Setelah peristiwa tersebut, Syam’un merasa sangat menyesal dan bertaubat kepada Allah. Ia kemudian bernazar untuk menebus kesalahannya dengan menghabiskan hidupnya dalam ibadah dan perjuangan melawan kebatilan selama seribu bulan hingga ajal menjemput.
Kisah ini mendapat perhatian penulis Rully Ferdiansyah yang mengangkatnya dalam buku "Syam’un Asal Muasal Lailatul Qadr". Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa ketika Rasulullah SAW menceritakan kisah Syam’un kepada para sahabat, Malaikat Jibril turun membawa wahyu berupa Surah Al-Qadr ayat 1-5.
Dalam ayat tersebut, Allah menjelaskan tentang kemuliaan Lailatul Qadar, malam yang penuh keberkahan di bulan Ramadhan. Keutamaan malam itu begitu besar hingga ibadah pada malam tersebut disebut lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan—yang sering dikaitkan dengan masa ibadah Nabi Syam’un.
Kisah Nabi Syam’un memang tidak disebutkan secara langsung dalam Alquran. Namun sejumlah ulama mencatat riwayatnya dalam literatur sejarah Islam. Salah satunya terdapat dalam kitab Qashashul Anbiya karya ulama besar tafsir, Ibnu Katsir, yang menyebut Syam’un sebagai nabi dari kalangan Bani Israil.
Di balik kekuatan luar biasa yang dimilikinya, Syam’un tetaplah manusia biasa yang menghadapi berbagai ujian. Ia kerap merasakan kekecewaan terhadap kaumnya yang keras kepala. Bahkan dalam satu kisah, ia menghancurkan istana kaumnya sendiri sebagai bentuk perlawanan terhadap kezaliman yang terjadi.
Namun dari seluruh perjalanan hidupnya, keistimewaan Syam’un justru terletak pada keteguhan imannya dalam menegakkan kebenaran. Ia menyadari bahwa musuh terbesar bukan hanya dari luar, tetapi juga dari orang-orang terdekat yang bisa saja mengkhianati perjuangannya.
Kisah Syam’un menjadi pengingat bahwa di balik setiap kesulitan hidup, selalu ada jalan menuju kedekatan dengan Allah. Seperti perjuangan sang nabi perkasa itu, ujian yang berat justru menjadi jalan bagi manusia untuk kembali kepada Tuhan dan memperkuat iman dalam menjalani kehidupan.
Grafis sahabat Nabi dari kalangan non Arab - (Republika)
Tentang Nabi dan Rasul
Untuk diketahui, ada perbedaan tentang Nabi dan Rasul. Ulama mengatakan bahwa Nabi adalah seorang yang diberi wahyu oleh Allah dengan suatu syari’at namun tidak diperintah untuk menyampaikannya, akan tetapi mengamalkannya sendiri tanpa ada keharusan untuk menyampaikannya.
Sedangkan Rasul adalah seorang yang mendapat wahyu dari Allah dengan suatu syari’at dan ia diperintahkan untuk menyampaikannya dan mengamalkannya. Setiap rasul mesti nabi, namun tidak setiap nabi itu rasul. Jadi para nabi itu jauh lebih banyak ketimbang para rasul. Sebagian rasul-rasul itu dikisahkan oleh Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an dan sebagian yang lain tidak dikisahkan.
Salah satu kitab kuning yang membahas tentang aqidah ini adalah 'Aqidah Al-Awwam karya Sayyid Ahmad Al-Marzuki Al-Maliki, yang ditulis pada tahun 1258 H. Pada kitab tersebut dibahas mengenai jumlah Nabi dan Rasul, Alquran tidak pernah menyebutkannya. Hanya saja, yang wajib diketahui berjumlah 25 orang. Mereka adalah Nabi Adam, Idris, Nuh, Hud, Sholeh, Ibrahim, Luth, Ismail, Ishaq, Ya'qub, Yusuf, Ayyub, Syuaib, Harun, Musa, Ilyasa', Dzulkifli, Dawud, Sulaiman, Ilyas, Yunus, Zakaria, Yahya, Isa dan Muhammad SAW. Para nabi dan rasul ini didalam Alquran disebutkan sebanyak 18 Rasul dalam surah Al-An'am, dan tujuh Rasul lainnya pada berbagai ayat pada surah-surah lainnya.
Para ulama berselisih pendapat mengenai jumlah Nabi dan Rasul. Ada yang menyebutkan jumlah Nabi mencapai 124 ribu orang sedangkan jumlah Rasul sebanyak 313 orang, sebagaiman yang di riwayatkan oleh Ibnu Mardawiyah dari Abu Dzar ra. Lihat Ibnu Katsir i/585 ).
Sementara itu, Syaikh Al-Bajuri berpendapat jumlah Nabi dan rasul itu tidak terbatas. ''Pendapat yang shahih (benar) mengenai para Nabi dan Rasul adalah tidak membatasi jumlah dengan hitungan tertentu. Karena hal itu bisa menetapkan kenabian pada seorang yang realitasnya bukan Nabi atau sebaliknya menabikan kenabian pada seorang padahal realitasnya dia benar-benar Nabi.''
keterangan Bajuri ini, kata pengarang Kitab ini bersumber pada Al-Quran surah An-Nisa ayat 164. ''Dan (Kami telah mengutus) Rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu dan para Rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu.''rol
No comments:
Post a Comment