70.000 Pengikut Dajjal dari Iran

Salah satu wilayah yang sering disebut dalam teks-teks hadits adalah Isfahan, sebuah kota di Iran saat ini, yang diprediksi akan menjadi salah satu basis massa terbesar bagi Dajjal. Merujuk pada buku “Asyrāthusy Syā’ah” karya Yusuf Al-Wabil, dijelaskan bahwa pengikut Dajjal berasal dari berbagai kalangan.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Imam Muslim:
يَتْبَعُ الدَّجَّالَ مِنْ يَهُودِ أَصْبَهَانَ سَبْعُونَ أَلْفًا عَلَيْهِمُ الطَّيَالِسَةُ
“Dajjal akan diikuti oleh tujuh puluh ribu orang Yahudi dari Isfahan, mereka memakai thailasan (sejenis selendang/jubah).” Identitas thayālisah ini menunjukkan ciri khas pakaian kelompok tertentu yang sangat spesifik pada masa tersebut.
Istilah thayālisah merupakan bentuk plural dari kata thaylasān yang berarti sejenis kain atau selendang (semacam jubah ringan). Kata ini berasal dari bahasa non-Arab (ajam) yang kemudian diserap ke dalam bahasa Arab. (Abul Abbas al-Qurthubi, al-Mufham, VII/293).
Abdurrahman Mubarak Furi dalam “Tuhfatu al-Ahwazhi” (VI/410) memberikan catatan terkait hadits ini, “Riwayat ini tidak secara tegas menyatakan bahwa Dajjal akan keluar dari kota Isfahan. Dan aku tidak menemukan dalam Shahih Muslim riwayat yang secara jelas menyebutkan bahwa ia keluar dari sana.”
Dr. Muhammad Ahmad Mubayyadh dalam buku “al-Mawsū‘ah fī al-Fitan wa al-Malāhim wa Asyrāth al-Sā’ah” (2006: 721-722) menjelaskan bahwa hadits mengenai 70.000 orang Yahudi Isfahan bukanlah pembatas jumlah total, melainkan gambaran kelompok awal yang menjadi “percikan pertama” pengikut Dajjal saat ia muncul. Ia berpendapat bahwa secara keseluruhan, mayoritas pengikut setia Dajjal akan berasal dari kalangan Yahudi.
Hal ini dikaitkan dengan pola pikir (mentalitas) mereka yang cenderung menolak eksistensi Tuhan yang tidak terlihat secara fisik. Dr. Mubayyadh mengacu pada catatan sejarah dalam Al-Qur’an, seperti permintaan mereka kepada Nabi Musa untuk melihat Allah secara langsung, penyembahan patung sapi, serta kecenderungan materialisme dan penyimpangan ajaran para nabi sebagai bukti kesesuaian mentalitas tersebut dengan fitnah Dajjal.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa terdapat sinkronisasi antara sosok Dajjal dengan ekspektasi orang Yahudi mengenai “Sang Penyelamat” atau Raja Perdamaian yang mereka tunggu di akhir zaman. Karena mereka mendambakan pemimpin yang bersifat materialistik dan mampu memuaskan nafsu serta keinginan duniawi mereka, Dajjal dianggap sebagai sosok yang paling memenuhi kriteria “tuhan fisik” yang mereka cari. Dengan demikian, pengikut Dajjal dari kalangan ini bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil dari penyimpangan akidah yang sudah berakar lama dalam sejarah mereka.
Selain identitas kelompok Yahudi, terdapat riwayat lain dari Imam Ahmad yang menambahkan detail mengenai atribut yang mereka kenakan, yaitu mahkota atau perhiasan kepala:
سَبْعُونَ أَلْفًا عَلَيْهِمُ التَيجان
“Tujuh puluh ribu orang yang mengenakan mahkota-mahkota.” Hal ini memberikan gambaran bahwa para pengikut tersebut bukanlah orang-orang sembarangan, melainkan kelompok yang terorganisir dan memiliki status atau ciri khas yang mencolok di wilayah tersebut.
Menilik lebih jauh keterangan beberapa hadits, rupanya tak hanya dari kalangan Yahudi, Dajjal juga akan diikuti oleh bangsa-bangsa non-Arab (Ajam) dan bangsa Turk. Berdasarkan hadits dari Abu Bakar ash-Shiddiq, para pengikut ini digambarkan memiliki fisik yang unik:
“Dia diikuti oleh kaum yang wajah-wajah mereka seperti perisai yang dilapisi kulit.” (HR. Tirmidzi)
Ibnu Katsir berpendapat bahwa deskripsi fisik ini merujuk pada bangsa-bangsa di wilayah Asia Tengah yang akan menjadi pendukung kuat Dajjal dalam menyebarkan kekacauannya di muka bumi.
Kelompok lain yang disebut rentan menjadi pengikut Dajjal adalah kaum Arab Badui (Al-A’rab) karena faktor ketidaktahuan. Dalam hadits Abu Umamah Ra., diceritakan betapa liciknya Dajjal dalam menipu melalui orang tua:
أَرَأَيْتَ إِنْ بَعَثْتُ لَكَ أَبَاكَ وَأُمَّكَ؛ أَتَشْهَدُ أَنِّي رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ
“Bagaimana pendapatmu jika aku bangkitkan ayah dan ibumu, apakah kamu akan bersaksi bahwa aku adalah Tuhanmu? Maka orang Badui itu menjawab: Ya.” (HR. Ibnu Majah)
Dengan bantuan setan yang menyerupai orang tuanya, banyak dari mereka yang akhirnya terperosok ke dalam kesesatan karena lemahnya ilmu.
Fmemprihatinkan lainnya adalah banyaknya kaum wanita yang menjadi pengikut Dajjal. Sifat dasar manusia yang mudah terpengaruh dan kurangnya pemahaman agama di masa itu menjadi faktor utama. Rasulullah SAW bersabda:
يَنْزِلُ الدَّجَّالُ فِي هَذِهِ السَّبْخَةِ بِمَرِّقَنَاةَ، فَيَكُونُ أَكْثَرُ مَنْ يَخْرُجُ إِلَيْهِ النِّسَاءَ
“Dajjal akan turun di lembah garam (Sabkhah) di Marriqanat, dan yang paling banyak keluar menemuinya adalah kaum wanita.” (HR. Ahmad). Situasi ini begitu mencekam sehingga para pria harus mengikat kerabat wanitanya agar tidak lari mengikuti Dajjal.
Hadits-hadits ini bukan bermaksud untuk memojokkan wilayah atau ras tertentu secara sempit, melainkan sebagai peringatan dini (warning) bagi umat Islam. Fitnah Dajjal akan menyerang titik lemah manusia: ketidaktahuan, kemiskinan iman, dan keterpukauan pada keajaiban duniawi. Memperkuat literasi agama dan keteguhan tauhid menjadi satu-satunya benteng agar kita tidak termasuk dalam golongan yang tertipu oleh tipu daya sang pendusta tersebut.
Fenomena munculnya Dajjal beserta para pengikutnya merupakan peringatan keras bagi umat Islam mengenai dahsyatnya fitnah di akhir zaman. Berdasarkan riwayat hadits yang ada, basis massa Dajjal tidaklah homogen, melainkan terdiri dari berbagai lapisan masyarakat: mulai dari kaum Yahudi Isfahan yang memiliki ciri khas fisik dan status tertentu, bangsa-bangsa non-Arab (Ajam) dengan rupa fisik yang spesifik, hingga kelompok masyarakat yang kurang dalam pemahaman agama. Hal ini menunjukkan bahwa ancaman Dajjal bersifat global dan lintas identitas, sehingga kewaspadaan tidak boleh hanya terpaku pada satu wilayah atau kelompok saja.
Keterlibatan kelompok rentan seperti kaum Arab Badui dan sebagian kaum wanita dalam narasi eskatologi ini menggarisbawahi pentingnya aspek literasi agama dan keteguhan iman. Dajjal digambarkan sebagai sosok yang sangat manipulatif, mampu memanfaatkan kerinduan emosional terhadap orang tua maupun kebutuhan material untuk menyesatkan manusia. Oleh karena itu, persiapan yang paling utama bukanlah sekadar pengenalan terhadap atribut fisik Dajjal, melainkan penguatan fondasi tauhid dan pemahaman ilmu syar’i agar tidak mudah terombang-ambing oleh tipu daya yang menyerupai mukjizat.
Sebagai penutup, informasi mengenai 70.000 pengikut dari Isfahan maupun kelompok lainnya hendaknya dipandang sebagai motivasi untuk terus meningkatkan amal ibadah dan doa perlindungan. Rasulullah SAW telah memberikan “perisai” berupa sepuluh ayat pertama surat Al-Kahfi dan doa di penghujung tasyahud akhir sebagai benteng spiritual. Dengan memahami peta fitnah ini, diharapkan umat Islam dapat lebih mawas diri dan mempererat persatuan dalam menjaga akidah di tengah hiruk-pikuk tanda-tanda kiamat yang kian nyata. (MBS)




No comments:
Post a Comment