Kisah Nabi Samson

Sebagaimana cerita Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis, Nabi Syam'un pernah merobohkan pilar-pilar istana yang kokoh dengan hanya kedua tangannya. Dengan senjata berupa tulang rahang hewan, ia banyak menewaskan musuh-musuh Allah. Selanjutnya, nabiyullah ini bernazar untuk beribadah selama seribu bulan hingga ajalnya tiba.
Saat Rasulullah SAW menceritakan kisah Nabi Syam'un kepada para sahabatnya, turunlah Malaikat Jibril dengan membawa wahyu, yakni surah al-Qadr ayat 1-5. Dalam kalam-Nya itu, Allah menjelaskan tentang keutamaan malam kemuliaan yang hanya bisa didapatkan pada bulan Ramadhan. Pahala bagi Muslim yang beribadah pada malam itu lebih baik daripada ibadah yang dilakukan Nabi Syam'un seribu bulan.
Dikisahkan dalah Qishashul Anbiyya, pada suatu malam Ramadhan, Rasulullah SAW sedang berkumpul dengan para sahabat. Tiba-tiba, Nabi SAW tersenyum sendiri.
“Wahai Rasulullah, mengapa engkau tersenyum sendiri?” tanya seorang dari mereka.
Rasulullah SAW menjawab, “Telah diperlihatkan kepadaku bahwa pada hari kiamat, ketika seluruh manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar, ada seorang nabi yang membawa pedang, dan tidak mempunyai umat atau pengikut satu pun. Ia adalah Syam’un al-Ghazi.”
Nabi Syam’un al-Ghazi berasal dari kalangan Bani Israil yang kemudian diutus oleh Allah di tanah Romawi. Ia memiliki rambut yang sangat panjang. Bilamana ia berdiri, rambutnya sampai menyentuh tanah.
Nabi Syam’un al-Ghazi selalu menyampaikan risalah dari Allah SWT. Kepada umatnya, ia selalu mengingatkan bahwa “Laa ilaaha illa Allah”, tiada yang berhak disembah selain Allah. Sementara itu, pengaruh kebudayaan pagan Romawi menyebabkan banyak orang menyembah berhala.
Allah mengaruniakan nabi-Nya ini mukjizat seperti Nabi Daud, yakni mampu melunakkan besi. Ia juga dimampukan untuk merobohkan bangunan tinggi.
Namun, tidak ada orang yang menjadi pengikutnya, termasuk dari kalangan Bani Israil. Sebab, pada waktu itu orang-orang hanya mau mengikuti sosok yang kaya raya, bukan kuat perkasa.
Nabi Syam'un tidak menyerah. Ia pun terus berdakwah. Akhirnya, para petinggi Bani Israil mulai resah. Mereka sepakat untuk tidak melawan Nabi Syam'un secara langsung, apalagi dengan kekerasan, karena sudah pasti akan kalah.
Kemudian, mereka mendekati istri Nabi Syam'un secara diam-diam. Wanita ini terkenal gemar berfoya-foya sehingga mudah disuap dengan harta yang banyak.
"Wahai perempuan, apakah kamu tahu bahwa suamimu telah membuat kami khawatir?" tanya seorang tokoh Bani Israil yang biasa dipanggil 'raja.'
“Tahu, Raja,” jawabnya.
“Aku ada tawaran untuk kamu. Jika kamu bisa tahu kelemahan suamimu, dan berhasil membuatnya lemah, kami akan beri kamu banyak perhiasan, emas, dan permata untukmu,” kata Raja
“Iya Raja, saya siap,” jawab istri Syam’un.
Mereka memberikan kepadanya sebuah tali pengikat yang kuat. Pada malam pertama, istri Nabi Syam’un melihat suaminya shalat sampai malam sekali. Wanita tersebut pun mengantuk karena kelamaan menunggu. Ia pun gagal melaksanakan misinya.




No comments:
Post a Comment