Kondisi Iblis Memasuki Musim Haji

Imam Ghazali menuturkan kisah tentang iblis yang risau ketika musim haji. Red: Hasanul Rizqa ILUSTRASI Pemandangan kota Makkah terlihat dari Jabal Nur, Makkah, Arab Saudi.
Foto: Republika/Muhyiddin
Hujjatul Islam, Imam al-Gazali dalam bukunya Ihya Ulum ad-Din menuliskan kisah iblis pada musim haji. Seorang Muslim tiba-tiba dapat melihat iblis dengan matanya saat umat Islam sibuk berwukuf di Arafah.

Iblis tampak berjalan dalam wujud manusia. Tubuhnya kurus, wajahnya pucat, dan punggungnya bungkuk. Iblis terlihat menangis tak berhenti. Kemudian, terjadilah dialog antara Muslim dengan iblis.

Iblis: Aku menangis melihat orang-orang mengerjakan ibadah dengan tulus, tidak dicampuri urusan duniawi seperti perdagangan. Aku khawatir segala doa mereka dikabulkan Allah. Itulah sebabnya aku menangis.

Iblis: Suara ringkik kuda yang ditunggangi para jamaah haji. Seandainya kuda itu digunakan untuk dosa, maka aku tak akan seperti ini.

Muslim: Lalu kenapa engkau pucat?

Iblis: Kerja sama dan tolong-menolong sesama manusia dalam menaati perintah Allah. Seandainya mereka saling membantu dalam kemaksiatan maka tentu wajahku akan terlihat segar.

Muslim: Apa yang menyebabkan badanmu bungkuk?

Iblis: Doa manusia memohon akhir hidup yang baik atau husnul khatimah. Setiap kali mendengar doa itu, aku berkata sendiri, betapa celakanya aku. Bilakah orang ini akan berbangga dan dikelabui amalannya sendiri? Aku khawatir orang seperti ini tak bisa aku kelabui.

Haji merupakan rukun Islam kelima. Ibadah ini memiliki sejumlah manfaat bagi yang melaksanakannya. Al-Gazali mengatakan, salah satunya adalah ampunan Allah.

Ibadah ini lebih rumit bila dibandingkan rukun Islam lainnya. Mereka yang akan melaksanakan haji harus rela meninggalkan keluarga. Kemudian harus menyiapkan materi untuk biaya hidup selama berhaji dan juga keluarga yang ditinggalkan di kampung halaman.

Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa berhaji lalu dia tidak mengucapkan kata kotor dan tidak pula berbuat keji maka ia akan terlepas dari dosa-dosanya, sehingga menjadi suci seperti bayi yang baru dilahirkan." (HR Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah). Ampunan itu diberikan ketika Muslim serius melaksanakan haji hingga selesai.

Berhaji merupakan kenikmatan spiritual. Mereka yang melaksanakannya dapat merasakan kedekatan dengan Allah. Meski meninggalkan keluarga, harta, dan sahabat, Muslim tidak merasakan khawatir. Hatinya tetap tenang dengan tetap berzikir menyebut keagungan Allah.

Ketika berhaji, Muslim kerap mengumandangkan, "Labbaik Allahumma labbaik." Artinya, aku datang menyambut panggilan Allah.

Muslim akan menjaga sikapnya selama berhaji. Akan tidak etis apabila mereka berkata kotor atau bertindak tidak sopan di Rumah Allah. Mereka juga tidak diperkenankan merusak pohon yang ada di Tanah Suci.

Ibadah ini dinilai mampu menenangkan hati dan membentuk sikap Muslim agar lebih baik kepada sesama insan dan juga alam semesta. Jamaah haji yang kembali ke Tanah Air diharapkan dapat menjadi teladan bagi masyarakat sekitarnya. Apa yang mereka dapatkan di Tanah Suci akan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.rol

No comments: