Ketika Imam Bukhari Jadi Sasaran Persekusi
Secara kebahasaan, kata mihnah berakar dari mahana, yumhinu. Artinya, ‘cobaan’, ‘ujian’, atau ‘bala.’ Dalam fase tersebut, terjadilah gelombang persekusi yang dilakukan penguasa Abbasiyah.
Sebab, kalangan istana kala itu cenderung fanatik terhadap pemikiran Mu’tazilah. Para khalifah pun menindas siapapun, termasuk ulama-ulama besar, yang tidak sejalan dengan aliran tersebut. Salah satu pokok pembeda kala itu adalah dukungan atau penolakan terhadap status “makhluk” pada Alquran.
Bagi kaum Mu’tazilah, Alquran adalah makhluk karena dianggapnya sebagai bukan Zat Allah. Namun, bagi alim dari ahlus sunnah wal jama’ah, Alquran jelas-jelas adalah Kalamullah.
Salah seorang alim yang menjadi sasaran fitnah dan persekusi di Era Mihnah adalah Imam Bukhari. Kisahnya diceritakan Imam Muslim dalam bagian mukadimah Shahih Muslim.
Pada suatu ketika, penulis Shahih Bukhari itu berkunjung ke daerah kampung halamannya, Bukhara, setelah mengalami penolakan dari para penguasa lokal Naisabur, Persia. Ia ditolak karena tidak mendukung pemikiran pro-Mu’tazillah.
Ternyata, Bukhara pun dilanda prokontra topik “kemakhlukan” Kitabullah. Dan, kota di kawasan Transoxiana, Asia tengah, itu sedang dipimpin Khalid bin Ahmad az-Zihli. Gubernur tersebut dikenal mencari muka di hadapan khalifah Abbasiyah.
Dengan serta merta, Khalid mengusir Imam Bukhari dari Kota Bukhara. Tentu saja, keputusan yang zalim itu ditentang seluruh murid dan pengikut sang imam. Bahkan, penguasa Samarkand sampai turun tangan mendesak pemerintah kota tetangganya itu agar tidak semena-mena terhadap sang muhaddits.
Khalid tidak jua menghentikan intimidasinya. Akhirnya, masyarakat Samarkand meminta Imam Bukhari agar bersedia menetap di Samarkand.
Permintaan mereka disanggupi syekh ini. Sebelum ke kota tujuan, dirinya singgah di sebuah desa kecil bernama Khartand guna bersilaturahim kepada beberapa sanak famili.
Allah Ta’ala berkehendak. Di desa tersebut, Imam Bukhari jatuh sakit. Setelah dirawat beberapa lama, akhirnya sosok yang gigih dalam mengembangkan keilmuan hadis itu berpulang ke rahmatullah. Ia wafat pada 1 Syawal 256 Hijriyah atau 1 September 870 Masehi. Jasadnya dikebumikan di kompleks permakaman yang terletak 25 km dari Samarkand, Uzbekistan.rol




No comments:
Post a Comment