“Kampung” Ternate di Negara Filipina

Nama Ternate tidak lagi asing ditelinga masyarakat. Hal ini karena Ternate tidak hanya terdapat di provinsi Maluku Utara yang dikenal dengan kepulauan rempah-rempah. Akan tetapi nama Ternate juga merupakan salah satu desa/ kampung yang ada di kecamatan Alor Barat Laut, kabupaten Alor, provinsi Nusa Tenggara Timur, nama Ternate juga bisa kita temui di Kota Manado yaitu Kampung Ternate Baru. Hal yang sama nama Ternate juga bisa ditemui di salah satu Negara tetangga Indonesia yaitu Filipina. Di bawa ini saya sedikit mengulas tentang sejarah orang Ternate yang terdapat di Negara Filipina dengan merujuk pada sumber-sumber sejarah.

Ternate yang terdapat di provinsi Cavite, Filipina didirikan oleh orang-orang “Mardica”, yakni salah satu puak Melayu yang berasal dari Pulau Ternate dan Tidore yang dibawa oleh Spanyol ke Filipina untuk melawan bajak laut Limahong dari Tiongkok meskipun ancaman ini tidak terbukti. (baca bajak laut Limahong). Orang ” Mardica atau Mardijker” adalah masyarakat Kristen Portugis yang bermukim di sekeliling benteng Portugis di Ternate merupakan suatu keragaman dari keseluruhan wilayah. Kemudian yang harus ditekankan adalah bahwa kaum mestizos dan mardika Portugis tidak hanya terkait dengan agama Katolik, tetapi juga mencoba untuk mengasimilasi kebudayaan Portugis pada wilayah bahasa dan pakaian.

Di Ternate sejak awal abad ke-17 terdapat Kristen pribumi (Mestizos) atau disebut “Eropa kulit hitam”, mencakup seluruh orang pribumi beragama Kristen Katolik termasuk berbagai bangsawan Ternate yang konversi agama Kristen dan kebudayaannya mengikuti pola budaya Eropa (Portugis/ Spanyol juga di sebutkan Belanda). “Mestizos” adalah nama yang diberikan oleh orang Melayu untuk orang Kristen keturunan Portugis yang berbicara menggunakan bahasa Melayu. (Bandingkan juga dengan karya; Andaya, 1993; Wallace, 1871). Dan bermukim di sekeliling benteng Portugis di wilayah Ternate dan Tidore. Ketika benteng Portugis di Tidore jatuh di tahun 1605, Belanda mengirim pergi masyarakat Portugis yang berjumlah 400 orang menuju Manila. (Fraassen, 1987)

Dapat dipastikan sebagian kelompok Prtugis, mestizos, mardika, dan inlandse christenen dari Tidore pergi menuju Manila di tahun 1605 dan kemudian akan kembali lagi ke Maluku di tahun 1606 bersama dengan Spanyol, sehingga masyarakat Kristen Spanyol di Ternate dari periode 1606-1663 hampir seluruhnya adalah berasal dari masyarakat lokal (Maluku). Pada kenyaataannya, Spanyol juga membawa serta penduduk Pampango atau orang Pampang, dimana mereka merupakan masyarakat bebas dari daerah sebelah utara Manila yang telah dibaptis dan mereka bermukim di wilayah mardjiker yang diperkuat Gam-ma-lamo. Pada kategori ini secara umum akan mencakup mestizos, inlandse christenen, dan orang Pampang. Ketika kekuasaan Spanyol ternyata jatuh, Kristen pribumi turut pergi ke manila bersama kaum “mardjiker” (Wessels, 1935). Juga mardjiker Spanyol berpindah ke sisi Ternate dan menjadi Muslim, yang difasilitasi suatu bagian mardjiker yang berasal dari Islam-Ternate dan/atau menikahi wanita Ternate. Pada saat Spanyol meninggalkan Ternate di tahun 1663, sekitar 200 orang mardjiker turut pergi ke Manila. (Fraassen, 1987) Sejak saat itu kita dapat menemukan beberapa masyarakat yang dibangun dekat Cavite di sebelah selatan pantai Manila, dimana ditemukan Kampung Ternate dari Maluku (Utara), keturunan Merdicas yang kemudian dikenal sebagai Caviteño atau Ternateño Chavacano.
Irfan A

No comments: