Fatima al-Nisaburiya Sang Guru Sufi
Tarian Sufi (ilustrasi).
Memilih jalan sufi meski dari keluarga istana.
Fatima al-Nisaburiya dikenal sebagai guru sufi dari Nishapu. Dia dilahirkan di Khurasan, sebuah daerah di daerah Iran. Fatima adalah anak bangsawan.
Fatima al-Nisaburiya adalah putri dari pangeran Balkh. Namun, kelimpahan kedudukan dan harta tidak menyilaukannya untuk mengambil jalan sufi.
Ia memilih meninggalkan harta dan dunia yang menaunginya untuk mempelajari tasawuf. Ia sering melakukan perjalanan spiritual ke Makkah dan Palestina.
Fatima al-Nisaburiya akhirnya menemukan guru sufinya di Mesir. Pertemuannya dengan Dhu al-Nun al-Misri membawanya menetap di bumi Mesir.
Menetap di Mesir, ia akhirnya dikenal sebagai guru sufi wanita Mesir. Sufi yang diyakininya sesuai dengan penafsiran Alquran dan tasawuf.
Fatima dikenal memiliki kemauan keras, mandiri, percaya diri, dan sering terlibat dalam kehidupan budaya elite sufi yang didominasi laki-laki ketika itu.
Memilih jalan sufi meski dari keluarga istana.
Dia pun memperjuangkan hak-hak wanita yang telah menikah tanpa harus meninggalkan kewajiban terhadap suami dan rumah tangganya. Berkat jalan sufinya yang total, gurunya Dhu al-Nun memberi gelar Fatima guru yang mulia.
Selain kepada Dhu al-Nun, Fatima juga berguru ke Abu Yazid Bistami dan Abu Hafz al-Haddad. Bistami tak ketinggalan memuji sosok Fatima sebagai seorang wanita yang menyampaikan kebenaran. Bistami menyebut Fatima lebih mengetahui stasiun spiritual dibandingkan dirinya.
Sosok Fatima di kalangan sufi juga terkenal sebagai sufi wanita di samping Rabiatul al-Adawiyah. Tak lain karena Fatima seperti halnya Muslimah lain, juga menjalani pernikahan. Fatima menikah dengan seorang sufi bernama Abu Hamid Ahmad bin Khadrawayh.
Awalnya, Fatima justru menawarkan diri untuk dinikahi Khadrawayh. Namun, sang sufi Khadrawayh menolak pinangan pertama Fatima. Tak menyerah, Fatima mengutus seseorang untuk menanyakan kesediaan Khadrawayh untuk kedua kalinya. Kali ini lewat utusan langsung dari ayahanda Fatima.
Akhirnya Khadrawayh menerima tawaran Fatima dan keduanya menikah. Suaminya membimbing Fatima dalam hal agama dan tuntunan ibadah. Namun, melihat kedekatan Fatima dengan sang guru, Bistami timbul cemburu dalam diri suaminya.
Fatima menjelaskan, "Suamiku, kamu dekat secara langsung denganku sementara Bistami dekat denganku secara spiritual. Kamu membangkitkan semangatku, Bistami membangkitkan cintaku kepada Tuhan."
Fatima juga mengamalkan kehidupan sufi yang sederhana. Harta kekayaan yang ia miliki dihabiskan untuk masyarakat miskin. Dia memikirkan bagimana kehidupan tetangganya juga bisa tertolong dengan keberadaannya.
Dalam sebuah kisah, seorang sufi terkenal Yahya bin Mu'dz al-Razi datang ke Balk setelah melakukan perjalanan dari Ray. Suami Fatima pun mengundang sang sufi besar itu untuk mampir ke rumahnya. Khadrawayh pun bertanya kepada istrinya, hidangan apa yang akan diberikan kepada tamu kehormatannya itu.
Fatima menyarankan untuk menyembelih 20 ekor kambing. Suaminya heran mengapa untuk menyambut seorang tamu ia harus menyembelih banyak hewan ternaknya.
Fatima beralasan ketika seorang guru menikmati kemewahan, maka tetangga dan lingkungannya pun harus turut menikmatinya pula.
Guru Fatima lainnya Abu Hafz al-Haddad juga memiliki pandangan tersendiri terhadap muridnya tersebut. Sebelum bertemu dengan Fatima, Hafz mengaku tak ada beban jika ada pertanyaan dan muridnya dari kalangan wanita.
Namun, semenjak bertemu dengan Fatima, Abu Hafz al-Haddad merasa takut bertemu dengan wanita. Ini karena kedalaman ilmu yang dimiliki Fatima.
Ajaran Fatima lainnya yang terkenal adalah ketika seorang wanita dari Balkh mengunjungi Fatimah dan menyatakan, "Saya ingin mencapai kedekatan dengan Allah dengan melayani Anda." Fatima menjawab, "Mengapa tidak mencari kedekatan kepadaku dengan melayani Allah?"
Ratna Ajeng Tejomukti
Fatima al-Nisaburiya dikenal sebagai guru sufi dari Nishapu. Dia dilahirkan di Khurasan, sebuah daerah di daerah Iran. Fatima adalah anak bangsawan.
Fatima al-Nisaburiya adalah putri dari pangeran Balkh. Namun, kelimpahan kedudukan dan harta tidak menyilaukannya untuk mengambil jalan sufi.
Ia memilih meninggalkan harta dan dunia yang menaunginya untuk mempelajari tasawuf. Ia sering melakukan perjalanan spiritual ke Makkah dan Palestina.
Fatima al-Nisaburiya akhirnya menemukan guru sufinya di Mesir. Pertemuannya dengan Dhu al-Nun al-Misri membawanya menetap di bumi Mesir.
Menetap di Mesir, ia akhirnya dikenal sebagai guru sufi wanita Mesir. Sufi yang diyakininya sesuai dengan penafsiran Alquran dan tasawuf.
Fatima dikenal memiliki kemauan keras, mandiri, percaya diri, dan sering terlibat dalam kehidupan budaya elite sufi yang didominasi laki-laki ketika itu.
Memilih jalan sufi meski dari keluarga istana.
Dia pun memperjuangkan hak-hak wanita yang telah menikah tanpa harus meninggalkan kewajiban terhadap suami dan rumah tangganya. Berkat jalan sufinya yang total, gurunya Dhu al-Nun memberi gelar Fatima guru yang mulia.
Selain kepada Dhu al-Nun, Fatima juga berguru ke Abu Yazid Bistami dan Abu Hafz al-Haddad. Bistami tak ketinggalan memuji sosok Fatima sebagai seorang wanita yang menyampaikan kebenaran. Bistami menyebut Fatima lebih mengetahui stasiun spiritual dibandingkan dirinya.
Sosok Fatima di kalangan sufi juga terkenal sebagai sufi wanita di samping Rabiatul al-Adawiyah. Tak lain karena Fatima seperti halnya Muslimah lain, juga menjalani pernikahan. Fatima menikah dengan seorang sufi bernama Abu Hamid Ahmad bin Khadrawayh.
Awalnya, Fatima justru menawarkan diri untuk dinikahi Khadrawayh. Namun, sang sufi Khadrawayh menolak pinangan pertama Fatima. Tak menyerah, Fatima mengutus seseorang untuk menanyakan kesediaan Khadrawayh untuk kedua kalinya. Kali ini lewat utusan langsung dari ayahanda Fatima.
Akhirnya Khadrawayh menerima tawaran Fatima dan keduanya menikah. Suaminya membimbing Fatima dalam hal agama dan tuntunan ibadah. Namun, melihat kedekatan Fatima dengan sang guru, Bistami timbul cemburu dalam diri suaminya.
Fatima menjelaskan, "Suamiku, kamu dekat secara langsung denganku sementara Bistami dekat denganku secara spiritual. Kamu membangkitkan semangatku, Bistami membangkitkan cintaku kepada Tuhan."
Fatima juga mengamalkan kehidupan sufi yang sederhana. Harta kekayaan yang ia miliki dihabiskan untuk masyarakat miskin. Dia memikirkan bagimana kehidupan tetangganya juga bisa tertolong dengan keberadaannya.
Dalam sebuah kisah, seorang sufi terkenal Yahya bin Mu'dz al-Razi datang ke Balk setelah melakukan perjalanan dari Ray. Suami Fatima pun mengundang sang sufi besar itu untuk mampir ke rumahnya. Khadrawayh pun bertanya kepada istrinya, hidangan apa yang akan diberikan kepada tamu kehormatannya itu.
Fatima menyarankan untuk menyembelih 20 ekor kambing. Suaminya heran mengapa untuk menyambut seorang tamu ia harus menyembelih banyak hewan ternaknya.
Fatima beralasan ketika seorang guru menikmati kemewahan, maka tetangga dan lingkungannya pun harus turut menikmatinya pula.
Guru Fatima lainnya Abu Hafz al-Haddad juga memiliki pandangan tersendiri terhadap muridnya tersebut. Sebelum bertemu dengan Fatima, Hafz mengaku tak ada beban jika ada pertanyaan dan muridnya dari kalangan wanita.
Namun, semenjak bertemu dengan Fatima, Abu Hafz al-Haddad merasa takut bertemu dengan wanita. Ini karena kedalaman ilmu yang dimiliki Fatima.
Ajaran Fatima lainnya yang terkenal adalah ketika seorang wanita dari Balkh mengunjungi Fatimah dan menyatakan, "Saya ingin mencapai kedekatan dengan Allah dengan melayani Anda." Fatima menjawab, "Mengapa tidak mencari kedekatan kepadaku dengan melayani Allah?"
Ratna Ajeng Tejomukti




No comments:
Post a Comment