Gelar Syiah Kuala Menurut peneliti
Ilustrasi peziarah di makam Syiah Kuala, di Gampong Deyah Raya, Banda Aceh | Foto: Taufik Ar Riffai/
Ahli epigraf dari Pasai menyebutkan ada kekeliruan pembacaan inkripsi pada makam Syiah Kuala oleh ahli
SYEKH Abdur Rauf As-Singkili yang lebih dikenal dengan sebutan Syiah Kuala merupakan ulama besar Aceh abad ke-17 Masehi. Lantas, bagaimana gelar Syiah Kuala versi catatan pada makamnya dan manuskrip?
Peneliti Sejarah Islam di Aceh, Taqiyuddin Muhammad mengatakan, Syiah Kuala atau Teungku di Kuala adalah sebutan popular untuk seorang ulama besar Aceh abad ke-17 M yang sangat dihormati di Nusantara sampai hari ini. Namanya Abdur Rauf bin ‘Ali, dan sering ditambahkan Singkel atau As-Sinkiliy.
“Menurut sejarawan, ia dilahirkan di Fansur Singkel pada 1024 H/1615 M, dan meninggal dunia pada hari Jumat tahun 1105 H/1693 M. Makamnya berada di Gampong Deyah Raya, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh,” ujar Taqiyuddin Muhammad dalam artikelnya berjudul “Gelar Syiah Kuala pada Makam dan Manuskrip” yang dilansir misykah.com.
Dalam artikel itu, Taqiyuddin mengutip penjelasan Herwandi dalam karya ilmiah yang diajukan untuk meraih gelar Doktor dari Universitas Indonesia bidang Ilmu Pengetahuan Budaya Program Studi Arkeologi pada tahun 2002. Herwandi menyebutkan pada sebuah makam, di kompleks makam Syiah Kuala terdapat tulisan-tulisan yang antara lain adalah nama tokoh yang dikuburkan: Al-Waliy al-Mulkiy al-Haj Syeh ‘Abdurrauf as-Sinqiliy bin ‘Ali.
Dalam karya ilmiah bertajuk “Kaligrafi Islam pada Makam-makam di Aceh Darussalam Telaah Sejarah dan Seni (Abad XVI M - XVIII M)” itu, kata Taqiyuddin, Herwandi juga menyatakan, “Kalimat ini merupakan sebuah temuan baru yang menjelaskan lokasi kubur dan silsilah Abdurrauf.”
Selain Herwandi, menurut Taqiyuddin, penulis karya ilmiah lainnya yang membahas tentang inskripsi pada makam Syiah Kuala adalah Dahlia. Informasi diperoleh ATJEHPOST.com, Dahlia yang dimaksud Taqiyuddin merupakan ahli dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Banda Aceh.
Dalam artikel berjudul “Ulama-ulama Penyiar Islam Awal di Aceh (Abad ke-16 - 17 M)” yang dimuat Arabesk Nomor 2 Edisi XI, Juli - Desember 2011, kata Taqiyuddin, Dahlia membaca kalimat tersebut: Al-Waly al-Mulky al-Haj Syech Abdul Rauf bin Aly.
“Temuan dua ahli ini merupakan temuan yang sangat penting karena secara konkret membuktikan makam tersebut adalah makam ulama besar Syaikh Abdur Rauf bin ‘Ali, pengarang Mir’ah At-Thullab,” ujar Taqiyuddin.
Namun dengan tidak mengurangi penghormatan dan penghargaan atas kerja rintisan yang telah diberikan Herwandi dan Dahlia, Taqiyuddin yang ahli Epigraphi Arab merasa perlu meluruskan beberapa kekeliruan dalam pembacaan inskripsi yang dilakukan dua orang itu.
Menurut Taqiyuddin, bacaan inskripsi dari Herwandi menghasilkan 40 huruf Arab. “Bacaan Herwandi menghasilkan jumlah huruf Arab yang lebih banyak daripada yang terdapat pada inskripsi. Huruf-huruf pembentuk kata ‘as-sinqiliy’ sama sekali tidak ditemukan,” ujarnya.
Sedangkan bacaan Dahlia menghasilkan 32 huruf Arab. “Jumlah ini hampir tepat. Hanya saja Dahlia, begitu pula Herwandi, terkelabui oleh bentukan beberapa huruf kaligrafi sehingga menghasilkan bacaan yang kurang akurat,” kata Taqiyuddin.
“Jumlah huruf yang tepat adalah 33 huruf,” ujar peneliti dari Centre Informasi for Samudra Pasai Heritage (Cisah) Lhokseumawe ini.
Dalam artikelnya itu, Taqiyuddin juga mengutip kalimat “Al-Watsiq bil-Malik Al-Jaliy” dalam naskah manuskrip Mir’ah Ath-Thullab yang fotocopynya menjadi salah satu koleksi Museum Ali Hajsmy di Banda Aceh.
Kalimat tersebut kemudian diterjemahkan dalam Bahasa Melayu. Transkripsinya: “Ini kitab yang dinamai Mir’ah Ath-Thullab pada memudahkan mengetahui segala hukum syar’iyyah bagi Tuhan Yang Memerintahkan semua hamba-Nya dengan menyuruh dan menegah yaitu karangan faqir yang hina yang percaya kepada Tuhan Yang Memerintah lagi Yang Nyata Syaikh ‘Abdurrauf anak ‘Ali.”
“Al-Watsiq bil-Malik Al-Jaliy (yang percaya kepada Tuhan Yang Memerintah lagi Yang Nyata) yang tersebut pada makam dan manuskrip Mir’ah Ath-Thullab, dengan demikian, merupakan salah satu gelar yang disandang Syaikh ‘Abdurrauf bin ‘Ali atau Syiah Kuala,” ujar Taqiyuddin.
Taqiyuddin menambahkan, pada satu makam lain di sisi timur makam Syiah Kuala juga ditemukan inskripsi yang menyebutkan nama dan tarikh wafat tokoh yang dimakamkan.
Adapun terjemahan inskripsi tersebut, menurut Taqiyuddin, berbunyi: “Inilah kubur yang maharaja (Banusi/di Nusi?) yang terkenal dengan [sebutan] Orang Kaya Sri Maharaja Lila meninggal pada malam Jum’at, hari kedua dari bulan Sya’ban pada tahun seribu seratus empat belas (1114) [hijriah]”.
Menurut dia, penanggalan tersebut jika dikonversikan ke masehi maka hasilnya: “Hari Jumat, 22 Desember 1702 M”.[]
IRMAN LP AP




No comments:
Post a Comment