Wafatnya Jadi Tanda Awal Perpecahan Umat Islam
Kemudian, sosok yang menjadi pemimpin pasca-Abu Bakar ash-Shiddiq itu bertanya.
"Siapakah di antara kalian yang hafal hadis Rasulullah SAW tentang fitnah (bencana besar/kekacauan) yang akan melanda umat?"
Hudzaifah lalu menjawab, "Saya, ya Umar."
Maka sang khalifah pun menyahut, "Engkau sungguh pemberani. Lantas, bagaimanakah sabda Rasulullah SAW itu?"
Hudzaifah menyampaikan hal yang dia dengar dari Nabi Muhammad SAW, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Fitnah seorang laki-laki bersumber dari istrinya, hartanya, dirinya, anaknya, dan tetangganya. Semuanya tidak melakukan puasa, tidak shalat, tidak bersedekah (zakat), serta tidak mau menganjurkan yang ma'ruf dan dan mencegah kemungkaran."
Umar berkata, "Bukan itu. Yang kumaksud adalah tentang huru-hara yang bagaikan gelombang lautan."
Hudzaifah membalas perkataan Umar dengan berucap, "Wahai Amirul Mukminin, engkau tidak terlibat dalam peristiwa itu. Sebab, antara engkau dan fitnah itu ada pintu yang terkunci rapat."
Umar pun bertanya, "Apakah pintunya hancur? Ataukah lantaran pintu itu dibuka seseorang?"
"Tidak dibuka, melainkan dihancurkan orang."
"Kalau begitu," timpal Umar, "pantas saja pintu itu tidak bisa lagi dikunci untuk selama-lamanya."
Ketika menceritakan kisah ini, para sahabat bertanya-tanya. Barulah sesudah itu, mereka meminta keterangan dari Hudzaifah, apakah Umar mengetahui "siapa" atau "apa" yang dimaksud dengan pintu itu?
"Tentu," jawabnya.
Hadis yang dimaksud dalam kisah di atas ialah sebagai berikut, seperti disebut dalam kitab Shahih Muslim.
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تَذْهَبُ الدُّنْيَا حَتَّى يَأْتِيَ عَلَى النَّاسِ يَوْمٌ لَا يَدْرِي الْقَاتِلُ فِيمَ قَتَلَ وَلَا الْمَقْتُولُ فِيمَ قُتِلَ فَقِيلَ كَيْفَ يَكُونُ ذَلِكَ قَالَ الْهَرْجُ الْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ
“'Demi Zat yang jiwaku ini berada dalam genggaman-Nya, dunia ini tidak akan musnah sehingga orang-orang saling bunuh satu sama lain tanpa mengetahui apa penyebabnya. Demikian pula orang yang dibunuh; dia tidak tahu apa penyebabnya sehingga dia harus dibunuh.' Maka, ditanyakanlah kepada beliau, 'Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi?' Beliau menjawab, 'Itulah al-harj, yang membunuh dan yang dibunuh sama-sama di neraka'” (HR Muslim).
Dalam menjelaskan kisah dan hadis ini, Imam an-Nawawi mengatakan, "pintu" yang dimaksud oleh Hudzaifah adalah sosok Umar bin Khattab sendiri.
Maknanya, Hudzaifah pernah mendengar Nabi SAW menuturkan bahwa Umar ibarat pintu yang terkunci rapat, yang bisa menahan dan melumpuhkan segala macam kekacauan yang mungkin terjadi di tengah umat Islam.
Sebab, sahabat berjulukan al-Faruq ini adalah sosok yang selalu cenderung pada keadilan, cermat, dan berwibawa tinggi.
Setelah Umar wafat akibat dendam yang dilakukan seorang pengkhianat, bencana pun datang secara beruntun di tengah kaum Muslimin. Terpaan fitnah itu datangnya bagai gelombang lautan, bertubi-tubi.
Sesudah al-Faruq, khalifah Utsman bin Affan terbunuh oleh kaum pemberontak. Kemudian, khalifah Ali bin Abi Thalib pun nasibnya tak jauh berbeda. Ayahanda Hasan dan Husain itu gugur usai diserang orang Khawarij saat mengimami shalat.
Wafatnya Umar
Peristiwa nahas yang menimpa Umar bin Khattab terjadi di waktu fajar, pada 26 Dzulhijjah 23 H. Sang penerus Abu Bakar ash-Shiddiq itu wafat beberapa waktu sesudah ditusuk seorang penyusup.
Ibnu Maimun menuturkan, "Pada pagi hari sebelum terbunuhnya Umar, saya berdiri dekat sekali dengannya. Antara saya dan dia hanya ada Abdullah bin Abbas. Kebiasannya, sebelum (memimpin) shalat, ia memeriksa jamaah terlebih dahulu.
Umar berjalan di sela-sela shaf dan selalu berkata, 'Luruskan shaf!' Setelah melihat barisan telah rapat dan lurus, beliau maju dan mulai bertakbir.
Pada waktu itu, mungkin ketika ia sedang membaca surah Yusuf atau an-Nahl, ataupun surah lainnya pada rakaat pertama. Seluruh jamaah mengikutinya hingga mau rukuk."
Ibnu Maimun meneruskan ceritanya, "Kemudian, Umar bertakbir (hendak rukuk). Tiba-tiba, kumendengar Umar menjerit, 'Anjing-membunuhku!' Kami melihat, ternyata ia ditikam oleh seorang budak.
Lantas, budak itu berlari (kabur) dengan membawa pisau belati bermata dua. Dia (si budak) berusaha melewati shaf-shaf shalat dan jamaah di shaf-shaf itu terkena tikaman belatinya, baik shaf di sebelah kanan maupun di sebelah kirinya."
Sejarah pada akhirnya mencatat, khalifah Umar bin Khattab ditusuk oleh seorang budak, yang adalah bekas prajurit Persia. Nama pelaku penusukan itu adalah Piruz Nahavandi alias Abu Lu’lu’ah al-Majusi. Piruz diduga menyasar al-Faruq karena tidak terima dengan kedudukan rendah orang-orang Persia yang dibawa ke Madinah sesudah daulah Islam berhasil menaklukkan Imperium Sasaniyah.
Kematian sang amirul mukminin menyulut amarah dalam dada seorang putranya, Ubaidullah. Dengan gelap mata, Ubaidullah bin Umar menyasar orang-orang non-Arab (mawali) Persia di Madinah. Salah seorang yang terbunuh akibat ulahnya ialah Hurmuzan, seorang mantan elite Sasaniyah yang kala itu baru saja dibebaskan dari status tawanan perang dan telah memeluk Islam.
Kepemimpinan Umar diteruskan Utsman bin Affan. Meskipun awalnya lancar, pemerintahan Khalifah Utsman kemudian mulai dirongrong gejolak. Sejak terbunuhnya sosok berjulukan Dzun Nurain itu pada 656, perseteruan lalu mengemuka antara pendukung Ali bin Abi Thalib—penerus kekhalifahan—dan Mu’awiyah bin Abu Sufyan, sang pendiri Dinasti Umayyah.
Perang Siffin memperhadapkan kedua kubu. Konflik yang diakhiri dengan arbitrase itu justru memunculkan kelompok sempalan dari pro-Ali: golongan Khawarij. Mereka dengan keji membunuh sang sepupu Rasulullah SAW.
Lemahnya kubu pro-Ali dimanfaatkan kubu Mu’awiyah. Sepeninggalan gubernur Syam itu, putranya yang bernama Yazid tampil menggantikannya. Yazid bin Mu’awiyah menuntut Husein bin Ali untuk mengakuinya sebagai pemimpin. Tuntutan ini ditolak. Husein lalu keluar dari Madinah, menuju Irak. Mengetahui itu, Yazid menyuruh gubernur Irak, Ubaidullah bin Ziyad, untuk mencegat mereka. Terjadilah Peristiwa Karbala pada 680. Cucu Nabi SAW itu, berserta puluhan sanak famili dan pengikutnya, dibunuh dengan kejam.rol




No comments:
Post a Comment