Lailatul Qadar menjadikan hati orang yang mendapatkannya dipenuhi kedamaian.
Red: Hasanul Rizqa

Foto: Republika/Thoudy Badai
Malam
Lailatul Qadar merupakan malam istimewa pada bulan Ramadhan. Kehadiran malam yang lebih baik dari seribu bulan ini sangat dinanti-nantikan oleh segenap umat Islam ingin meraihnya. Meski demikian, tak ada yang mengetahui siapa yang beruntung bisa mendapatkan malam mulia tersebut.
Ahli tafsir Alquran, Prof KH Quraish Shihab dalam bukunya, Menjawab ?...1001 Soal Keislaman Yang Patut Anda Ketahui menjelaskan, memang tak ada yang bisa mengira tentang siapa yang meraih Lailatul Qadar. Menurut KH Quraish, tanda yang paling jelas bahwa orang itu mendapatkan Lailatul Qadar yakni yang berkaitan dengan sikap dan perilaku keseharian.
Quraish menjelaskan, Lailatul Qadar dilukiskan sebagai salam kedamaian sampai terbitnya fajar. Lailatul Qadar menjadikan hati orang yang mendapatkannya dipenuhi dengan kedamaian dan ketenteraman. Kedamaian itu mengantar peraih Lailatul Qadar dari ragu menjadi yakin, dari kebodohan kepada ilmu, khianat kepada amanat, riya' kepada ikhlas dan sombong kepada tahu diri.
Quraish menambahkan, malaikat-malaikat turun pada malam Lailatul Qadar. Karena itu, mereka yang meraihnya akan selalu memiliki sikap yang mengarah kepada kebaikan. Disana, ada bimbingan dari malaikat. Tanda-tanda itu, kata KH Quraish, dapat dijadikan tanda bahwa seseorang mendapatkan Lailatul Qadar.
KH Quraish Shihab mengatakan, cara meraih Lailatul Qadar yakni dengan giat mendekatkan diri kepada Allah dan menjalankan segala kebajikan. Menurut dia, kebajikan yang dimaksud bukan sekadar rajin membaca Alquran, iktikaf dan ibadah ritual lainnya. Kebaikan disini juga termasuk kebajikan sosial, dan meningkatkan ilmu pengetahuan.
Dia pun dianjurkan agar mengisi diri dengan akhlak mulia lalu membersihkan diri dari penyakit jiwa seperti iri, dengki, angkuh dan riya'. Ibadah pun harus dilakukan secara ikhlas sehingga akan membelas di dalam jiwa. Dengan praktik itu, seseorang akan menjadi damai dan tenteram. Sikapnya akan berubah kepada hal yang lebih baik. Peluang meraih Lailatul Qadar pun akan terbuka lebar.
Tahapan turunnya Alquran
Menurut alim ulama, Alquran tidak hanya diturunkan pada Lailatul Qadar. Turunnya kitab suci ini melalui tiga fase berturut-turut. Ada yang sekaligus menurunkan Alquran. Ada pula tahapan yang di dalamnya kitabullah turun secara berangsur-angsur.
Pertama, tahapan Lauh Mahfuzh. Mulanya, Allah menurunkan Alquran ke Lauh Mahfuzh. Kitab suci ini diturunkan ke sana secara keseluruhan. Dalilnya adalah surah al-Buruj ayat 21-22. Artinya, “Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Alquran yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.”
Imam al-Hafidz Badruddin al-Aini mengatakan, Lauh Mahfuzh di sisi Allah Ta’ala. Penyebutan itu tak berarti dalam perspektif tempat, melainkan isyarat kesempurnaan keberadaannya dibanding makhluk-makhluk lainnya.
Jumhur ulama biasa mengartikan Lauh Mahfuzh sebagai kitab atau peranti keras raksasa yang menyimpan seluruh data atau cetak biru mengenai segala peristiwa yang terjadi, sejak zaman azali hingga kiamat. Makhluk itu sering disinonimkan dengan Umm al-Kitab (QS ar-Ra'd:39), Kitab Maknun (QS al-Waaqi'ah:77), dan Kitab al-Mubin (QS al-An'aam:59).
Kedua, tahapan Baitul Izzah. Fase ini merupakan kelanjutan dari sebelumnya.
Setelah di Lauh Mahfuzh, Alquran secara utuh diturunkan ke Baitul Izzah, yakni langit dunia (samaaud dunya). Ini terjadi pada bulan suci. Ulama-ulama menyatakan, momen turunnya Alquran itu berlangsung pada malam Jumat tanggal 17 Ramadhan.
Saat itu disebut pula sebagai Lailatul Qadar. Allah SWT memuji Ramadhan sebagai bulan turunnya Alquran. Lihat, misalnya, surah al-Baqarah ayat 185. Artinya, “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Alquran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).”
Lailatul Qadar yang dicari pada Ramadhan berbeda-beda berdasarkan beberapa riwayat. Satu hadis menyatakan, “Maka carilah oleh kalian pada 10 malam terakhir (Ramadhan)” (HR Muslim). Rasulullah SAW juga bersabda, “Apabila tiba Lailatul Qadar, Jibril turun ke dunia bersama kumpulan para malaikat dan akan berdoa bagi orang yang berdiri shalat malam dan duduk mengingat Allah.”
Akhirnya, tibalah pada tahapan terakhir. Pada fase ini, Alquran diturunkan melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Turunnya kitabullah ini terjadi secara berangsur-angsur, yakni dalam kurun waktu sekitar 23 tahun. Dalil terkait hal itu adalah surah as-Syu’ara ayat 193-195.
Artinya, “Yang dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril). Ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau termasuk orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas.”
Nabi SAW bersabda, “Shuhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama Ramadhan. Taurat diturunkan pada hari keenam Ramadhan. Injil diturunkan pada tanggal 13 Ramadhan. Zabur diturunkan pada tanggal 18 Ramadhan. Dan Alquran diturunkan pada tanggal 24 Ramadhan.” Dengan demikian, bulan ini tidak hanya istimewa bagi umat Rasulullah SAW, tetapi juga kaum beriman dari masa-masa sebelumnya.
Maka, jangan sia-siakan kesempatan yang baik di bulan suci. Tingkatkan interaksi dengan Alquran sehingga kelak setiap bacaan akan menjadi saksi yang meringankan kita di Hari Kiamat.rol
No comments:
Post a Comment