Kezaliman Syi’ah Terhadap Ahlus Sunnah di Iran


basmallah

 iran-gantung
 Pelaksanaan hukum gantung di Iran sering dilakukan di depan umum

Pengantar
Maraknya Syi’ah di Indonesia tidaklah terlepas dari keberhasilan revolusi Iran tahun 1979. Didorong oleh semangat perjuangan Islam, banyak kalangan muslim, terutama kalangan pemudanya, terbawa semangat revolusi tersebut. Apalagi secara terbuka, kedutaan Iran di Jakarta berperan aktif mempropagandakan ajaran dan semangat Syi’ah lewat pembagian buku penerbitan majalah “Yaummul Quds”. Beratus pemuda berangkat ke Qum, untuk menggali ajaran Syi’ah dari sumbemya. Sekian tahun berikutnya, alumnus Syi'ah asembling Iran itu kembali untuk mengkampanyekan Syi'ah pada Masyarakat Indonesia.
Tidak banyak terungkap apa yang sebenarnya terjadi dengan Ahlu Sunnah di Iran. Ummat Islam di Indonesia khususnya, dan Dunia Islam pada Umumnya, dininabobokan oleh slogan "Pendekatan Syi'ah dan Sunnah" Dengan slogan tersebut, banyak berhasil menarik simpati Ahlu Sunnah, terutama yang punya semangat persatuan dan tidak banyak tahu tentang seluk beluk ajaran Syi'ah. Padahal kenyataan menunjukkan bahwa slogan tersebut hanyalah penipuan semata, karena yang terjadi di Iran - sebagai pusat Syi'ah - Ahlu Sunnah mendapatkan perlakuan keji dan biadab. Peristiwa kedhaliman kaum Syi "ah terhadap penduduk Ahlus Sunnah itu diungkapkan langsung oleh 'Abdul Mun’im bin Muhammad Al-Balusy – Seorang warga Iran Ahlu Sunnah – Yang lebih penting untuk diketahui, peristiwa itu terjadi ketika ummat Islam dimana-mana sedangmendapatkan perlakuan keji dari kaum Zionis dan Palangis.
Kami mohon maaf atas keterlambatan penerbitan buku ini, padahal informasi yang penting ini harus sudah sampai kepada ummat Islam beberapa waktu lalu, hal itu terjadi karena keterbatasan kami. Semoga kita sadar bahwa slogan saja tidak cukup, dan pelajaran yang bisa kita ambil agar kita kembali kepada ajaran Islam yang murni dan tidak tertipu oleh propaganda-propaganda sesat Syi’ah.
Semoga buku ini bermanfaat bagi kita dan menimbulkan kesadaran dan solidaritas kita kepada Ahlu Sunnah di Iran, yang prosentase jumlah mereka 25-30% dari seluruh penduduk Iran. Aamiin.
Kezaliman Syi’ah Terhadap Ahlussunnah di Iran
            Kaum Sunny di Iran menghadapi berbagai penindasan serta pemusnahan dengan berbagai cara, yang justru berlangsung sejak para Ayatullah menguasai pemerintahan sampai sekarang. Jangan diartikan bahwa halini secara otomatis hanya dialami kaumSunny diIran saja. Pendapat sepertiitu salah. Apalagi pendapat bahwa situasi seperti itu akan berakhir dengan sendirinya dengan musnahnya Ahlussunnah di Iran. Atau pendapat bahwa api peperangan hanya akan menyentuh semua orang Sunny di Iran saja. Karena jika dikaji sebab-sebab dan alasan terjadinya peperangan ini, kita akan mendapatkan suatu kesimpulan yang realistis, dimana tidak semua orang bisa menangkapnya, khususnya yang berkaitan dengan tujuan-tujuan mendasar dan merupakan asas Revolusi Iran itu sendiri, dan paling santer didengungkan para pemimpin Teheran yaitu mengekspor revolusi ke negara lain. Dimana undang-undang Iran telah mcnyebutkan hal ini secara explisit sebagaimana tertera dalam butir berikut ini : "Sesungguhnya tentara Republik Islam dan pasukan pengawal Revolusi tidak hanya bertanggung jawab menjaga perbatasan negara, melainkan di pundak merekapun ada tanggung jawab untuk mengemban missi aqidah, yaitu berjihad dan berjuang di jalan Allah untuk memperluas wilayah kekuasaan hukum Allah ke seluruh penjuru Dunia", Hukum Allah yang dimaksud oleh Revolusi Iran dan menjadi tujuan semestanya adalah madzhab Syi'ah Ja'fariyyah Itsna 'Asyariyyah. dimana berjuta-juta muslim Sunny hidup dalam kekangan dan penindasan mereka. Karena itu kita melihat bahwa dasar pemikiran ini akan melahirkan dampak yang besar terhadap sikap dan kebijaksanaan umum politik luar negeri yang diambil oleh pemerintah Iran.
Sesungguhnya dasar penyebaran revolusi sebagaimana yang menjadi tujuan pemimpin besar Iran, pada hakekatnya adalah berupaya untuk mewujudkan kekuasaan Syi’ah secara mendunia yang akan memiliki andil dalam membuat keputusan di suatu negara, minimalnya menjadi bahan pertimbangan dalam membuat keputusan di suatu negara, minimal menjadi bahan pertimbangan di negara tersebut. Dan revolusi ini tidak berhenti pada upaya propaganda dan penyebaran paham Syi'ah saja tetapi akan merembet terus kepada upaya pencaplokan serta penguasaan tanah air negara lain melalui pengarahan-pengarahan keagamaan, pemanfaatan faham Syi'ah dan tindakan-tindakan perlindungan terhadap hak para penganutnya untuk mewujudkan cita-cita politiknya.
Di antara bukti yang paling kuat untuk itu semua adalah bahwa : Sebelum muneulnya revolusi Iran yang dipimpin Khomaeni tidak ada satupun partai Syi’ah yang dipersenjatai dan bersikap menentang di seluruh negara Arab. Tetapi setelah kemenangan revolusi Khomaeni dan setelah mereka memegang kendali pemerintahan di Iran, kita dapatkan bahwa Syi'ah sudah berubah bentuk menjadi parpol-parpol yang selalu menentang dan militan menyamai pasukan militer yang punya loyalitas tinggi kepada pemimpin Iran.
Di Libanon, dengan menggunakan dalih untuk melindungi hak asasi kaum Syi'ah di sana mereka membentuk barisan Hizbullah. Mereka selalu mendapat bantuan material yang tidak kurang dari 150 juta dollar US pertahunnya. Itu semua demi kepentingan-kepentingan Iran atas tanah-tanah Libanon.
Dan dengan alasan dan dalih yang sama, didirikan pula Partai Persatuan Kaum Syi’ah (Wihdah As-Syiah) di Afghanistan. Partai ini telah berhasil memerankan peranannya sebagai kaki tangan Iran dengan baik dalam percaturan politik di Afghanistan, khususnya dalam mengambil keputusan-keputusan yang berkaitan dengan kepentingan Iran atas daerah teritorialnya.
Begitu juga dengan Partai Dawah (Hizbu Da’wah) di Iraq yang merupakan partai militan yang dipersenjatai dan telah berhasil membikin kekacauan di daerah Teluk pada saat berkecamuknya perang antara Iran dan Iraq. Sedang di Kuwait mereka berupaya membunuh Amir dan melakukan peledakan-peledakan bom.
Sedang di Arab Saudi, usaha kaum militan Syi'ah terlibat upaya pemboman atas Makkah Al-Mukarramah (semoga Allah melindunginya dari tangan-tangan jahil).
Di Bahrain, kaum militan Syi’ah telah berulang kali melakukan kudeta terhadap pemerintah yang masih meninggalkan kegelisahan, kekhawatiran dan rasa takut di masyarakat sampai sekarang. Dalam hal ini pemerintah Bahrain seeara resmi telah menggugat Iran atas keterlibatannya dalam kejadian-kejadian yang beriangsung di negaranya.
Di Pakistan, kaum militan Syi’ah yang dimotori oleh partai tentara Muhammad, barisan mahasiswa Imamiyyah, Barisan pengamalan Fiqih Ja'fari dan gerakan cita-cita rakyat Pakistan, punya andil besar atas pembunuhan para ulama terkemuka dan para pemimpin kaum Sunny di sana seperti Syaikh Ihsan Ilahy Dhohir, Syaikh Haq Nawaz Janky, Syaikh Itsar Al-Qosimy, Syaikh Dziaur Rahman Faruqy dan yang lainnya.
Sungguh, munculnya partai-partai dan barisan-barisan Syi'ah secara mendadak setelah menangnya revolusi Khomaeni dengan kekuatan dan jumlah yang demikian besar, padahal sebelumnya tidak ada satupun partai atau barisan itu, adalah indikasi kuat akan keterlibatan Iran dalam mensitir barisan-barisan yang ada dan memanfaatkannya untuk kepentingan politik mereka serta menunjukkan bahwa sesungguhnya tujuan Iran tidak hanya misi fiqhiyyah semata tetapi juga bertujuan untuk menjadikan barisan-barisan ini sebagai budak-budak dan tentara-tentara dalam mewujudkan ambisi politik mereka.
Barangkali adanya partai atau barisan ini hanyalah merupakan tujuan antara mereka dalam menjadikan Teheran sebagai sentral dan itu merupakan langkah persiapan untuk tujuan yang lebih besar lagi di masa mendatang yang tentunya dengan hasil jauh lebih besar dari apa yang sudah didapat sekarang.
Kita jangan lupa semboyan jalan ke Quds melewati kota Makkah dan Madinah dan semboyan pembebesan kota Haramain yang mulia dari pendudukan kaum Wahabi. Itulah diantara semboyan-semboyan yang didengungkan oleh Khomaeni, pemimpin revolusi Iran dan penasehat agungnya. Mereka tidak berhenti sampai di situ, mereka kerahkan seluruh potcnsi yang ada; pcrs, pendidikan dan militer untuk mewujudkan semboyan-semboyan tersebut agar mendapat dukungan dan tempat di hati setiap individu Syi’ah Iran. Tetapi keberadaan kaum Sunny yang tidak kurang dari 25 % dari penduduk yang ada selalu menjadi batu sandungan dalam upaya mewujudkan cita-cita besar yang selalu digembar-gemborkan oleh para pejabat Teheran. Hal ini terjadi karena antara Umat Sunny di Iran dan Umat Sunny di luar ada dalam satu ikatan aqidah dan termasuk dalam sasaran expansi Syi’ah. Karena itulah pemerintah mengelompokkan kaum Sunny dengan Batalyon V, setiap saat mereka selalu menunggu reaksi dari kaum Sunny Iran sesuai policy permusuhan yang bisa dimafaatkan untuk menindas kaum Sunny. Ditambah lagi dengan letak geografi Sunny Iran yang sangat strategis, hal itu bukan saja bisa menimbulkan kegelisahan dan ketakutan para pemimpin Teheran tetapi lebih jauh lagi bisa mengacaukan stabilitas kcamanan negeri tersebut dan bisa mengancam kemantapan dan keutuhan Hukum Syi’ah di Iran serta bisa menjadikan Teheran sebagai kuburan, yang akan mengubur impian-impian dan tujuan-tujuan para Pemimpin Teheran, yakni Invasi Teritorial terhadap wilayah Sunny, manakala orang-orang Sunny Iran bangkit menuntut hak-hak mereka, scbagaimana pemimpin Teheran menginstruksikan orang-orang Syi'ah untuk menuntut hak-hak mereka di Bahrain, Afganistan dll.
Para pemimpin Teheran menyadari bahaya kaum Sunny di negeri tersebut seperti Bom waktu yang bisa mengancam masa depan kepentingan politik dan aqidah mereka, baik di Iran ataupun di luar Iran.
Sejak awal kemunculan sampai saat ini, Syi’ah telah berusaha membersihkan Iran dari kaum Sunny dengan berbagai macam cara untuk memperkecil resiko akibat ledakan "Bom Waktu tersebut. Seperti yang telah kami sebutkan di atas: hal itu bukan saja mengacau kelangsungan impian dan tujuan mereka, tetapi lebih dari itu menghabisi para konseptornya. Pembersihan etnis itu dilakukan dengan bentuk dan metoda yang macam-macam, seperti : Ghazwul fikri (perang pemikiran), pencucian otak terhadap para cendekia muslim, sampai penangkapan serta pembersihan madzhab sebagaimana yang dilakukan oleh Serbia Bosnia terhadap kaum muslim di sana (etnis cleansing).
Sesungguhnya sistem politik yang digunakan Pemerintah seperti ini tidak memberikan satu kesempatan sekecil apapun kepada kaum Sunny, mereka mencabut semua hak-hak Sunny dari mulai kewarga negaraan, politik, urusan madzhab, ekonomi, pendidikan, laju pertumbuhan penduduk kaum Sunny, menghilangkan syiar-syiar Ahlus Sunnah walaupun berupa masjid dan sekolah-sekolah sampai sejarah pun tidak lolos dari rekayasa mereka untuk menghilangkan jejak Sunnah, belum lagi pembantaian terhadap para pemimpin danUlama Sunnah.
Semua yang telah kami sebutkan itu, sebagian gambaran realistis nestapa yang diderita kaum Sunny di Iran, ditambah dengan kebisuan kalangan pers, baik media cetak maupun media elektronik, dalam maupun luar negeri, terhadap kebiadaban ini karena ketatnya pemerintah terhadap Pers, sekalipun hanya untuk mengambil foto dan melakukan investigasi. Kita bisa mengatakan bahwa para penjahat Iran jauh lebih keji dan lebih ganas daripada para penjahat Serbia Bosnia dan Yahudi Palestina dilihat dari segi ketertutupan mereka terhadap pers seputar kebiadaban yang mereka lakukan. Agar supaya para pembaca mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang ekspedisi pembantaian keji tersebut, maka akan saya ketengahkan ke hadapan pembaca beberapa cuplikan pembantaian yang dilakukan pemerintah Teheran terhadap Sunny. Ekspedisi pemusnahan tersebut tidak dapat diredam jika Ahli Sunnah, baik di dalam maupun di luar Iran, tidak saling bantu dalam memblokade yang kuat dan tuntas, maka keadaan akan terus berlanjut untuk wilayah Sunny semuanya senasib - mudah-mudahan Allah tidak menaqdirkan - sebagaimana kesengsaraan yang sedang dialami oleh Ahlu Sunnah di Iran.
Berikut ini kami sampaikan ringkasan dari kisah pembantaian keji yang dilakukan pemerintah Iran terhadap kaum Sunny:
  1. Pembantaian para Ulama dan Da'i.
  2. Policy pemindahan penduduk (Transmigrasi) dan pembangunan pemukiman Syi’ah di daerah Sunny.
  3. Policy pembatasan keturunan (KB) dan pembatasan laju pertumbuhan penduduk Sunny.
  4. Pemusatan Angkatan Bersenjata di tangan Kaum Syi’ah.
  5. Larangan mendapatkan hak dalam perekonomian dan perindustrian.
  6. Ghazwul Fikri dan pembersihan kepribadian dan jati diri Sunny.
  7. Menjauhkan para pemuda Sunny dari medan peperangan.
  8. Penghancuran mesjid-mesjid dan sekolah-sekolah agama.
  9. Larangan memegang jabatan politik dan birokrasi
1. Pembantaian para Ulama dan Da’i

Kita mulai kisah 'pembersihan’ ini dengan 'penjagalan' dan pembantaian yang telah dilakukan oleh pemerintah Ayatullah Khomaeni terhadap para ulama Sunny dan para da'inya, baik yang ada di dalam negeri Iran ataupun yang ada di luar negeri dengan cara menggantung atau membunuh para ulama Sunny yang punya peran dalam dakwah Islam. Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa dakwah mereka menyentuh politik dan rezim Iran, maka pemerintah mengambil tindakan seperti yang dilakukan sekarang ini (pembantaian), padahal yang dimaksud dakwah Islam tersebut dan yang sekarang dilakukan para ulama Sunny di Iran adalah hanya terbatas pada penjelasan tentang hubungan manusia dengan Tuhannya dan kewajiban-kewajibannya terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tidak mengisyaratkan atau menyindir masalah politik pemerintahan, akan tetapi dakwah semacam inipun tidak melegakan dada penguasa Teheran.

Cukup bagi kita untuk mengetahui keganasan dan kekejian mereka bahwa menyampaikan ceramah tentang keutamaan-keutamaan seorang sahabat - semoga Allah meridhai kepada mereka, khususnya sahabat yang ada dalam black list mereka seperti Umar bin Khattab dan Muawiyyah semoga Allah meridhai kepada keduanya, hal ini cukup untuk mengeiuarkan si penceramah dari kediamannya ke dalam "rahmat penjagalan' mereka. Seperti yang dilakukan pemerintah Iran terhadap Syeh Dusat Muhammad yang berusia 60 tahun lebih, karena beliau telah menyususn sebuah buku kecil dengan judul : KEUTAMAAN UMMUL MUKMININ 'AISYAH RA, sebagai jawaban terhadap tuduhan-tuduhan Syiah dan propagandanya, baik melalui buku-buku terbitan mereka ataupun melalui media informasi. Ketika pemerintah mengetahui dicetaknya buku tersebut yang tentu saja buku tersebut tidak dicetak di Iran karena dilarang - lalu penguasa menangkap Syeh Dusat Muhammad dengan tuduhan telah mencetak buku tersebut, lalu beliau dipenjarakan selama empat tahun dan di dibuang ke Asfahan. Keputusan pengadilan tersebut tidak keluar kecuali setelah beberapa bulan menjalani siksaan cemeti algojo pemerintah Ayatullah. Jika demikian reaksi pemerintah Iran terhadap 'kakek tua' yang hampir mati dalam kasus pencetakan buku yang berjudul pembelaan terhadap Ummul Mukminin A'isyah ra, bisa dibayangkan oleh para pembaca kira-kira keganasan dan kekejian seperti apa yang mereka lakukan terhadap kalangan ulama dan da'i muda serta terhadap yang lainnya. Lebih-lebih terhadap orang yang sudah dicap dengan tuduhan yang lebih besar dari pada ini, seperti 'kaki tangan Amerika' atau dengan tuduhan sebagai pengikut Wahabi yang merupakan penjahat peringkat pertama di hadapan pemerintah Teheran.

Sesungguhnya 'pembersihan' para Ulama Sunny tersebut dimaksudkan pemerintah Iran untuk menciptakan agar Sunny tanpa pemimpin agama, untuk mempermudah pemerintah Teheran dalam proses penSyi’ahan Ahli Sunnah dan memasukkan mereka ke dalam aqidah Syi’ah sebagaimana yang dilakukan oleh para pendahulu mereka dari dinasti Shofawi dan mereka yang telah menerapkan politik tersebut (melibas dan membersihkan para ulama, para da'i, para cendekiawan dan para politikus Ahlu Sunnah) berhasil melakukan perubahan mendasar pada jumlah kaum Sunny di Iran dari yang asalnya mayoritas sebanyak 80% menjadi minoritas sebanyak 30% saja, sebagaimana hasil sensus sekarang. Yang lucu dan sekaligus menyakitkan bahwa pemerintah Iran dalam melakukan penangkapan dan eksekusi mati terhadap para ulama dan da‘i Ahli Sunnah ternyata setelah diteliti dengan seksama, mereka tidak memiliki alasan dasar yang kuat untuk itu, selain tuduhan menjadi pengikut Wahabi sebagaimana pengakuan mereka. Tuduhan Wahabi seperti ini biasa mereka arahkan kepada setiap Sunny yang memiliki aktivitas dakwah dan pendidikan di tengah kaum Sunnah, khususnya alumni Universitas Islam di Arab Saudi, ini cerita tcntang orang-orang yang tertangkap di dalam negeri.

Adapun nasib orang-orang yang berhasil lari dan hijrah ke luar negeri seperti Pakistan dan negara lain, maka pemerintah Iran tidak hanya mengusir mereka dari rumah dan kampung halaman mereka, tetapi mengejar mereka ke mana saja mereka hijrah dan membunuhnya, seperti nasib yang menimpa Syaikh Abdul Malik Malazadah, Abdul al-Nashr dan Jamsyid Zahi (Semoga Allah meridhai mereka berdua) yang terbunuh di tempat hijrah mereka di Pakistan, di kota Karachi bulan Syawal tahun 1416 H. Mereka dibunuh dengan cara yang menunjukkan gejolak kebencian yang memuncak pada pelakunya. Hal itu tampak pada cara yang sangat sadis yakni dengan menembak 90 kali tembakan pada masing-masing dari kedua mayat tersebut, ditambah dengan satu tembakan terakhir yang biasa dilakukan oleh para penembak khusus Iran yang mengarahkan tembakan tersebut ke bagian kepala sebagai penentu atas kematiannya.

Praktek pembunuhan tersebut tidak hanya terbatas pada pembunuhan terhadap para ulama saja, namun juga dilakukan untuk menghabisi nyawa orang awam dari Ahlu Sunnah dan juga terhadap orang-orang yang berhasil meloloskan diri ke daerah lain untuk menyelamatkan agamanya, juga tidak lepas dari hukuman mati seperti yang menimpa kepada Abdul Hamid An-Nutami yang dibunuh dengan cara diracun di rumahnya pada tahun 1415 H. Karena beliau termasuk salah seorang yang ditakuti oleh Iran dengan kedudukan beliau di kabilahnya (sukunya) yang telah mampu mengumpulkan kabilahnya berkali-kali dalam mengadakan perlawanan terhadap kejahatan yang dilakukan negara. Seperti juga Jumuah Salazarhi yang meningga1 di Pakistan tahun 1417 H. Setelah tiga hari diculik dari rumahnya, dengan bentuk pembunuhan yang sama.

Sungguh penggunaan bentuk penyiksaan keji seperti itu sebelum menghabisi korban dengan tembakan yang mematikan, tiada lain kecuali untuk menanamkan rasa takut dalam hati setiap orang yang coba-coba untuk menyalahi Aqidah Syi'ah dan setiap orang yang coba-coba menentang semua kebijakan yang dikeluarkan pemerintah, maka akhimya mereka menyerah terhadap semua kebijakan bagi pemerintah dengan melaksanakan segala yang mendatangkan kebaikan bagi pemerintah, seperti menjadi mata-mata atau kaki tangan pemerintah, baik di dalam Iran ataupun di Iuar. Cara pemerintah Iran melakukan penculikan seperti ini, tidak hanya di luar negeri saja tetapi juga dilakukan di da1am negeri, karena khawatir (kejahatan mereka) tercium media massa yang dipicu oleh operasi mereka di luar negeri, sehingga berakibat memburuknya hubungan diplomasinya dengan negara-negara tetangga yang Sunny. Karena itu pemerintah Iran berusaha untuk melaksanakan cara baru di dalam negeri tanpa melalui proses hukum dengan mengeksekusi korban secara langsung, tapi dengan tuduhan pencurian dan perampokan. Proses seperti inilah yang sebenarnya telah terjadi pada diri As-Syaikh Solih Dhiya'i di Bandar Abbas, Dr. Ahmad Mirin dan As-Syaikh Abdus Sattar Bazarkazadah, As-Syaikh Abdul Wahid Qolandarzahi di Balusytan, Ustadz Faruq Firsan di Kurdistan, As-Syaikh Al-Lihyari di Khurasan dan lainnya yang tidak dikenal identitas dan keadaan mereka seperti As-Syaikh Habibullah Husain di Balusytan.

Walhasil, sebenarnya operasi pembantaian para ulamadan da’i AhluSunnah, adalah politik pemerintah Iran yang intinya untuk menghapus ajaran Sunnah di tengah komunitas Sunny dan memaksakan aqidah Syi’ah terhadap mereka melalui cara keji seperti ini.
Berikut ini nama-nama para da’i yang dieksekusi mati, dibunuh dalam penculikan, dipenjara dan masih hidup sampai sekarang serta orang yang hilang di tangan penguasa dan tidak diketahui rimbanya sampai sekarang :

No.
Nama
Daerah Asal
Usia
Cara Pembunuhan
Thn.
Catatan
1.
Bahman
Syakuri
Thowalish
Tiga
Puluhan
Dibunuh
1989
Beliau seorang ulama ter­kemuka di daerahnya beliau Aktivis da’wah dari kala­ngan Ahlu Sunnah di sana, ditangkap dengan tuduhan Wahabi. kemudian dihukum mati.
2.
As-Syaikh Mau1awi Abdul Aziz Surbazy Balusytan
Balusytan
Tiga
Puluhan
Dibunuh
1989
Beliau salah seorang pe­mimpin besar Ahlu Sunnah di Iran, beliau berandil besar dalam menentang undang- undang khusus yang berkai­tan dengan hak-hak Ahlu Sunnah terutama dengan pertemuan-pertemuan yang diadakan dengan tujuan pembentukan undang-undang yang terkenal dengan sebutan pertemuan "Majlis Khobar Kan', dan beliau mempunyai pengaruh yang sangat besar diantara kaum Sunny di Iran dan Pakistan. Beliau adalah mudir Mad­rasah Diniyyah Zahi dan. Pemerintah takut, karenanya jika beliau memimpin ka­bilah-kabilah Balusytan yang bersenjata, dan tunduk terhadap perintah (Komando) beliau.Pembantai­an fisik terhadap para ulama Sunny bermula sepeninggal beliau yang dibunuh dengan cara suntikan beracun ketika beliau dalam perawatan dokter di kota Masyihad.
3.
As-Syaikh Abdul Wahab Khofi
Khurasan
Dua
Puluhan
Penganiayaan
1990
Beliau punya peran yang sangat nampak dalam me­nyebarkan problematika Sunnah di kalangan ummat Islam diluar Iran terutama sekali di Pakistan. Beliau dieksekusi 15 hari setelah kepulangan beliau dari Pakistan dengan tuduhan sebagai ‘pengikut madzhab Wahabi'.
4.
As-Syaikh Qudrotullah Ja'fari
Khurasan
Dua
Puluhan
Penyiksaan
1990
Beliau dieksekusi setelah kepulangannya dari belajar di Pakistan dengan tuduhan yang sama seperti yang dikenakan terhadap As- Syaikh ‘Abdul Wahab Khofi (Wahabi).
5.
As-Syaikh
Nashir Subhani
Kurdistan
Tiga
Puluhan
Penyiksaan
1992
Beliau adalah pemimpin Ahlu Sunnah di Kurdistan. Banyak menyampaikan kajian dan ceramah, ke­mudian beliau dieksekusi karena bantahan beliau terhadap Khomaini dalam bukunya ‘ Pemerintahan - Islam’ yang menghina Sayidina Umar dengan kata- kata yang keji dan kotor serta menuduh kafir, lalu beliau dibunuh di dalam penjara, dan tidak di­perbolehkan bagi sanak famili dan kerabatnya untuk melihat janazahnya atau untuk menshalatkannya.
6.
Dr. Mudhofaryan
Syiraz
Lima
Puluhan
Dibunuh
1992
Beliau termasuk cende­kiawan Syi’ah terkemuka yang berprofesi sebagai dokter ahlu bedah jantung dan beliau menjabat juga sebagai Ketua Ikatan Dokter di Syiraz kemudian beliau menganut madzhab Ahlu Sunnah Waljamaah dan merombak rumahnya men­jadi sebuah masjid. Karena pihak pemerintah pada waktu itu tidak mem­perbolehkan Ahlu Sunnah untuk mendirikan masjid di Syiraz. tapi setelah beliau menganut madzhab Ahlu Sunnah Waljama’ah maka banyak para pemuda Syi'ah masuk ke dalamnya, hal itu tentu saja menimbulkan kemarahan pemerintah dan menjadikan alasan untuk menahan beliau dan meng­eksekusinya, setelah sebelumnya beliau dibebaskan terlebih dahulu.
7.
Barqo’i
Teheran
Tujuh
Puluhan
Diracun
1992
Beliau adalah termasuk Pemuka Ulama Syi'ah dan peneliti yang ulung. Pene­litian beliau mengarah pada pengungkapan hakikat- hakikat madzhab Syi’ah sehingga beliau menjawab dan menjelaskan keboho- ngan setiap Idiologi serta Aqidah Syi’ah yang me­nyalahi Qur'an dan Sunnah. Beliau telah menyusun be­berapa buah buku tentang hal itu Jasa beliau adalah menterjemahkan kitab Minhajus Sunnah karangan Ibnu Taimiyah ke dalam bahasa Parsi, lalu beliau dimasukkan ke dalam penjara karenanya, kemudian akhirnya pemerintah menghabisi beliau kerena takut akan bahaya yang datang dari nya dengan cara meracuninya.
8.
As-Syaikh Ahmad Mufti Zaadah
Kurdistan
Lima
Puluhan
Penyiksaan
1993
Beliau pendiri pergerakan Sunny pertama kali di Iran yang diberi nama Syuraya Syams. dan beliau juga pendiri pergerakan Pemuda 'Al-Qur'an " yang dinisbatkan kepada materi yang bahasan di dalam kajian tafsir Al-Qur"an Al-Karim. Beliau telah mengambil perjanjian dengan Khomaeni sebelum sukses revolusinya untuk menguasai wilayah Kurdistan dan me­nahan warganya agar tidak memisahkan dari Iran. Khomaeni berjanji akan menjamin hak-hak Ahlu Sunnah Waljama’ah dalam undang-undang dan mem­berikannya dengan sempurna tanpa membedakan antara Sunny dan Syi’ah. Akan tetapi Khomeini mengkhianatinya, sehingga beliau memimpin oposisi Ahlu Sunnah menentang undang-undang negara, lalu beliau dipenjarakan karena­nya dan dikeluarkan be­berapa hari kemudian setelah 10 tahunv lalu beliau di­bunuh.
9.
As-Syaikh Abdus
Sattar Bazarkazadah
Balusytan
Enam
Puluhan
Diracun
1993
Beliau musyrif (Penang­gung jawab ) dan Imam besar di kota Iran Syahr Balusytan. beliau selalu menolak permintaan pemerintah agar para pemuka agama Syi'ah diperbolehkan menyam­paikan materi keagamaan di masjidnya, kemudian beliau ditahan dan dilepas setelah diberi suntikan beracun, lalu beliau meninggal beberapa hari setelah pembebasaannya.
10.
As-Syaikh
Dhiyaa’i
Hurmuzkan
Lima
Puluhan
Dibunuh
1994
Beliau pemilik sekolah yang cukup besar di wilayahnya dan mempunyai pengaruh di masyarakat. dan sering diancam pemerintah agar menutup sekolahnya tetapi beliau menolaknya. Beliau dibunuh dengan satu peristiwa yang direkayasa oleh mereka setelah be­berapa hari dalam tahanan dan jenazahnya yang mulia dilempar ke jalan umum.
11.
As-Syaikh
Al-Lahyari
Khurasan
Empat
Puluhan
Diracun
1994
Beliau mempunyai peran besar dalam bidang penterjemahan buku-buku Islam ke dalam bahasa Parsi Beliau dibunuh setelah disuntik dengan jarum beracun.
12.
As-Syaikh
Dr. Ahmad Mirin
Balusytan
Lima
Puluhan
Dibunuh
1996
Beliau meraih Doktor Hadits dari Universitas Islam di Madinah Al-Munawwarah. Beliau memimpin sekolah agama di kota Zar Abad. Beliau ditangkap di lapangan udara sepulangnya dari Dubai kemudian selang beberapa hari jena­zah yang mulia dilempar di jalan umum. Seperti biasanya pemerintah menolak adanya keterlibatan pemerintah dalam peristiwa tersebut.
13.
As-Syaikh
Malik
Abdul Mulazadah
Balusytan
Empat
Puluhan
Dibunuh
1996
Beliau adalah anak pertama Syaikh Maulawi Abdul 'Aziz dan beliau Lulusan Universi­tas Islam Madinah Al-Munawwarah. Memiliki kegiatan dakwah yang menonjol di tengah - tengah Mahasiswa dan Cende­kiawan Iran sebagaimanan beliau mempunyai kedudu­kan yang mulia sepeninggal ayahnya di antara kabilah Balusytan. Lalu beliau hijrah ke Pakistan setelah men­dapatkan tekanan yang sangat kuat dan juga beliau memiliki aktivitas dan peranan yang sangat penting dalam menjelaskan aqidah Sunnah di dunia Islam de­ngan cara mencetak buku- buku kecil dan buletin-buletin yang berkaitan de­ngan masalah tersebut, beliau dihadapkan dengan beberapa percobaan pem­bunuhan di Pakistan dan yang terakhir adalah di kota Karachi dibunuh ketika beliau mengendarai mobilnva.
14.
As-Syaikh
Nashr
Jamsyid
Zahi
Balusytan
Dua
Puluhan
Dibunuh
1996
Hijrah ke Pakistan setelah rumah beliau diserang Ang­katan Penjaga Revolusi. kemudian bermulazamah (tinggal untuk menimba ilmu) pada Syaikh ‘Abdul Malik, sampai terjadi perisiwa pembunuhan terhadap dirinya dan diri syaikh 'Ab­dul Malik. Semoga Allah memberikan rahmat kepada keduanya.
15
As-Syaikh Abdus
Sattar
Balusytan
Lima
Puluhan
Diracun
1996
Beliau adalah termasuk salah seorang Imam masjid yang berpengaruh di kota Khosa di Balusytan, ditangkap dari rumahnya dan meninggal di penjara setelah disuntikkan racun ke dalam tubuhnya.
16.
As-Syaikh Faruk
Farsyad
Kurdistan
Tiga
Puluhan
Dibunuh
1996
Beliau mempunyai peranan yang sangat besar dalam dakwah dan memiliki tempat kajian keagamaan di wilayahnya. Ditahan dan disiksa ketika beliau sedang membangunkan murid-mu­rid dan saudara-audaranya untuk makan sahur di bulan suci Ramadhan, dibunuh setelah mendapatkan pe­nyiksaan. Termasuk murid yang paling menonjol dari Syaikh Ahmad Muftizadah.
17.
Maulawi Qalandari
Zahi
Balusytan
Lima
Puluhan
Dibunuh
1996
Beliau Imam masjid di kota Khosa di Balusytan. Dibu­nuh dengan tembakan maut ketika beliau dalam per­jalanan pulang dari masjid.
18.
As-Svaikh
Robi’i
Kurdistan
Enam Puluhan
Dihukum Mati
1996
Beliau adalah Imam masjid Jami’i di kota Karamasyah, pusat Wilayah Kurdistan. Di akhir akhir ceramahnya beliau selalu mengkritik policy pemerintah yang anti Sunnah dan mengkritik acara serial televisi yang mengangkat sosok Imam Ali yang menghina Aqidah Sunnah dengan penghinaan yang keji dan mencela para sahabat dengan celaan dan hinaan yang membuat berdiri bulu roma. Kemudi­an beliau dijebloskan ke dalam penjara untuk dilakukan hukuman mati terhadapnya beberapa hari setelah penahanannya.
19
As-Syaikh Abdul Aziz Khadimi
Balusytan
Tiga
Puluhan
Dibunuh
1996
Beliau seorang lulusan Universitas Islam diMadinah Al-Munawwarah, beliau bekerja sebagai guru di kota Zahidan pusat Balusytan, beliau mengkritik serialTV tentang Imam Ali dihadapan salah seorang dosen Syi’ah di Universitas tersebut dimana serial TV tersebut telah melemparkan celaan yang pedas terhadap para sahabat dan kritikan tersebut mengakibatkan beliau diciduk dari rumahnya pada malam hari dan raib dalam beberapa hari, dan ditemukan jenazah yang mulia dilempar di jalan umum.
20
Mustofa Nashri
Balusytan
Enam
Puluhan
Dibunuh
1996
Beliau Imam Masjid di Balusytan. Diminta datang ke Teheran. Disana diberi suntikan beracun, lalu beliau meninggaldunia beberapa hari setelah penyuntikan tersebut.
21
Ibrahim Madani
Balustan
Dua
Puluhan
Dibunuh
1996
Beliau alumnus Universitas Islam di Madinah Al-Munawwarah tahun 1995. Beliau memiliki kegiatan dakwah di antara parapemuda muslim, dan dibunuh ketika mengendarai sepedamotornya di sebuah pasar.
22
Abdullah Syirbazi
Balusytan
Dua
Puluhan
Dibunuh
1996
Beliaualumnus Universitas Islamdi Madinah Al-Munawwarah.   Di bunuh disebabkan kegiatan dakwah yang beliau adakan di daerahnya sendiri.
23
Maulawi Dada
Kariem
Balusytan
Empat
Puluhan
Dibunuh
1996
Beliau adalah orang yang berani mengkritik peme- rintah yang selalu mela­kukan kedhaliman-kedha- liman dan melanggar hak- hak Ahlu Sunnah. Beberapa kali dipenj arakan karenanya, lalu dibunuh ketika beliau dalam perjalanan pulang ke rumahnya dengan ranjau yang telah dipersiapkan oleh pemerintah.
Nama para ulama dan da'i yang di tahan pada masa kekuasaan Ayatullah, mereka adalah :
No
Nama
Wilayah
No.
Nama
Wilayah
1.
Maulawi Muhyidin
Balusytan
10.
Faisol Sabahiyan
Balusytan
2.
As-Syaikh Dusat Muhammad
Balusytan
11.
Habibullah Husain Bar
Balusytan
3.
Maulawi Ibrahim Damini
Balusytan
12.
Abdul Aziz Qondabi
Balusytan
4.
Maulawi Abdul Mazid Marodizhi
Balusytan
13.
Hafidz Arob
Balusytan
5.
Maulawi Ahmad Naru'i
Balusytan
14.
Maulawi Gulam Muhammad
Khurasan
6.
Wahid Bakhsa
Lasakarzahi
Balusytan
15.
Maulawi Abdul Aziz
Khurasan
16.
Syaikh Jami’i
Khurasan
7.
Iqbal Iwabi
Balusytan
17.
Maulawi Quraisyi
Turkamansahra
8.
Yususf Kardahani
Balusytan
18.
Abdullah Qohsatani
Harmazkan
9.
Anwar Dahwari
Balusytan
Semua nama-nama yang kami sebutkan di atas baik yang dibunuh ataupun yang dipenjarakan, sungguh jumlah tersebut sangat sedikit bila dibandingkan dengan yang lainnya (dari orang-orang yang dipenjarakan) yang tidak dimasukkan dalam tabel di atas. Karena mereka sebagai para ulama dan da'i yang masyhur, maka pemerintah tidak dapat merahasiakan nama-nama mereka itu. Adapun yang dipenjarakan dari aktivis pemuda Sunny, sungguh nama-nama mereka tidak dapat diketahui, kecuali oleh keluarga mereka, dan jumlahnya sangat banyak bila dibandingkan dengan jumlah para ulama.
Siapa yang ingin mengetahui data tersebut lebih mendetil silakan datang ke penjara-penjara Syi'ah di wilayah-wilayah Sunny atau silakan Anda baca daftar yang ada di tempat pemakaman Ahlu Sunnah.
2. Politik Pembatasan Keturunan (KB) dan Pembatasan Laju Pertumbuhan Sunny
Kita sekarang masih membicarakan masalah 'pembersihan' dan pembunuhan terhadap Ahli Sunnah. Sesungguhnya ada satu bentuk 'pembersihan' yang tidak boleh kita lupakan. Yaitu perlakuan paksa pemerintah terhadap Ahli Sunnah dengan undang-undang yang mewajibkan kaum Sunny ber-KB dan menahan laju pertumbuhan penduduk Sunny dan juga menetapkan undang-undang yang ketat dalam masalah tersebut yang kalau kita perhatikan secara seksama kejahatan-kejahatan pemerintah tersebut dalam hal masalah ini tidak kurang madharat dan keji dari bentuk pembantaian lainnya. Alasan pemerintah untuk melakukan politik semacam ini adalah perseimbangan umum yang menakutkan pemerintah dengan laju pertumbuhan penduduk sunny yang rata-rata 13 % dari jumlah penduduk Syi'ah, sedangkan laju pertumbuhan Syi'ah rata-rata hanya 3 % dari jumlah penduduknya. Perbedaan yang cukup besar dalam pertumbuhan rata-rata tersebut, kalau harus berlangsung seperti sekarang ini, maka sesungguhnya hal itu akan mempengaruhi perimbangan penduduk Sunny dan Syi'ah di dalam negeri di masa mendatang melebihi jumlah rata-rata sekarang ini.
Karena itu pemerintah menetapkan undang-undang pembatasan keturunan (KB). Kebanyakan penduduk Sunny adalah dari kalangan awam terutama sekali kaum wanita, maka upaya pembatasan keturunan di kalangan Sunny hampir mengecoh mereka. Departemen Kesehatan telah mendirikan beberapa pusat kesehatan di kampung-kampung, desa-desa sampai di kota-kota untuk melaksanakan dan mengawasi program-program yang dibuat pemerintah agar mencapai tujuan tersebut, bahkan para pegawai puskesmas tersebut mendatangi rumah-rumah penduduk secara rutin untuk membagikan pil pencegah kehamilan dan menawarkannya pada wanita-wanita Sunny dengan alasan bahwa dia sebagai penguat bagi tubuh dan vitamin. Tidak hanya terbatas dalam hal itu saja, tetapi lebih dari itu mereka memaksa para ibu rumah tangga untuk dilakukan operasi pemotongan rahim yang dianggap sebagai satu-satunya pengobatan yang dipraktekkan pemerintah terhadap seluruh penyakit kewanitaan dan kebanyakan operasi tersebut dilakukan tanpa sepengetahuan atau tanpa keridhaan para pasien, seperti yang telah kami sebutkan sebelumnya, sesungguhnya kebanyakan mereka orang awam tidak mengerti tentang persekongkolan kejahatan tersebut. Sebagai akibat dari ketetapan undang-undang tersebut, lalu pemerintah menetapkan hukuman terhadap orang yang tidak melaksanakannya, seperti tidak mendapatkan kartu subsidi dan Akte kelahiran dan tidak mendapatkan kesempatan untuk belajar, dan dikenakan hukuman-hukuman lainnya terhadap orang yang tidak mengikuti program KB.
3. Kebijaksanaan Pemindahan Penduduk (transmigrasi) dan Policy Pembangunan Pemukiman Syi'ah di Daerah Sunny.
Pemerintah tidak hanya menetapkan policy pembatasan keturunan (KB ) untuk menyetop keseimbangan penduduk yang dipicu oleh pertumbuhan yang pesat di daerah Sunny sebagaimana yang telah kami sebutkan pada poin yang lalu, tetapi diperluas lebih jauh lagi dengan penerapan policy transmigrasi dan pemukiman di daerah-daerah Sunny. Sasaran dari siasat ini secara tidak langsung juga membantu tercapainya sasaran strategis bagi pemerintah Iran dari Ahli Sunnah seperti pelabuhan-pelabuhan laut semisal pelabuhan Bandar Abbas di Hurmuzkan dan Pelabuhan Jabihar di Balusytan, begitu juga daerah-daerah perbatasan yang menghubungkan Iran dengan negara-negara tetangga yang Sunny. ltu dimaksudkan untuk menciptakan tameng manusia dari kaum Syi'ah di daerah-daerah perbatasan yang umumnya dikuasai Ahli Sunnah. Siasat ini telah dipraktekkan di beberapa daerah Sunny seperti; Khurasan, Balusytan dan Hurmuzkan, dimana pemerintah Iran telah melaksanakan Transmigrasi orang-orang Syi'ah secara besar-besaran kedaerah Sunnah untuk ditempatkan di sana, dengan demikian jumlah penduduk Syi'ah bisa menandingi jumlah Sunny sekalipun di daerah yang asalnya mayoritas Sunny seperti Khurasan, dimana pemerintah merampas seluruh kampung-kampung dan tanah pertanian yang luas di perbatasan Iran-Afghanistan dari penduduk aslinya yang Sunny. Kemudian mereka serahkan kepada orang-orang Syi'ah pendatang.
Ulah pemerintah Iran tidak hanya cukup sampai di sana, mereka juga menuntut para penduduk asli untuk bekerja keras bagi para pendatang Syi'ah sebagai buruh. Praktek seperti ini juga terjadi berulang kali di Kurdistan dimana beberapa kampung yang terletak di perbatasan antara Turki dan Iraq dengan Iran dihancurkan seluruhnya, setelah sebelumnya mereka mengusir penduduknya yang Sunny, begitu pula yang dilakukan pemerintah Balusytan, dimana mereka menempatkan orang-orang Syi'ah yang didatangkan dari daerah-daerah Syi'ah di beberapa kampung di perkampungan Sunny dan di tengah kotanya. Adapun usaha pemerintah Iran pada tahun-tahun terakhir yang berkaitan dengan pelabuhan, mereka telah menentukan beberapa pelabuhan bebas bea sebagai pusat-pusat perdagangan, hal itu untuk menambah gairah bisnis dan menarik para pengusaha, namun ketika kenyataan di lapangan membuktikan bahwa tidak ada daerah pelabuhan yang paling dekat ke Selat dan Samudra selain daerah Sunny maka tidak ada pilihan lain bagi mereka selain menjadikan pelabuhan-pelabuhan itu sebagai pelabuhan yang telah mereka rencanakan, hanya saja kemudian pemerintah Iran kesulitan mencari jalan untuk mengusir orang-orang Sunny dari daerah itu, supaya mereka tidak memiliki, peran baik dalam percaturan bisnis maupun dalam penguasaan atas daerah itu. Karena itulah pemerintah Iran mengambil keputusan untuk menerapkan pajak setinggi-tingginya atas orang Sunny dari penduduk asli sebagai konsekwensi tinggalnya mereka di rumah-rumah mereka, di sisi lain pemerintah memberikan berbagai kemudahan terhadap orang-orang Syi'ah yang datang ke pelabuhan perdagangan ini dan penguasaan terhadap kios-kios perdagangannya.
Para pcdagang itu diberi kemudahan oleh pemerintah sebanyak-banyaknya untuk mendapatkan berbagai kebutuhan, fasilitas umum dan perumahan, tentunya selain kemudahan mendapatkan pekerjaan. Siasat seperti ini menjadikan orang-orang Sunny yang mayoritas di kampung halaman mereka sendiri di bawah belas kasihan orang~orang Syi'ah. Hal itu terjadi karena pemerintah telah menyerahkan segala urusan birokrasi kepada pendatang Syiah yang kemudian mereka pergunakan sebaik-baiknya sesuai dengan kepentingan mereka sendiri.
4. Pemusatan Angkatan Bersenjata Hanya di Tangan Syiah :
Bersamaan dengan semua kedzaliman yang dilakukan Pemerintah Iran terhadap Ahli Sunnah, mereka masih khawatir terhadap Ahli Sunnah. Ketakutan mereka terhadap Sunny seperti ini membuat mereka berusaha sekuat tenaga untuk menyentralisir semua kekuatan militer, potensi ekonomi dan industri di tangan Syi'ah, tanpa memperhatikan hak-hak Sunny sebagai warga negara. Karena itu tidak aneh jika pemerintah melarang Sunny untuk melamar kerja kebeberapa instansi militernya, seperti pasukan keamanan dan tentara, sekalipun hanya untuk pangkat paling rendah, dan kalaupun ada kesempatan bagi mereka, tidak akan menempati tempat yang strategis, atau mereka hanya akan menjadi pegawai administrasi pinggiran. Selama mereka bekerja, mereka ditempatkan di kawasan yang tidak bersenjata, karena kekhawatiran pemerintah yang tinggi terhadap Sunny. Adapun kementrian pengawal Revolusi dan ini satu-satunya instansi yang memiliki wewenang di atas undang-undang dan memiliki semua senjata negara yang modern tidak mungkin menerima dan mengangkat pegawai Sunny, sekalipun untuk setingkat satpam atau penjaga pintu. Hal ini sama berlakunya juga di kementrian intelijen yang telah kami sebutkan kejahatan dalam kaitan operasi penggerebegan (terhadap para Ulama dan da'i) dan merupakan satu-satunya badan intelejen di seluruh dunia yang dipimpin oleh seorang tokoh agama yaitu Ayatullah Falahyan, sehingga dengan demikian, sangat kentara sekali bagi siapa saja bahwa badan ini semata-mata bertugas untuk melakukan pembersihan orang-orang yang menyalahi madzhab mereka, terutama Sunny. Ini semua dilakukan supaya kekuatan militer negara, senjata dan keputusan- keputusan yang lahir tetap berada di tangan Syi' ah, karena mereka mengkhawatirkan terjadinya disintegrasi dan perpecahan pada suatu saat di Iran sebagaimana yang telah terjadi di Uni Sovyet.
Kekhawatiran itu cukup beralasan mengingat banyaknya perbedaan madzhab dan etnis di Iran yang apabila pecah sulit sekali untuk menetralisirnya, karena terdiri dari 24 propinsi yang masing-masing memiliki bahasa dan logat bicara yang berbeda, etnis yang berbeda dan perbedaan-perbedaan lain antara satu daerah dengan daerah lain. Karena dikhawatirkan terjadinya perpecahan dan disintegrasi yang mungkin terjadi seperti inilah pemerintah Iran menyentralisir semua kekuatan militer dan potensi ekonomi di tangan Syi'ah, sehingga kalaupun toh disintegrasi itu terjadi juga, keuntungan ada dipihak Syi'ah terhadap musuh mereka dari Ahli Sunnah. Siasat ini seperti persis dengan apa yang diterpakan Serbia terhadap orang-orang Bosnia di Yugoslavia dulu.
Sekalipun kalau dibandingkan, orang muslim Bosnia agak mendingan dimana karena sebagian kecil dari mereka masih bisa masuk militer sehingga jumlah mereka mencapai 2%, sementara Ahli Sunnah di Iran untuk mencapai 1% pun dari tentara, pasukan pengawal Revolusi dan penjaga keamanan, tidak sampai. Begitu juga kalau terjadi kebangkitan dari Ahli Sunnah setelah mereka mengalami berbagai kedzaliman dan kenistaan - seumpama - mereka mampu lolos dari pcmbantaian dan undang-undang pembatasan kelahiran yang keji, maka keberadaan senjata ditangan Syi'ah akan memudahkan untuk menghabiskan yang tersisa dari mereka, jika mereka mulai berpikir untuk berontak menuntut pemerintah Syi'ah untuk mengembalikan hak-hak mereka yang telah dirampas.
5. Larangan Mendapatkan Hak dalam Perekonomian dan Perindustrian.
Sebagaimana dalam masalah Angkatan Bersenjata maka dalam masalah kekayaan industri dan ekonomi pun berada dalam 'genggaman' Syi'ah. Yang kami maksudkan dengan 'genggaman' Syi'ah di sini adalah mereka memberikan peluang yang sebesar-besarnya kepada masyarakat sipil Syi'ah untuk menjadikan semua kekayaan ini berada di tangan mereka, bukan di tangan para pejabat pemerintah Syi'ah.
Pemerintah telah terbiasa melarang Sunny dan seluruh daerah-daerah Sunny untuk menguasai pabrik-pabrik yang ada dan perindrustrian-perindrustrian raksasa sampai perindrustian-perindrustian keciI. Sebagaimana pemerintah tidak memberikan idzin untuk membangun atau menyimpan saham mereka di semua pabrik, sampai perusahaan nasional pun. Jika didapatkan pabrik di daerah Sunny, maka bisa dipastikan milik orang Syi'ah, bahkan sampai kota-kota Sunny yang berada di lepas pantai pun pemerintah melarang para penduduknya untuk mendapatkan - walaupun sekedar - idzin pendirian pabrik pengalengan ikan atau idzin perusahaan-perusahaan untuk penangkapan ikan. Akan tetapi pemerintah memberikan idzin-idzin tcrsebut hanya kepada orang Syi'ah. Hal itu menjadikan penduduk !epas pantai Sunny yang bekerja untuk menutupi kebutuhan hidupnva sehari-hari dari penangkapan ikan selalu dihantui rasa takut akan adanva petugas yang akan menangkap mereka. Seperti biasanya, mcreka ditangkap dengan tuduhan tidak memiliki idzin penangkapan ikan.
Oleh karena itu scmua kekayaan ikan tersebut dibawa ke pusat-pusat kota yang dihuni oleh orang-orang Syi'ah. seperti Teheran dan lainnya. scmcntara pada waktu yang bersamaan anda dapati penduduk Sunny lepas pantai selalu direpotkan dengan kekurangan ikan, bahkan sampai mereka tidak mendapatkannya sama sekali, karena takut akan hukuman yang akan dikenakan kepada mereka bila tertangkap dan dikenakan tuduhan serupa.
Adapun dalam dunia perdagangan, ekspor dan impor, maka sebagaimana telah kami sebutkan sesungguhnya orang-orang Sunny terlarang untuk mendapatkan seluruh lisensi perdagangan. Olch karena itu maka semua bahan pokok (sembako) sepcrti, beras, gula, mentega dll. hampir tidak sampai kepada komunitas Sunny kecuali dcngan cara melarikannva dari negara-ncgara tetangga, seperti negara-ncgara Teluk dan Pakistan. Dan kalau bukan karena pertolongan Allah serta masyarakat dekatnva negara-negara tersebut, tentu kelaparan akan menimpa penduduk Sunny Iran. Sungguh di balik larangan yang keras terhadap Sunny dalam mendapatkan lisensi usaha itu, terdapat kemudahan yang luar biasa bagi orang-orang Syi'ah terutama orang-orang Syi'ah yang tinggal di daerah Sunny.
Tekanan-tekanan seperti ini tidak hanya terbatas dalam mendapatkan liscnsi usaha saja, akan tetapi lebih-lebih terhadap para pengusaha kelontong dalam hal penentuan pajak yang sangat besar sekali, yang mencapai lima puluh kali lipat dari pajak para pengusaha kelontong Sy'ah. Tckanan ini diluar yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah yang dari mula pertama mengisi formulir permohonan lewat berbagai pertanyaan, diantaranya mengenai madzhab pengusaha yang hal itu sudah menjadi satu kemestian dalam dunia perdagangan, birokrasi dan pendidikan - dan berdasarkan jawaban terhadap pertanyaan tersebut, proses yang dilewati penuh dengan kesulitan-kesulitan yang rutin dibuat pemerintah (atas dasar kebohongan), terkadang atas nama kebersihan dan di waktu yang lain atas dasar pergantian dekorasi atau atas nama asuransi dll. Sampai para pengusaha kelontong itu merasa bosan dengan profesinya itu, yang secara otomatis hal ini memberi kesempatan yang sangat banyak bagi orang-orang Syi'ah untuk menguasai ekonomi Sunny.
Akhirnya saya katakan di sini bahwa para pengusaha Sunny diperlakukan seperti perlakuan terhadap para pengusaha obat-obatan terlarang, dari segi tekanan-tekanan dan kesempitan-kesempitan yang dihadapi oleh mereka.
6. Ghozwul Fikri dan Pembersihan Kepribadian dan Jati Diri Sunny.
Dalam hal ini pemerintah - sejak permulaan revolusi - telah membentuk satu Departemen yang diberi nama Departemen Jihad dan Takmir. Departemen ini kegiatannya sama seperti Misionaris yang ada di tengah-tengah kaum Sunny, karena memang dalam segala hal sesuatunya, baik metoda maupun fasilitasnya, meniru para misionaris, sehingga mereka berhasil menyebarkan misinya sampai ke daerah-daerah pedalaman terpencil yang dihuni oleh kaum Sunny. Selain itu Departemen ini telah menerbitkan sebuah majalah yang diberi nama dengan nama Departemen di atas, yang bertugas meliput berbagai kegiatan-kegiatan dan keberhasilan yang telah dicapai selama ini. Dan diantara berita yang sering dimuat adalah berita tentang masuknya lima atau sepuluh orang Sunny ke dalam "Islam".
Selain itu pemerintah telah membentuk juga satu instansi yang bertugas memberantas buta huruf dengan tujuan melakukan perang pemikiran (Ghozwul Fikri) dan aqidah ditengah-tengah kaum Sunny yang awam dan buta huruf, baik laki-laki atau perempuan. Kedua Instansi itu didukung oleh berbagai media cetak dan elektronika seperti: TV, Radio, Majalah, Surat Kabar dll. yang tentunya keberadaan media ini akan lebih mempertajam keberhasilan yang akan dicapai dalam melakukan cuci otak, khususnya terhadap kalangan anak-anak Sunny.
Dalam rangka Ghozwul Fikri pemerintah mendirikan kantor atau maktab yang diberi nama, Maktabul 'Iffah .. yang bertujuan untuk menyebar luaskan Nikah Mut'ah di kalangan generasi muda Sunny. Dengan memberi dorongan/motivasi untuk menikahi gadis-gadis Syi'ah. Biasanya pernikahan tersebut hanya berlangsung selama satu atau dua hari saja. Dimaksudkan untuk menjauhkan generasi muda Sunny dari aqidahnya dan untuk menjadikan (Pemikahan tersebut ) sebagai perangkap yang dapat menjerumuskan generasi muda Sunny ke dalam pola-pola pikir Syi'ah, sehingga hal itu akan menjadi gaya hidup mereka sehari- hari.
Pemerintah juga memberi motivasi kepada gencrasi muda Sunny untuk menikahi gadis-gadis Syi'ah secara normal dengan tujuan untuk merubah keturunan mereka sehingga tidak kenal kepada Sunny. Dan yang paling keji adalah pemerintah telah mengeluarkan satu kebijakan untuk membebaskan para tahanan dan mereka yang dijatuhi hukuman mati (dari kaum Sunny) dengan syarat jika mereka rela menikahkan anak perempuan mereka dengan seorang Ayatullah tujuannya untuk perluasan pengaruh sosial mereka (Syi'ah) di daerah-daerah sunny dan penguasaan atas beberapa kabilah dengan praktek yang sangat rendah itu.
Adapun Ghozwul Fikri dalam dunia pendidikan, maka intervensi-intervensi yang dilakukan pemerintah terhadap Sunny melalui dua cara: Pertama: Melalui kurikulum pendidikan, dimana program Ghozwul Fikri Syi'ah terlihat dengan jelas dalam kurikulum yang diterapkan dari mulai Sekolah Tingkat Dasar (SD) sampai dengan Sekolah Tingkat Atas (SMU) lewat pemalsuan sejarah khususnya, pada masa Bani Umayyah dan Bani 'Abasiyah. Dan mcnampilkan para Khalifah penuh cemoohan dan pelecehan. Secara tidak langsung, hal itu menanamkan kebencian dalam diri para siswa terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan sejarah masa tersebut. Kemudian di sisi lain mereka menyanjung para tokoh dan ulama Syi'ah secara berlebihan sehingga tidak aneh kalau para siswa yang baru keluar dari SMU, mereka sudah bisa menghafal semua Imam Syi'ah yang dubelas dibarengi dengan keyakinan akan kemaksuman para imam tersebut yang tidak bisa ditandingi derajatnya oleh para Malaikat atau para Rasul.
Sementara itu tidak ada seorangpun diantara mereka yang hapal akan nama-nama sepuluh sahabat yang dijamin masuk sorga atau khulafaur Rasyidin yang empat sekalipun. Dan ini semua adalah di luar apa yang menjadi anjuran bagi setiap siswa untuk menghapal segala sesuatu yang keluar dari mulut Imam-Imam Syi'ah, baik melalui ceramah atau materi-materi pelajaran, tapi sekali-kali janganlah terbercik suatu pikiran akan adanya keharusan bagi para siswa untuk menghapal hadits-hadits Nabi.  Disamping ejekan dan celaan terhadap aqidah Ahlu Sunnah Waljamaah melalui nasyid (lagu-Iagu) wajib bagi murid-murid di tingkat Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan melalui judul-judul bacaan yang ada dalam buku mereka mengajak kepada kemusyrikan yang nyata, yaitu memuliakan kuburan-kuburan keramat yang mereka beri nama Tanah Haram, yang lebih mulia daripada Al-Haramain, Makkah dan Madinah. dan juga ajakan untuk mensucikan tempat-tempat tesebut dan merendahkan tempat-tempat muqodasah (yang disucikan) menurut pandangan orang-orang Islam seperti kota Makkah dan Madinah.
Kedua Melalui sistem birokrasi sekolah-sekolah dan cara perlakuan terhadap Sunny dalam semua tingkatan pendidikan, baik itu dari kalangan guru ataupun murid. Sesungguhnya Badan Intelejen telah menentukan para guru diseluruh sekolah-sekolah pemerintah (di kota-kota dan di desa-desa) dibawah Musyrif (Penanggungjawab) pcndidikan yang bertugas untuk mengawasi guru-guru dan siswa-siswa dalam hal loyalitas mereka, kegiatan madzhab mereka seperti ketepatan dan kerajinan mereka dalam melaksanakan shalat wajib berjamaah di sekolah atau menganjurkan orang lain dari kalangan Sunny agar supava melaksanakan shalat. Paling tidak mcmbcri pcrhatian terhadap realitas yang terjadi dari persekongkolan terhadap Sunny dan urusan-urusan yang lainnya yang selalu mendapat pengawasan dari Musyrif pendidikan. Yang dengan peranannya itu dia dapat membuat data-data rahasia dalam urusan birokrasi seperti : dalam hal pendaftaran di Universitas bagi para siswa dan permohonan pindah tempat kerja bagi para guru, maka semua permohonan itu ditolak berdasarkan keputusan yang telah disiapkan oleh Musyrif pendidikan. Yang akibatnya 90%, siswa Sunny tidak bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dengan dalih karena mereka bermazhab' Wahabi.
Terakhir kita harus ingat bahwa pemerintah dengan sangat sengaja menghapus cita-cita Ahlu Sunnah, dengan cara menetapkan undang-undang yang berisi larangan bagi Ahlu Sunnah untuk mcmilih nama-nama Sunny seperti Abdullah, Abdurrahman, dengan alasan bahwa nama-nama tersebut adalah nama-nama orang Arab, bukan nama-nama orang Parsi Iran. Berdasarkan pertimbangan diatas, maka pemerintah membuat daftar nama-nama anak laki-laki dan nama-nama anak perempuan yang biasa digunakan orang-orang Syi'ah yang terdapat di kantor-kantor pemerintahan dinas kependudukan yang bertugas mengeluarkan Akte kelahiran agar orang Sunny memilih satu nama dari nama-nama yang termaktub dalam daftar tersebut bagi anak laki-laki dan anak perempuan mereka dengan terpaksa, dan bagi orang yang bersikeras memilih nama Sunny bagi anak mereka, seperti : Umar, Mu'awiyyah dan ' Aisyah, maka tidak akan mendapatkan Akte kelahiran bagi anak mereka.
7. Menjauhkan Para Pemuda Sunny dari Medan Pertempuran.
Jika kita tambahkan upaya pemerintah Iran dalam mempersulit pemuda Sunny untuk mendapatkan pekerjaan, seperti apa yang telah mereka lakukan selama ini dalam mempersulit para pemuda Sunny untuk mendapatkan pendidikan yang wajar dengan alasan-alasan di atas, kita tidak bisa bayangkan berapa banyak dari pemuda Sunny yang tidak bisa melanjutkan pendidikan mereka di Universitas dan tidak bisa bekerja ataupun dagang, itu semua yang membuat banyak dari mereka berhijrah untuk mencari sesuap nasi atau menjadi pecandu obat terlarang yang mengurangi potensi Sunnah untuk keluar dari realitas kesengsaraan ini.
Ini pula sebenarnya yang menjadi harapan pemerintah Iran dibalik usaha-usaha mereka dalam mempersulit kaum Sunny di segala bidang selama ini, karena jauhnya para pemuda Sunny dari medan pertempuran dan hilangnya peran mereka di masyarakat akan lebih mempermudah upaya pemerintah dalam melaksanakan rencana- rencana terhadap kaum Sunny yang lain. Ketika kita berbicara tentang nasib pemuda Sunny, sepatutnya kita tulis juga dalam lembaran sejarah apa yang telah mereka lakukan supaya menjadi aib yang mencoreng muka pemerintah Iran yang tidak hapus untuk selamanya, berupa pembantaian dan pembunuhan massal terhadap para pemuda Sunny yang tidak pemah terjadi sebelumnya di Iran selain Zaman Rezim Shofawi yang biasa mereka lakukan dengan berdalih operasi memerangi para pedagang obat terlarang, sehingga menjadi dalih yang biasa untuk melakukan pembantaian massal terhadap para pemuda Sunny, dan di saat yang sama tuduhan Wahabi menjadi dalih lain dalam melakukan pembunuhan terhadap para Ulama.
Tidak ada satupun dari daerah Sunny yang selamat dari pembantaian semacam ini sejak permulaan revolusi Khomaeni, itu dimulai dengan pembantaian terhadap Suku Kurdi di awal-awal Revolusi yang dilakukan oleh angkatan udara dari Pasukan Pengawal Revolusi, dimana ratusan Sunny diberondong di daerah Kurdistan. kemudian pembataian orang-orang Turkman, di mana tank-tank dan panser-panser pasukan pengawal Revolusi meluluh lantakkan rumah mereka untuk dijadikan kuburan penghuninya. Begitu juga dengan apa yang terjadi di Khurasan, berkaitan dengan perobohan masjid As-Syaikh Faidh, masjid Jami Ahli Sunnah di sana, sebenarnya para Jama'ah sudah berupaya membuat barisan barikade untuk menahan lajunya buldoser Pemerintah, tapi usaha mereka itu gagal ketika pasukan pengawal revolusi memberondong mereka dengan timah panas yang membuat puluhan orang jamaah meninggal dalam kejadian ini.
Kejadian yang sama berulang kembali di Balusytan ketika para jamaah berkumpul di masjid Jami di pusat kota wilayah Zahidan sebagai aksi ketidak puasan mereka terhadap penghancuran masjid Syaikh Faidh dan pembunuhan terhadap puluhan orang jama'ahnya, maka pemerintah Iran ketika itu, dengan cepat mengirim pasukan Pengawal Revolusi yang menyeret para jamaah ke dalam masjid, dan kemudian memberandong mereka dengan peluru sehingga mengakibatkan jatuhnya korban lebih dari 200 orang antara yang luka-Iuka dan mati. Lebih tragis lagi, ada beberapa kota Ahli Sunnah, di mana kita akan kesulitan untuk bertemu dengan laki-laki karena banyaknya yang terbunuh, seperti Nashrat Abadi di Balusytan dan begitu pula kota-kota dan kampung-kampung Sunny yang lain.
Sebenarnya 40% pemuda Sunny, sekarang telah dibunuh atau berada di sel-sel tahanan dalam penyiksaan para algojo pemerintah yang kejam. Dalam kesempatan ini saya mengajak LSM-LSM yang berjuang membela hak asasi manusia (HAM) untuk melakukan investigasi keadaan para Nara Pidana Sunny di penjara-penjara mulai dari penjara Teheran sampai penjara-penjara di daerah Sunny, sambil konfirmasi Daftar orang-orang yang dieksekusi mati, tidak adanya pengadilan 'yang adil, atau paling tidak yang terang-terangan, ditambah dengan ketertutupan Pers. Itu sebenamya yang membuat negara ini melakukan perbuatan semena-mena tanpa ada yang tahu dan tanpa ada yang protes.
8. Penghancuran Masjid dan Sekolah-sekolah Agama :
Adalah suatu hal yang perlu diperhatikan adanya 300 ribu orang Sunny di ibu kota Teheran yang tidak di perkenankan membangun masjid untuk shalat, padahal sejak zaman Syi'ah Iran mereka telah membeli tanah dan memobilisasi dana untuk pembangunan masjid tersebut, akan tetapi ternyata penyitaan terhadap tanah untuk pembangunan masjid dan dananya, rupanya hanya hadiah pertama yang diberikan Khomaeni terhadap Ahli Sunnah setelah kemenangan Revolusi Iran. Keadaan seperti ini terus berlanjut sampai sekarang, bahkan aksi Khomaeni kemudian tidak berhenti pada penyitaan tanah masjid Sunnah di Teheran serta dananya, lebih jauh lagi ia pun melakukan pembongkaran dan penghancuran terhadap masjid-masjid Sunny yang lain.
Berikut ini daftar nama-nama masjid yang menjadi korban Revolusi Khomeini :
No
Lokasi Masjid
Keterangan
1.
Masjid Sunnah di
Baah Waz
Merupakan masjid Sunny pertama yang disita, sebelum
terjadinya sengketa dengan Iraq, masjid ini kemudian
dirubah menjadi pusat pertahanan keamanan
2.
Sebelah barat Teheran
Merupakan masjid Sunnah kedua yang disita, yaitu pada tahun 1992
3
Masjid Turbat Jam
Lokasi masjid ini di daerah Khurasan, sekarang dirubah
menjadi Markas pasukan pengawal Revolusi.
4
Masjid dan Sekolah
Nakur
Masjid dan sekolah ini terletak di dekat kota Jabhar di
daerah Balusytan, pada tahun 1987 pemerintah Iran telah merobohkan dengan tuduhan sebagai markas Wahabi.
5
Masjid Sunnah di
Shiraz
Disita setelah pembunuhan terhadap Dr. Mudzoffaryan,
karena beliau muassis (pendiri) mesjid tersebut, kemudian dirubah menjadi pusat penjualan tape dan video di bawah Kementrian Pasukan Pengawal Revolusi.
6
Masjid Syaikh Faidh
Merupakan masjid bersejarah bagi Sunnah terletak di kota Masyhad salah satu pusat Syiah Dunia. Pcmcrintah Iran tidak senang dengan keberadaan masjid terscbut di lokasi ini, maka pada tahun 1993 di bawah komando pasukan pcngawal Rcvolusi mereka menghancurkan masjid itu dengan semua bagiannya berupa kamar tamu dan ruang kelas Tahfidzul Qur'an. lnstruksi penghancuran masjid ini datang langsung dari Ali Khamaenci pemimpin spiritual Iran, dan ironinya penghancuran masjid Syaikh Faidh ini dilakukan setclah pemerintah Iran memobilisir
demonstrasi bcsar-besar terhadap orang-orang Hindu yang menghancurkan masjid Babri di India, Dcsembcr 1992.

Setelah kedzaliman itu semua, kemudian Pemerintah mengeluarkan undang-undang yang melarang pembangunan masjid Sunny di daerah mereka sendiri, dan barang siapa yang dikenakan tuduhan memobilisasi bantuan dari negara-negara Teluk untuk pembangunan masjid, maka ia akan ditangkap dengan tuduhan sebagai kaki tangan pihak luar.
9. Larangan Ahli Sunnah Memegang Jabatan Politik dan Birokrasi
Ditutupnya peluang Ahli Sunnah untuk memangku jabatan politik maupun Birokrasi adalah suatu kenyataan yang bisa dilihat dengan kasat mata, dimana adalah keistimewaan Syi'ah untuk selalu mendapatkan prioritas di semua scktor : politik, birokrasi sarnpai pendidikan, untuk anggota DPR yang jumlah 270 orang misalnya, jumlah wakil Sunny tidak sampai 10%. Adapun untuk pemerintahan tidak ada satu kursi pun untuk menteri dari Ahli Sunnah, sementara itu pemerintah Iran bersikeras menuntut seperempat dari Parlemen Afghanistan dari Syi'ah, dimana jumlah perbandingan mereka tidak lebih dari 10% dari jumlah penduduk.
 Adapun perbandingan dalam urusan birokrasi, maka hampir tidak ada perwakilan Sunny di birokrasi pemerintahan, karena hal itu sama sekali terlarang bagi Sunny dengan gambaran praktek lebih banyak secara undang-undang, dan cukup bagi seseorang untuk mengetahui hakikat kefanatikan Syi'ah yang dipimpin oleh pemerintah dengan mengetahui tidak ada para wakil Sunny sampai di tempat-tempat Sunny di kelurahan, umpamanya, atau di Departemen Kesehatan, atau di Departemen Perhubungan dll. Itu semua mengenai kementrian-kementrian yang tidak mempunyai peranan yang penting bagi pemerintah. Adapun Departemen-departemen dan Kementrian-kementrian yang penting, seperti Departemen Dalam Negeri, Departemen Luar Negeri, Badan Intelejen, Departemen Pengawal Revolusi, Departemen Pendidikan, Departemen Perdagangan, dan Departcmen Pertahanan dan Keamanan (HANKAM); maka Sunny hampir tidak pemah memimpikannya, walaupun hanya sekedar untuk masuk padanya. Hanya saja pemerintah memberi peluang kepada Sunny untuk jadi pekerja biasa.
 Sesungguhnya semua Peristiwa ini tidak terjadi begitu saja, dari tujuan pemerintah dan undang-undang pun tidak datang dengan sendirinya, dan bukan juga akibat dari kesalahan seorang oknum pejabat, atau dua oknum pejabat negara, akan tetapi ini semua adalah akibat dari hasil study yang telah dilakukan sebelumnya, yang bersamaan dengan terjadinya kudeta Revolusi, disertai dengan pembentukan undang-undang yang menjerat leher-leher Sunny, seperti pasal lima, yang menetapkan bahwa kekuasaan pemerintahan Iran diserahkan kepada Ahli Fiqih yang adil sampai datang Iman Mahdi yang ghaib. Yang dimaksud dengan "Ahli Fikih, yaitu sebuah istilah yang ditujukan kepada orang yang menempati posisi Imam Mahdi yang ghoib dari kalangan Ahli Fikih dan Ulama Syi'ah. Begitu juga dengan pasal dua, yang menetapkan bahwa sumber pengambilan hukum di Iran adalah Kitab dan Sunnah ma'sum (terjaga dari kesalahan dan kekeliruan), yakni sebuah istilah bagi para Imam Syi'ah yang kedudukannya menurut keyakinan mereka lebih tinggi dari kedudukan para Nabi dan para Malaikat Al-Muqorrobin, juga mereka memiliki pengetahuan tentang hal yang telah terjadi, yang akan terjadi, dan apa yang sedang terjadi, sampai hari Kiamat kelak.
 Jadi mereka tidak menjadikan Sunnah Rasul Shallalahu 'Alaihi wa Sallam sebagai sumber hukum. Begitu juga dengan pasal dua belas, yang menetapkan bahwa Agama resmi di Iran adalah Islam Madzhab Ja'fari Itsna 'Asyary, dan mereka memberi catatan kaki bagi pasal ini yang berbunyi :" Sesungguhnya materi kalimat tersebut tidak akan mengalami perubahan untuk selama-lamanya". Itu agar undang-undang berikutnya dan undang-undang yang telah kami paparkan sebelumnya menjadi bagian dari pasal tersebut.
 Sebagai kelengkapan bagi peristiwa pembantaian yang dilakukan oleh Algojo-algojo Syi'ah dalam memantapkan pasal yang satu dengan pasal yang lainnya, seolah-olah mulut mereka mengatakan : " Tidak ada tempat bagi kalian (Sunny) disini (Iran) untuk selamanya ". Akan tetapi sepanjang pemantauan yang kami lakukan terhadap kesungguhan dan keserakahan mereka, menunjukkan kepada kita bahwa pemerintah Iran tidak merasa puas dengan apa yang telah mereka lakukan terhadap Sunny Iran, bahkan mereka ingin menghabisi Ahlu Sunnah sampai orang yang ada di luar lran-pun, terutama yang tinggal di negara-negara tetangga, seperti: 'Negara-negara Teluk, Pakistan, dan Afganistan.
 Seperti yang telah kami singgung di awal pembicaraan bahwa : "Selama kaum Sunny tidak bersatu dan saling bantu dalam mengantisipasi gelombang deras yang datang dari pusat produk hukum di Teheran, maka kaum Sunny yang berada diluar Iran kondisinya tidak akan lebih baik dari kondisi saudara-saudara mereka yang ada di Iran".
 Hal lain yang harus diperhatikan, selama masih ada sisa kehidupan Sunny di Iran maka cita-cita itu akan terus ada, untuk menghapus impian-impian penguasa Iran. Adapun (mudah-mudahan Allah tidak mentaqdirkannya) apabila mereka bisa memusnahkan kaum Sunny yang tersisa itu, maka akan tinggallah penderitaan dan kepedihan yang panjang dan cita-cita kita akan terkubur di tempat pembantaian, dan jika keadaan sudah seperti itu, maka kesal kemudian tiada berguna.
Membongkar Kezaliman Syi'ah dan Ancamannya Kepada Manusia
Kedhaliman Syi'ah Terhadap Ahlussunnah di Iran, LPPI1420H/1999M.

No comments: