masjid Al-Jami al-Amawi. Ibnu Batutah menceriterakannya dalam Kitab Tuhfat an-Nazzar yang ditulis Ibnu Juza’I sbb :
“Pada waktu itu saya datang di Damaskus, saya turut shalat Jum’at di Masjid Jami. Ibnu Taimiyah pada waktu itu ada di dalam masjid dan tengah memberi nasihat kepada orang banyak. Antara lain Ibnu Taimiyah berkata,’Bahwa Allah turun ke langit dunia seperti aku turun sekarang ini’. Berkata demikian itu, Ibnu Taimiyah sambil turun dari tangga mimbar ke bawah”.
Mengingat buku kisah perjalanan Ibnu Batutah, Tuhfat an-Nazzar yang ditulis Ibnu Juza’i, begitu populer, maka kisah pertemuan Ibnu Batutah di Masjid Jami Damaskus itu juga menjadi populer. Dari kisah Ibnu Taimiyah diatas seakan-akan memang benar Ibnu Taimiyah adalah seorang pengikut Mujasimah yang tengah menjelaskan sifat-sifat Allah sebagaima disebut dalam Al Qur’an sekaligus memperagakannya dengan turun dari mimbar. Adapun ayat tentang sifat-sifat Allah yang tengah dijelaskan itu adalah Ayat Al Qur’an yang berbunyi sbb: “Tuhan Yang Maha Pemurah Yang bersemayam di atas Arsy(QS. 20:5),Lalu Dia bersemayam di atas Arsy(Q.S 7:54,Q.S 10:3,Q.S 13:2,Q.S 25:59,Q.S 32:4,Q.S 57:4).
Benarkah Ibnu Taimiyah telah memeragakan sifat-sifat Allah dengan cara turun dari mimbar, sehingga Allah swt digambarkan sebagai memiliki sifat-sifat seperti manusia?.
Dari hasil penelitian, ternyata Ibnu Batutah dalam kasus ini ceroboh dan kurang cermat. Sejumlah kecerobohan dan ketidakcermatan Ibnu Batutah nampak jelas dari hal-hal sbb:
1. Ibnu Batutah tiba di Damaskus pada tanggal 9 Ramadhan 1326 M, dan belum pernah bertatap muka dengan Ibnu Taimiyah. Bukan hal yang mustahil, bila Ibnu Batutah memang sudah mendengar nama Ibnu Taimiyah yang saat itu memang sedang naik daun dan namanya sedang menjadi perbincangan publik. Bukan hanya karena Ibnu Taimiyah adalah tokoh yang amat populer di Damaskus dan Mesir. Tetapi Ibnu Taimiyah baru saja ditangkap dan dijebloskan ke penjara Damaskus, karena mengeluarkan fatwa tentang ziarah kubur yang dianggap bertentangan dengan pandangan yang dianut penguasa Dinasti Mamalik dan Ulama Syafii As’yariyah yang mendukung Pemerintah.
2. Ibnu Taimiyah ditangkap penguasa pada awal bulan Sya’ban 1326 M, sehingga saat Ibnu Batutah tiba di Damaskus, tidak mungkin bertemu dengan Ibnu Taimiyah di Masjid Jami Damaskus.
3. Khatib dan Imam Masjid Jami Al-Amawi, tempat Ibnu Bautah menunaikan kewajiban shalat Jum’at adalah seorang Khatib penganut Mashab Safii-As’yariyah yang namanya Jalaludin Muhammad bin Abdurrahman Al-Quzwaini yang tinggal di Dar Al-Chitabah.
4. Usai shalat Jum’at, dalam rangka membela kepentingan Pemerintah, Khatib Jalaludin inilah yang berbincang-bincang dengan khalayak guna menjelaskan paham Mujasimah yang menurut penguasa Dinasti Mamalik dan ulama Syafii- As’yariyah dianut oleh Ibnu Taimiyah yang belum lama berselang dijebloskan ke penjara untuk yang ke enam kalinya. Memang fatwa yang menyebabkan Ibnu Taimiyah dijebloskan kembali ke penjara yang ke-enam kalinya bukan soal penjelasan Ibnu Taimiyah soal sifat-sifat Allah, tetapi soal ziarah kubur. Bisa jadi pada saat itu Khatib Jalaludin sedang menerangkan kepada khalayak apa-apa yang dianggapnya sebagai dosa-dosa Ibnu Taimiyah dan salah satu dosa Ibnu Taimiyah yang dianggap paling besar ialah pandangan Mujasimahnya tentang sifat-sifat Allah.
5. Ibnu Batutah, bisa jadi menduga Khatib Jalaludin itulah yang dianggapnya Ibnu Taimiyah.
Demikianlah kecerobohan dan kekurang telitian Ibnu Batutah soal Ibnu Taimiyah yang berakibat fatal, karena orang kemudian mempercayai kisah Ibnu Batutah tersebut dan langsung menelannya mentah-mentah tanpa bersikap kritis dalam membaca suatu karya tulis.
Memang kisah pengembaraan Ibnu Batutah, ditulis oleh Ibnu Juza’i dengan gaya sastra rihlah, sebuah gaya penulisan prosa yang banyak dipakai para penulis Andalusia, saat mereka melukiskan pengalaman pribadinya pada saat menunaikan Ibadah Haji. Karena itu sebagai karya tulis, buku Rihlah Ibnu Batutah atau Tuhfat an-Nazzar tidak dapat disebut sebagai karya ilmiah. Bukan saja karena gaya penulisannya yang bergenre sastra rihlah. Tetapi banyak informasi yang ditulis hanya mengandalkan ingatan Ibnu Batutah saja, teruratama apabila pokok yang dikisahkan itu, catatannya tidak tersedia akibat hilang atau tercecer. Itulah sebabnya isinya terkadang mengandung hal-hal yang tidak masuk akal. Misalnya kisah Ibnu Batutah berjumpa dengan sejumlah wanita di suatu desa di India yang konon hanya memiliki satu payu dara saja.
Sungguh mengherankan bila buku yang kurang ilmiah itu, ditelan mentah-mentah begitu saja tanpa sikap kritis, termasuk informasi Ibnu Batutah bertemu dengan Ibnu Taimiyah yang ternyata keliru itu(To Be Continue).
Anwar H
Fitnah yang paling populer di kalangan umat Islam, pasca wafatnya Ibnu Taimiyah adalah tuduhan bahwa Ibnu Taimiyah termasuk penganut paham Anthrophormisme, Mujasimah atau Musyabihat. Tuduhan ini terus dilancarkan oleh musuh-musuh Ibnu Taimiyah. Tuduhan yang paling populer bahwa Ibnu Taimiyah adalah penganut Mujasimah, dilakukan oleh seorang pengembara terkenal, Ibnu Batutah dalam catatan kisah pengembaraannya yang diterbitkan hampir dua puluh tahun kemudian setelah wafatnya Ibnu Taimiyah(1328 M ).
Ibnu Batutah adalah seorang pengembara yang lahir di Kota Tangiers, Maroko pada tahun 1305 M. Pada usianya yang masih amat muda, dia memulai pengembaraannya pada tahun 1325 M.Dia kunjungi kota-kota penting di Afrika Utara, lalu mengunjungi Mesir, dan akhirnya tiba juga di Damaskus pada tahun 1326 M. Setelah tinggal beberapa bulan Ibnu Batutah melanjutkan perjalanannya menuju Makkah, Madinah, kemudian meneruskan perjalanannya ke Irak, Azerbaijan, Baghdad, Samarkand, Mosul, kembali lagi ke Bghdad. Selama tiga tahun antara 1327 – 1330 M, Ibnu Batutah tinggal di tanah suci, sehingga sempat melaksanakan ibadah Haji sampai tiga kali. Tahun 1330 M, Ibnu Batutah melanjutkan pengembaraannya lewat Laut Merah menuju Yaman, Aden, mengunjungi Somalia dan sejumlah kota pelabuhan di Pantai Timur Afrika. Dari sini perjalanan dilanjutkan ke Oman dan mengunjungi sejumlah kawasan di Teluk Persia. Dan pada tahun 1332 H, dia kembali mengunjungi Makkah guna menunaikan ibadah Hajinya yang ke empat.
Usai menunaikan ibadah Haji pada tahun 1332 M itu, Ibnu Batutah memulai lagi babak baru pengembaraannya. Kali ini ia menuju Mesir kembali, kemudian dari Mesir dilanjutkan pengembaraannya menuju Suriah, Asi Kecil, Asia Tengah bagian barat atau Golden Horde, terus berbelok ke Konstantinopel. Saat itu Konstantinopel masih merupakan Kota Kristen dan merupakan pusat pemerintahan Kekaisaran Romawi Timur.
Dari Konstantinopel, Ibnu Batutah melanjutkan perjalanannya dengan kembali ke Golden Horde, melanjutkan ke Transsoxania, Afghanistan, akhirnya tiba di Punyab India pada tahun 1333 M. Dari Punyab Ibnu Batutah melanjutkan perjalanannya menuju Kesultanan Delhi. Rupanya Kesultanan Delhi sangat menawan hatinya, sehingga Ibnu Batutah sempat tinggal hampir sepuluh tahun lamanya. Hubungannya yang baik dengan Sultan Kerajaan Islam Delhi, menyebabkan Ibnu Batutah mendapat mandat untuk menjalin persahabatan dengan tugas mengunjungi Samudra Pasai di Sumatra Utara dan Beijing di China. Kesempatan yang baik itu dimanfaatkan Ibnu Batutah untuk mengunjungi terlebih dahulu Kepulauan Maladewa, Sri Langka, Benggali sampai tiba di Assam.Baru dari sana dia melanjutkan perjalanan ke Samudra Pasai di Sumatra Utara dan Beijing di China. Dalam perjalanan pulang dari Beijing, Ibnu Batutah kembali menyinggahi Samudra Pasai(1347 M), sebelum melanjutkan perjalanannya kembali ke New Delhi. Dari New Delhi, Ibnu Batutah kembali melanjutkan perjalannya dengan menuju Malabar,kawasan Teluk Persia, Baghdad, Suriah, Mesir,akhirnya tiba di Makkah kembali untuk menunaikan Ibadah Haji yang ke lima kalinya. Usai menunaikan Ibadah Haji, Ibnu Batutah kembali ke Mesir dan tinggal beberapa bulan di sana. Pada tahun 1349 M, Ibnu Batutah meninggalkan Iskandariyah, menyeberang Laut Tengah menuju Sardinia, Tunisia, Aljazair, akhirnya tiba di Fez. Antara tahun 1352-1353 M, setelah mengunjungi Granada di Andalusia-Spanyol dan Marakezy, Ibnu Batutah menyeberangi Gurun Sahara menuju selatan dan tiba di Nigeria.
Ketika sampai di Nigeria, usia Ibnu Batutah sudah menginjak 50 tahun. Agaknya ini lah akhir dari pengembaraannya, yang dilakukannya selama seperempat abad lebih (1325 – 1353 M).Akhirnya Ibnu Batutah kembali ke kampung halamannya. Ibnu Batutah menuturkan kisah-kisah perjalanannya yang dengan tekun dicatatnya, sekalipun ada sebagian dari catatannya yang tercecer hingga hilang.
Tersebutlah ada seorang penguasa dari Marini, Abu Iyan namanya yang sangat tertarik dengan kisah-kisah pengembaraan Ibnu Batutah. Penguasa Marini itu kemudian menugaskan kepada seorang penulis terkenal, yaitu Ibnu Juza’i. Ibnu Jusa’I dengan tekun duduk manis mendengarkan penuturan Ibnu Batutah yang disampaikan berdasarkan catatannya, kemudian merekam dan mencatatnya.
Pada tahun 1355 M, Ibnu Juza’I berhasil menuliskan kisah-kisah pengembaraan Ibnu Batutah dalam bukunya yang bercorak sastra rihlah,”Tuhfat an-Nazzar fi Gara’ ib al-Amsar wa Afa’ib al-Asfar”(Hadian Hasil Pengamatan tentang Keunikan Negeri-Negeri dan Keanehan Perjalanan). Buku catatan perjananan Ibnu Batutah yang disadur oleh Ibnu Juza’I itu, kemudian disalin berkali-kali dan salinannya terkenal sebagai Rihlah Ibnu Batutah.
Sayang sekali karena ada catatannya yang hilang, tidak jarang Ibnu Batutah menuturkan kisahnya hanya berdasarkan ingatannya saja, terutama bila catatan mengenai hal yang diceriterakan itu hilang. Salah satu catatan yang agaknya hilang adalah kisah ketika Ibnu Batutah mengunjungi Suriah untuk pertama kalinya pada tahun 1326 M. Ibnu Batutah mengaku bahwa pada tanggal 9 Ramadhan 1326 M, dia bertemu dengan Ibnu Taimiyah yang tengah memberikan khutbah Jum’at di Masjid Al-Jami al-Amawi. Ibnu Batutah menceriterakannya dalam Kitab Tuhfat an-Nazzar yang ditulis Ibnu Juza’I sbb :
“Pada waktu itu saya datang di Damaskus, saya turut shalat Jum’at di Masjid Jami. Ibnu Taimiyah pada waktu itu ada di dalam masjid dan tengah memberi nasihat kepada orang banyak. Antara lain Ibnu Taimiyah berkata,’Bahwa Allah turun ke langit dunia seperti aku turun sekarang ini’. Berkata demikian itu, Ibnu Taimiyah sambil turun dari tangga mimbar ke bawah”.
Mengingat buku kisah perjalanan Ibnu Batutah, Tuhfat an-Nazzar yang ditulis Ibnu Juza’i, begitu populer, maka kisah pertemuan Ibnu Batutah di Masjid Jami Damaskus itu juga menjadi populer. Dari kisah Ibnu Taimiyah diatas seakan-akan memang benar Ibnu Taimiyah adalah seorang pengikut Mujasimah yang tengah menjelaskan sifat-sifat Allah sebagaima disebut dalam Al Qur’an sekaligus memperagakannya dengan turun dari mimbar. Adapun ayat tentang sifat-sifat Allah yang tengah dijelaskan itu adalah Ayat Al Qur’an yang berbunyi sbb: “Tuhan Yang Maha Pemurah Yang bersemayam di atas Arsy(QS. 20:5),Lalu Dia bersemayam di atas Arsy(Q.S 7:54,Q.S 10:3,Q.S 13:2,Q.S 25:59,Q.S 32:4,Q.S 57:4).
Benarkah Ibnu Taimiyah telah memeragakan sifat-sifat Allah dengan cara turun dari mimbar, sehingga Allah swt digambarkan sebagai memiliki sifat-sifat seperti manusia?.
Dari hasil penelitian, ternyata Ibnu Batutah dalam kasus ini ceroboh dan kurang cermat. Sejumlah kecerobohan dan ketidakcermatan Ibnu Batutah nampak jelas dari hal-hal sbb:
1. Ibnu Batutah tiba di Damaskus pada tanggal 9 Ramadhan 1326 M, dan belum pernah bertatap muka dengan Ibnu Taimiyah. Bukan hal yang mustahil, bila Ibnu Batutah memang sudah mendengar nama Ibnu Taimiyah yang saat itu memang sedang naik daun dan namanya sedang menjadi perbincangan publik. Bukan hanya karena Ibnu Taimiyah adalah tokoh yang amat populer di Damaskus dan Mesir. Tetapi Ibnu Taimiyah baru saja ditangkap dan dijebloskan ke penjara Damaskus, karena mengeluarkan fatwa tentang ziarah kubur yang dianggap bertentangan dengan pandangan yang dianut penguasa Dinasti Mamalik dan Ulama Syafii As’yariyah yang mendukung Pemerintah.
2. Ibnu Taimiyah ditangkap penguasa pada awal bulan Sya’ban 1326 M, sehingga saat Ibnu Batutah tiba di Damaskus, tidak mungkin bertemu dengan Ibnu Taimiyah di Masjid Jami Damaskus.
3. Khatib dan Imam Masjid Jami Al-Amawi, tempat Ibnu Bautah menunaikan kewajiban shalat Jum’at adalah seorang Khatib penganut Mashab Safii-As’yariyah yang namanya Jalaludin Muhammad bin Abdurrahman Al-Quzwaini yang tinggal di Dar Al-Chitabah.
4. Usai shalat Jum’at, dalam rangka membela kepentingan Pemerintah, Khatib Jalaludin inilah yang berbincang-bincang dengan khalayak guna menjelaskan paham Mujasimah yang menurut penguasa Dinasti Mamalik dan ulama Syafii- As’yariyah dianut oleh Ibnu Taimiyah yang belum lama berselang dijebloskan ke penjara untuk yang ke enam kalinya. Memang fatwa yang menyebabkan Ibnu Taimiyah dijebloskan kembali ke penjara yang ke-enam kalinya bukan soal penjelasan Ibnu Taimiyah soal sifat-sifat Allah, tetapi soal ziarah kubur. Bisa jadi pada saat itu Khatib Jalaludin sedang menerangkan kepada khalayak apa-apa yang dianggapnya sebagai dosa-dosa Ibnu Taimiyah dan salah satu dosa Ibnu Taimiyah yang dianggap paling besar ialah pandangan Mujasimahnya tentang sifat-sifat Allah.
5. Ibnu Batutah, bisa jadi menduga Khatib Jalaludin itulah yang dianggapnya Ibnu Taimiyah.
Demikianlah kecerobohan dan kekurang telitian Ibnu Batutah soal Ibnu Taimiyah yang berakibat fatal, karena orang kemudian mempercayai kisah Ibnu Batutah tersebut dan langsung menelannya mentah-mentah tanpa bersikap kritis dalam membaca suatu karya tulis.
Memang kisah pengembaraan Ibnu Batutah, ditulis oleh Ibnu Juza’i dengan gaya sastra rihlah, sebuah gaya penulisan prosa yang banyak dipakai para penulis Andalusia, saat mereka melukiskan pengalaman pribadinya pada saat menunaikan Ibadah Haji. Karena itu sebagai karya tulis, buku Rihlah Ibnu Batutah atau Tuhfat an-Nazzar tidak dapat disebut sebagai karya ilmiah. Bukan saja karena gaya penulisannya yang bergenre sastra rihlah. Tetapi banyak informasi yang ditulis hanya mengandalkan ingatan Ibnu Batutah saja, teruratama apabila pokok yang dikisahkan itu, catatannya tidak tersedia akibat hilang atau tercecer. Itulah sebabnya isinya terkadang mengandung hal-hal yang tidak masuk akal. Misalnya kisah Ibnu Batutah berjumpa dengan sejumlah wanita di suatu desa di India yang konon hanya memiliki satu payu dara saja.
Sungguh mengherankan bila buku yang kurang ilmiah itu, ditelan mentah-mentah begitu saja tanpa sikap kritis, termasuk informasi Ibnu Batutah bertemu dengan Ibnu Taimiyah yang ternyata keliru itu(To Be Continue).
Anwar H




No comments:
Post a Comment