Bahasa adalah Identitas

Satu dari sekian motif yang mendasari perumusan kamus tersebut adalah melestarikan dan melindungi bahasa Arab.
Satu dari sekian motif yang mendasari perumusan kamus tersebut adalah melestarikan dan melindungi bahasa Arab.

Kajian dan studi terhadap leksikografi akan lebih lengkap dengan pembacaan terhadap atmosfer yang menyelimuti perkembangan perkamusan Arab.

Apa yang terjadi di balik dan pra-penyusunan kamus itu, pada faktanya berkontribusi besar pada corak, karakter, dan sistematika, termasuk metode yang digunakan oleh penyusunnya masing-masing.

Satu dari sekian motif yang mendasari perumusan kamus tersebut adalah melestarikan dan melindungi bahasa Arab itu sendiri dari kepunahan. Faktor ini tentu tidak bisa diabaikan. Pada abad pertengahan, di era kejayaan Islam, transformasi keilmuan berkembang pesat.

Berbagai entitas budaya saling berdialektika, bersinggungan, tak jarang saling berakulturasi, lalu melebur. Di satu sisi memang sangat positif, tetapi keresahan akan memudarnya identitas juga timbul beriringan.

Kekhawatiran inilah yang dirasakan oleh al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi (100-170 H/ 718-786 M), pakar leksikografi Arab paling awal ketika menulis mahakaryanya, Al-'Ain. Karya ini bisa dibilang monumental.

Sebelumnya, sempat muncul dugaan bahwa kamus al-'Ain bukanlah buah memikiran asli al-Farahidi, tetapi pendapat yang kuat menyatakan kamus tersebut murni besutannya. Memang, kamus ini disempurnakan kembali oleh muridnya, yaitu al-Laits bin al-Mudhaffar al-Kanani, setelah al-Farahidi meninggal.

Bukan hanya kamus perdana, tetapi juga menjadi acuan standar harakat (tanda vokal dalam tulisan Arab) dan penemuan al-'arud (studi prosodi Arab). Karyanya juga membentuk dasar untuk musikologi dan prosodi dalam bahasa Persia, Turki, dan Urdu.

Tetapi, tengoklah kisah di balik penyusunan kamus ini. Dalam mukadimah kamusnya, al-Farahidi mengisahkan motif yang melatarbelakangi agenda besarnya itu.

Perluasan wilayah menyebabkan terbukanya cakrawala di dunia luar, bukan hanya budaya, tetapi juga bahasa. Sebagai konsekuensi, kesalahan penggunaan bahasa Arab (lahn)semakin marak.

Jika langkah konkret tidak ditempuh, bukan tidak mungkin maka penduduk Arab sendiri akan lupa bahasa mereka.

Pengaruh yang lebih ekstrem lagi, ketidakmampuan masyarakat Arab berbahasa sesuai tradisi dan kaedah lama yang baku, berdampak buruk pada pemahaman Alquran, yang nontabene berbahasa Arab. “Aku ingin menginventaris kata berikut maknanya yang baku dan asing,” katanya seperti tertulis di mukadimah.

Keresahan yang sama juga dibaca dengan baik oleh Ibnu Mandhur (w 711 H/1312 M). Pemilik nama lengkap Jamal ad-Din Muhammad bin Mukarram bin Mandhur ini tidak ingin tinggal diam melihat perbendaharaan kata yang semakin membludak.

Fenomena ini tentu sulit dibendung. Penyebabnya nyaris sama dengan apa yang dikhawatirkan oleh al-Farahidi, yakni persinggungan Islam dengan dunia luar.

Kamus yang terdiri dari delapan puluh ribu materi kata itu memang tidak berangkat dari titik hampa. Ibnu Mandhur merujuk pada lima kitab kamus yang pernah ditulis sebelumnya, yaitu Tahdzib al-Lughah karya Abu manshur, Al-Muhkam karya Abu al-Hasan Ali bin Isma'il, Al-Shihah karya al-Jauhari, Hasyiyat al-Shihah karya Ibnu Bari, serta An-Nihaya besutan Ibn al-Atsir.

Dalam mukadimah kamusnya itu, Ibnu Mandhur menuturkan, kamus ini ia susun untuk menjaga bahasa Arab yang memiliki akar kenabian nan kuat. Sebab, dengan bahasa inilah Alquran dan hadis diwahyukan.

Publik lebih tertarik menekuni bahasa asing ketimbang menguasai bahasa Arab. Perlahan, bahasa Arab justru tidak dilirik.” Aku memutuskan membuat kamus Arab yang mereka tertawakan, sama saat umat Nabi Nuh AS menertawakan pembuatan bahtera yang megah,” tutur Ibnu Manzhur.

Salah satu karakter bahasa adalah selalu berkembang mengikuti berbagai hal yang berdinamika saat itu. Bisa jadi mengekor pada kelaziman, popularitas, dan tak jarang merujuk pada “selera pasar”. Terlebih di era sekarang ini yang nyaris meniadakan sekat dan batas wilayah serta komunikasi antarnegara.

Maka, penyesuaian bahasa adalah keniscayaan, dengan tetap mempertahankan bahasa awal. Sebab, fungsi bahasa bukan sebatas alat komunikasi, tetapi bahasa adalah juga sebagai identitas suatu bangsa. 

 Nashih Nashrullah

No comments: