Alasan Pedagang Arab dan Persia Makin Aktif Sebarkan Islam di Nusantara Abad ke-12

Muslim telah sampai ke Nusantara dan China sekitar abad ke-7. Rep: Fuji Eka Permana,Fuji Eka Permana,/ Red: Muhammad Hafil
Makam Fatimah binti Maimun (wafat 1028 M) di Leran, Gresik, Provinsi  Jawa Timur.
Foto: Abdul Hadi WM
 Pedagang Muslim dari Arab dan Persia pada awalnya lebih banyak beraktivitas dalam perdagangan di Nusantara. Namun, memasuki penghujung abad ke-12, aktivitas mereka mulai berkembang. Selain berdagang, mereka semakin aktif menyebarkan Islam sekaligus membangun hubungan religio-kultural yang kelak mempererat keterkaitan antara Nusantara dan Timur Tengah.

Menurut buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII-VXIII yang ditulis Prof. Azyumardi Azra, kebangkitan beberapa kerajaan Muslim di Nusantara sejak abad ke-13 menciptakan momentum baru bagi hubungan politik dan agama antara Timur Tengah dengan Nusantara.

Dalam catatan sejarah, Muslim telah sampai ke Nusantara dan China sekitar abad ke-7. Seiring berjalannya waktu, semakin meningkatnya kehadiran para penyiar agama Islam, khususnya yang berasal dari Arab, yang menyebarkan Islam kepada penduduk pribumi Nusantara.

Perkembangan di akhir abad ke-12 ini menunjukkan kontras dengan fenomena sebelumnya. Pada masa sebelumnya Muslim Arab dan Persia memusatkan kegiatan mereka pada perdagangan, sebaliknya sejak menjelang akhir abad ke-12 mereka mulai memberikan perhatian khusus pada usaha-usaha penyebaran Islam di Nusantara.

Pergeseran-pergeseran dalam kegiatan-kegiatan ini tidak hanya disebabkan perubahan-perubahan politik agama di Timur Tengah sendiri, tetapi juga oleh kemerosotan perdagangan di Nusantara sebagai akibat kemunduran kekuasaan Sriwijaya, khususnya sejak menjelang akhir abad ke-12. Selain itu, kemunduran Sriwijaya, di samping disebabkan faktor-faktor internal, juga berkaitan dengan kebangkitan kerajaan-kerajaan baru di Jawa, seperti Kerajaan Kediri.

Terlepas dari faktor-faktor penyebabnya, dampak kemunduran Sriwijaya terhadap perdagangan di Nusantara sangat besar. Dalam upaya meningkatkan kembali pendapatan negara yang terus merosot, para penguasa Sriwijaya menempuh kebijakan ekonomi dan perdagangan yang monopolistik, mengenakan bea yang besar terhadap kapal-kapal asing, dan memaksa para pedagang asing membayar denda yang berat jika mereka berusaha berdagang di pelabuhan-pelabuhan lain di Nusantara. Sebagai konsekuensinya, para pedagang asing, khususnya pedagang-pedagang Muslim Arab dan Persia, kini menghadapi kesulitan dan gangguan berat dalam perdagangan mereka.

Muslim telah sampai ke Nusantara dan China sekitar abad ke-7.

Rep: Fuji Eka Permana,Fuji Eka Permana,/ Red: Muhammad Hafil
Dengan mempertimbangkan semua perkembangan ini, maka heran para pedagang Arab dan Persia mengalihkan kegiatan-kegiatan dagang mereka ke tempat-tempat lain di Nusantara. Selain itu, mereka mulai mengambil bagian lebih aktif dalam penyebaran Islam. Hasilnya, bentuk-bentuk hubungan baru yang lebih akrab antara Timur Tengah dan Nusantara juga mulai muncul, hubungan yang diperkuat dengan tali agama yang kini dengan cepat berkembang.

Hubungan dagang tentu saja tidak ditinggalkan. Sebaliknya, hubungan dalam bidang ini diperkuat dengan pembentukan hubungan-hubungan religio-kultural, yang selanjutnya diikuti oleh hubungan dalam bidang-bidang lain, khususnya dalam bidang politik.

Sentimen religio-kultural yang menghubungkan Dunia Islam di Timur Tengah dan Nusantara kemudian berkembang melewati batas-batas ajaran formal Islam. Bagi banyak Muslim Nusantara, sentimen itu mengalir jauh ke dalam ambang kesadaran mereka. Banyak tradisi lisan dan literatur awal Nusantara memberikan kesaksian tentang hal ini.

Para penguasa Muslim di Sumatera dan Semenanjung Malaya tempat Islam pertama kali menancapkan akar terkuatnya sering mengasosiasikan diri mereka dengan kekuasaan-kekuasaan politik besar di Timur Tengah. Di Minangkabau, misalnya, menurut tambo (riwayat pseudo-historis lokal), Alam Minangkabau tercipta dari "Nur Muhammad" bersamaan dengan dua alam lainnya, masing-masing "Benua Ruhum" (secara harfiah Benua Roma yakni Turki Utsmani) pemegang hegemoni kekuasaan wilayah Barat, dan Benua Cina pemegang hegemoni kekuasaan wilayah Timur.

Konsepsi tentang penciptaan Alam Minangkabau jelas dipengaruhi teori emanasi dalam filsafat Islam dan tasawuf. Ini memperkuat argumen sebelumnya bahwa Islam yang pertama kali berkembang di Nusantara adalah Islam yang dibawa kaum sufi, yakni Islam yang sangat dipengaruhi konsepsi-konsepsi tasawuf.

Tetapi, apa yang lebih penting di sini adalah penguasa Alam Minangkabau yang, menurut William Marsden, menyebut diri sendiri "Aour Allum Maharaja Diraja" dipercayai merupakan adik laki-laki Sultan Ruhum (atau Rum) yang disebut sebagai Maharaja Alief. Jadi, orang Minangkabau percaya bahwa penguasa pertama mereka adalah keturunan Khalifah Rum (Utsmani) yang ditugaskan untuk menjadi Syarif di wilayah tersebut. rol

No comments: