Jejak Koin Dinasti Umayyah di Tapanuli: Kisah Doktrin Tauhid Khalifah Melawan Ideologi Bizantium

 Khalifah membuat koin tersebut dengan menekankan kepada keesaan Tuhan. Red: A.Syalaby Ichsan

Koin peninggalan Dinasti Umayyah
Foto: Ist
Temuan koin kuno dari masa Dinasti Umayyah hingga Abbasiyah di situs Bongal, Tapanuli Tengah, mengungkap betapa luas syiar Islam yang dilakukan setelah akhir masa kenabian. 

Ekskavasi arkeologi di Situs Bongal, Desa Jagojago, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, dinilai berhasil menyingkap bukti konkret hubungan perdagangan maritim internasional antara Nusantara dan dunia Islam pada abad ke-8 hingga ke-9 Masehi. Tidak hanya dari Abbasiyah, tetapi pada masa lebih awal yakni Dinasti Umayyah.

Dalam artikel ilmiah bertajuk 'Kontribusi Koin Umayyah Temuan Situs Bongal  terhadap Histiografi Islam di Sumatera Utara,' yang diterbitkan Historial Studies Journal Yupa, Vol.6, Ning Arrumdani, Hasan Asari, Nabila Yasmin, mengungkapkan, dinar dan dirham sebagai alat transaksi masih terus digunakan oleh masyarakat Arab ketika ajaran Islam sudah hadir.

Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah tentang penggunaan dinar dan dirham sebagai alat transaksi yang sah. Pada masa Khulafaurrasyiddin yakni pada masa pemerintahan Umar bin Khatab, dimasukkan lambang Islam pada Dinar dan Dirham yang digunakan di kalangan Bangsa Arab.

Pada tahun 18 H, mulailah dimasukkan kalimat-kalimat Islam dalam mata uang tersebut seperti  bismillah, Alhamdulillah, bismirobbika,  Muhammadurrasulullah. Hal tersebut memberikan gambaran bahwa Islam sudah mulai berkembang dan memiliki integritas.

 

photo
Temuan-temuan dari Situs Bongal, Kabupaten Tapanuli Tengah. - (BRIN)

Penggunaan mata uang dinar dan dirham masih terus berlanjut ke pemerintahan Kekhalifahan Umayyah. Pada masa awal pemerintahan Kekhalifahan Umayyah yakni Khalifah Muawiyah bin Abu Sofyan, pencetakan mata uang masih mengikuti pola Dinasti Sasanid sehingga hanya mencantumkan beberapa kata Islami saja (Syukur, 2020).

Pencetakan mata uang beruhkan Islam pertama kali dibuat oleh Khalifah Umayyah kelima yakni Abdul Malik bin Marwan yang memerintah tahun 685-701 M. Koin emas Umayyah pertama kali dicetak tahun 691 M dengan membubuhkan gambar Khalifah dan kalimat syahadat dipinggir koin. 

Hal tersebut menimbulkan perselisihan antara Khalifah Abdul Malik bin Marwan dengan Kaisar Bizantium. Koin Umayyah yang dibuat Abdul Malik bin Marwan menekankan keesaan pada Tuhan untuk melawan doktrin Trinitas Kristen. Kemudian Kaisar Bizantium Justian II menanggapi koin yang dicetak oleh Abdul Malik bin Marwan dengan menggambarkan kepala Kristus di bagian depan koin dan gambar dirinya yang memegang salib di bagian belakang koin.

 

photo
ILUSTRASI Masjid Agung Umayyah di Damaskus - (dok wiki)

Khalifah Abdul Malik bin Marwan merespon koin Kaisar Bizantium Justian II dengan mengeluarkan dinar baru yakni pada tahun 693 M di bagian depan digambarkan sosok khalifah  yang tegak dengan mengenakan hiasan kepala Arab dan memegang pedang dengan kesaksian Islam yang bertulis dipinggir gambar khalifah tersebut.

Khalifah Abdul Malik bin Marwan pada tahun 679 M, memutuskan untuk meninggalkan seluruh simbol gambar Khalifah pada koin Islam. Pada saat itu, di kedua sisi Dinar dituliskan ayat-ayat Alquran untuk mengungkapkan pesan Islam dalam upaya penyebaran Islam.

Setelah itu, Abdul Malik bin Marwan mengeluarkan keputusan yang menjadikan satu-satunya mata uang yang digunakan di seluruh negeri Umayyah adalah mata uang yang dikeluarkan oleh kekhalifahan Umayyah. Oleh karena itu, semua koin-koin Bizantium yang tersisa harus diserahkan ke pembendaharaan khalifah Umayyah untuk dilebur dan dicetak kembali. Apabila tidak mengikuti peraturan tersebut maka akan menghadapi hukuman mati.

Kekhalifahan Umayyah tidak hanya mencetak koin dinar emas saja. Ada juga jenis mata uang lain yang dicerak seperti dirham perak dan juga fulus yang terbuat dari tembaga. Masing- masing pencetakannya dibuat di kawasan yang berbeda.

Koin emas Umayyah umumnya dicetak di Damaskus. Sedangkan untuk koin jenis dirham perak dan fulus tembaga dicetak di tempat lain seperti Kufah, Basrah, Wasith, dan lain sebagainya.

Mata uang yang dicetak olek Kekhalifahan Umayyah digunakan sebagai alat tukar di seluruh dunia. Hal ini dibuktikan dari berbagai temuan koin Umayyah diberbagai kawasan di dunia.

Pertama, penemuan koin Umayyah di situs Banbhore, Pakistan. Berdasarkan hasil laporan penelitian yang dilakukan oleh Departemen Arkeologi dan Museum Pakistan, pada tahun 1960 ditemukan dua koin dirham Umayyah yang berasal dari khalifah ke enam yakni Al Walid bin Malik (705-715 M).

 

Temuan lainnya adalah satu koin dirham Umayyah yang berasal dari khalifah ke sepuluh yakni Hisham bin Abdul Malik (724-743 M) (Khan, 1976). Diketahui bahwa situs Banbhore merupakan sebuah situs pelabuhan kuno yang sangat aktif pada tahun 7- 10 M, dan situs ini juga merupakan salah satu pelabuhan yang sering disinggahi pada pedagang Arab.

Selanjutnya, temuan koin Umayyah juga terdapat di situs Elandhakarai, Tamil Nadu dalam kegiatan ekskavasi yang dilakukan oleh Departemen Arkeologi Tamil Nadu pada tahun 2019. Ekskavasi ini menghasilkan temuan koin emas yang berasal dari masa kekhalifahan Umayyah.

Koin Umayyah juga ditemukan di situs yang baru-baru ini muncul yakni Situs Bongal. Situs Bongal terletak di bukit Bongal, Desa Jago-jago, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah. Dalam Berita Penelitian Arkeologi tahun 2001, disebutkan bahwa temuan Arca Ganesha yang menjadi awal kemunculan situs Bongal ini.

Pada 2019, berdasarkan laporan peninjauan jejak arkeologis di Desa Jago-Jago yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Sumatera Utara menjelaskan adanya temuan artefak jejak aktivitas masa lalu. Laporan tersebut menjelaskan berbagai jenis artefak yang ditemukan warga di dalam lubang galian tambang emas.

Temuan-temuan artefak itu antara lain adalah fragmen kaca Timur Tengah, fragmen gerabah dan keramik yang berasal dari Timur Tengah dan China, ada juga keramik dari Timur Tengah, India, dan China, ada juga temuan berupa benda benda aktivitas manusia seperti jarum, arca kecil, fragmen kayu kapal kuno, dan masih banyak lagi.

Di dalam laporan Balai Arkeologi Sumatera Utara lebih lanjut dijelaskan bahwa warga juga mendapatkan temuan lainnya yang berbahan logam baik emas, perak, dan perunggu berbentuk koin. Ada banyak jenis koin yang ditemukan di situs ini seperti koin Sasanian, koin Umayyah, koin Abbasiyah, koin China, dan koin Dinasti Pandya dari India (Purnawibowo & Restiyadi, 2019). Koin Umayyah yang ditemukan oleh warga memiliki variasi dan karakteristik yang berbeda-beda mulai dari ukuran, khat atau kaligrafi , bahannya, hingga inskripsi yang tertera pada koin-koin tersebut.rol

No comments: