Yang Dilakukan Penguasa Ottoman Sultan Abdul Hamid II untuk Lindungi dan Persatukan Umat?

Sultan Abdul Hamid II dikenal sebagai pemimpin unggul. Red: Nashih Nashrullah
Sultan Abdul Hamid II
Foto: Wikipedia
Belakangan ini, sosok dan figur penting dalam sejarah Islam, yakni Sultan Utsmani Abdul Hamid II, kerap menjadi sasaran berbagai tudingan.Setiap kali seseorang ingin mencari pembenaran atas kekalahan atau kegagalannya, penyebabnya sering dialihkan kepada penguasa terakhir yang dianggap telah menjaga umat, mempertahankan wilayah kekuasaannya, serta membela agamanya dari berbagai ancaman di Timur maupun Barat.

Demikian pula ketika para politisi di Turki dan dunia Arab terlibat dalam perdebatan politik atau persaingan dalam pemilihan umum, tidak jarang Sultan Abdul Hamid dituding sebagai penyebab kelemahan dan perpecahan di negara mereka.

Tuduhan semacam itu merupakan bentuk pemutarbalikan sejarah dan penyederhanaan dalam memahami dinamika perubahan peradaban.

Lalu, siapakah Sultan Abdul Hamid II? Apa perannya dalam melindungi dan mempersatukan umat Islam dalam sebuah negara yang kuat, di tengah berbagai tantangan yang dihadapinya selama masa pemerintahan?

Sekjen Persatuan Umat Islam se-Dunia, Syekh Muhammad Ash-Shalabi, dikutip laman resminya, Senin (28/9/2026). 

Sultan Abdul Hamid II merupakan sultan ke-34 Kesultanan Ottoman. Ia naik takhta pada usia 34 tahun. Ia lahir pada 16 Sya'ban 1258 H (1842 M).

Ibu Sultan Abdul Hamid meninggal ketika ia berusia sepuluh tahun. Setelah itu, ia diasuh oleh istri kedua ayahnya yang tidak memiliki anak.

Perempuan tersebut merawatnya dengan penuh kasih sayang dan berusaha menjadi sosok ibu baginya. Ia juga mewariskan hartanya kepada Abdul Hamid.

Pola pendidikan dan pengasuhan tersebut sangat memengaruhi kepribadian Sultan Abdul Hamid.

a mengagumi ketenangan, kesalehan, serta tutur suara perempuan yang lembut dan tenang itu. Pengaruh tersebut tercermin dalam kepribadiannya sepanjang hidup.

Abdul Hamid memperoleh pendidikan formal di lingkungan istana, di bawah bimbingan sejumlah tokoh terkemuka pada zamannya, baik dalam bidang ilmu maupun akhlak.

Ia mempelajari bahasa Arab dan Persia, mendalami sejarah, mencintai sastra, serta memperdalam ilmu tasawuf. Ia juga menulis beberapa puisi dalam bahasa Turki Utsmani. (Sultan Abdul Hamid II, Muhammad Harb, hlm 31).

Ia juga berlatih menggunakan senjata. Ia mahir menggunakan pedang dan menembak dengan pistol.

Ia menjaga kebugaran fisik dan memiliki perhatian besar terhadap politik internasional. Ia mengikuti perkembangan dunia serta posisi negaranya di tengah percaturan internasional dengan perhatian dan ketelitian yang tinggi.

Dalam perspektif penulis, Sultan Abdul Hamid merupakan penguasa terakhir yang memiliki kewenangan nyata dalam mengelola urusan dunia Islam di Kesultanan Utsmaniyah. Ia memerintah pada 1876–1909 M.

Pertama, peran Sultan Abdul Hamid dalam menggagalkan rencana para lawan

Sejak kuartal pertama abad ke-19, Inggris mulai mendorong orang-orang Kurdi untuk melawan Kesultanan Ottoman.

Tujuannya, di satu sisi, adalah menciptakan permusuhan antara Utsmani dan Kurdi, dan di sisi lain mendorong pembentukan negara Kurdi dengan mengambil sebagian wilayah Kesultanan Utsmaniyah.

Setelah British East India Company berkembang, perhatian Inggris terhadap Irak semakin besar. Inggris berupaya menumbuhkan gerakan nasional di kalangan para penguasa setempat.

Para perwakilan Inggris berkeliling di antara suku-suku Kurdi di Irak dalam upaya menyatukan mereka untuk melawan Kesultanan Utsmaniyah.

Arsitektur peninggalan Ottoman - (republika)
Intelijen Utsmani memantau perkembangan tersebut secara sangat cermat. Sultan Abdul Hamid kemudian menyusun langkah tandingan untuk menghadapi apa yang dipandangnya sebagai upaya Inggris memecah-belah wilayah kekuasaan Utsmani. Di antara langkah yang ditempuh adalah:

1. Pemerintah Utsmani memberikan perlindungan kepada masyarakat Kurdi dari serangan kelompok-kelompok Armenia yang disebut dalam sumber tersebut sebagai serangan berdarah

2. Sultan mengirimkan sejumlah ulama kepada suku-suku Kurdi untuk memberikan nasihat, bimbingan, serta mengajak mereka bersatu melalui gagasan persatuan Islam. Para ulama tersebut berperan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat Kurdi terhadap ambisi kekuatan-kekuatan Barat

3. Sultan Abdul Hamid mengambil berbagai langkah untuk memastikan hubungan antara para pemimpin Kurdi dengan dirinya dan dengan pemerintahan Utsmani tetap terjaga

4. Ia membentuk unit-unit militer Hamidiye di Anatolia Timur yang terdiri dari orang-orang Kurdi, dengan tujuan menghadapi serangan Armenia

5. Pemerintah Utsmani mengambil sikap tegas terhadap ambisi Armenia untuk mendirikan negara di wilayah yang merupakan bagian dari Kesultanan Utsmaniyah.

Dengan demikian, masyarakat Kurdi yang tinggal di wilayah tersebut merasa lebih aman. (Sultan Abdul Hamid II, hlm 132).

6. Pemerintah berupaya mengungkap rencana Inggris untuk memecah Kesultanan Utsmaniyah dengan mengatasnamakan kebebasan bangsa-bangsa, yakni gagasan bahwa setiap kelompok etnis harus mendirikan negara sendiri.

Menghadapi Inggris di Yaman

Sultan Abdul Hamid juga berhasil membatasi pengaruh Inggris di Yaman dan mencapai sejumlah keberhasilan dalam persaingannya dengan Inggris di wilayah tersebut.

Ia membentuk sebuah pasukan militer di Yaman yang berjumlah sekitar 8.000 tentara untuk mengembalikan Yaman ke dalam kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah.

Perhatiannya terhadap Yaman begitu besar sehingga ia mengirim sejumlah panglima terkenal untuk memimpin pasukan tersebut, antara lain Ahmed Mukhtar Pasha, Ahmed Fevzi Pasha, Hussein Hilmi Pasha, Tawfiq Pasha, Marsekal Osman Pasha, dan Ismail Haqqi Pasha.

 
Salah satu Barbarossa bersaudara, pelaut ulung yang juga bajak laut pengabdi Ottoman. - (dok wiki)
Inggris berusaha menyulut pemberontakan di Yaman terhadap Kesultanan Utsmaniyah. Namun, menurut sumber yang digunakan dalam tulisan ini, kebijakan Sultan Abdul Hamid yang dianggap bijaksana memungkinkan pemerintah Utsmani mempertahankan pengaruhnya di Yaman. (Sultan Abdul Hamid II, hlm 224).

Kalangan Utsmani juga berupaya memperluas jalur kereta api Hijaz hingga ke Yaman. Dokumen-dokumen yang ditemukan menunjukkan adanya perencanaan dan kajian mendalam mengenai proyek besar tersebut.

Kedua, menghadapi ambisi Italia di Libya

Italia memiliki ambisi untuk menguasai Afrika Utara karena menganggap kawasan tersebut sebagai warisan Italia. Perdana Menteri Italia, Mazzini, pernah menyampaikan pandangan tersebut.

Namun, setelah Prancis menduduki Tunisia dan Inggris menduduki Mesir, Libya menjadi sasaran yang tersisa bagi Italia.

Italia menyusun kebijakannya di Libya melalui tiga tahap:

1. Pendekatan damai, dengan mendirikan sekolah, bank, dan berbagai “lembaga pelayanan”

2. Upaya diplomatik, dengan mendorong negara-negara lain untuk mengakui ambisi Italia menguasai Libya

3. Penyataan perang terhadap Kesultanan Utsmaniyah dan pendudukan Libya secara langsung.

Istana Topkapi tampak dari udara. - (visit2istanbul.com)
Kebijakan Italia pada saat itu tidak terlalu menarik perhatian, berbeda dengan gerak-gerik Inggris atau Prancis. Orang-orang Italia bergerak dengan sangat “hati-hati” dan “tenang”, tanpa menimbulkan kecurigaan di kalangan pemerintah Utsmani.

Namun, Sultan Abdul Hamid telah mewaspadai ambisi Italia tersebut. Ia meminta informasi dari berbagai sumber mengenai aktivitas orang-orang Italia di Libya serta tujuan mereka.

Informasi yang diterimanya menyebutkan bahwa sekolah, bank, dan lembaga amal yang didirikan Italia di wilayah Kesultanan Utsmaniyah, baik di Libya maupun Albania, pada akhirnya ditujukan untuk mewujudkan ambisi Italia menguasai:

1. Tripolitania (Tripoli Barat)

2. Albania

3. Wilayah Anatolia yang berada di pesisir Laut Mediterania, termasuk Izmir, Iskenderun, dan Antakya.

Sultan Abdul Hamid II kemudian mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menghadapi ambisi Italia.

Ketika ia melihat kemungkinan terjadinya serangan bersenjata Italia terhadap Libya, ia memperkuat pasukan Utsmani di Libya dengan mengirim sekitar 15 ribu tentara.

Ia terus memantau pergerakan Italia dengan penuh kewaspadaan dan secara langsung mengikuti perkembangan yang berkaitan dengan Libya.

Ia memperoleh informasi melalui duta besar Kesultanan Utsmaniyah di Roma dan gubernur Tripoli.

Menurut sumber yang digunakan dalam tulisan ini, langkah tersebut membuat Italia terpaksa menunda rencana pendudukannya atas Libya.

Pendudukan tersebut akhirnya berlangsung pada masa pemerintahan Komite Persatuan dan Kemajuan (Committee of Union and Progress).


Istana Topkapi Istanbul, Turki. - (minutetravelguide.com)
Pembahasan mengenai hal tersebut, menurut penulis asli, akan dijelaskan lebih rinci dalam buku ketujuh yang membahas gerakan Sanusiyah serta peran dakwah dan perjuangannya di Afrika.

Ketiga, Pan-Islamisme, menghadapi ambisi Barat, dan mempersatukan umat

Gagasan persatuan Islam atau Pan-Islamisme mendapat respons luas di dunia Islam karena sejumlah faktor.

1. Gelombang kolonialisme Eropa

Pada paruh kedua abad ke-19, negara-negara Eropa saling bersaing dalam memperluas kolonialisme di Timur. Serangkaian agresi kemudian terjadi terhadap masyarakat Muslim.

Prancis menduduki Tunisia pada 1881, sedangkan Inggris menduduki Mesir pada 1882. Prancis juga semakin jauh mencampuri urusan Maroko hingga akhirnya mendirikan protektorat di sana pada 1912, sementara wilayahnya dibagi dengan Spanyol.

Kolonialisme Eropa juga semakin meluas ke berbagai wilayah Afrika yang mayoritas penduduknya Muslim, seperti Sudan, Nigeria, Zanzibar, dan wilayah lainnya.

2. Kemajuan transportasi, komunikasi, dan pers

Kemajuan sarana transportasi dan komunikasi mempererat hubungan antara berbagai wilayah dunia Islam. Pada saat yang sama, gerakan pers berkembang di Mesir, Turki, Aljazair, India, Persia, Asia Tengah, dan Jawa (Indonesia).

Surat kabar membahas persoalan kolonialisme dan ambisi negara-negara Eropa di dunia Islam. Berita mengenai serangan dan ekspansi Eropa ke wilayah Muslim tersebar luas.


Hal ini membangkitkan kepedulian dan menggugah emosi masyarakat Muslim terhadap penderitaan saudara-saudara mereka di berbagai negeri.

3. Seruan para ulama untuk menghidupkan kembali kejayaan Islam

Para ulama juga menyerukan pentingnya menghidupkan kembali kejayaan Islam. Di berbagai wilayah dunia Islam berkembang seruan untuk menyatukan barisan.

Serangan Barat yang terus berlangsung terhadap masyarakat Muslim semakin memperkuat rasa keterikatan dan solidaritas di antara mereka. Muncul pula pandangan bahwa telah tiba waktunya bagi masyarakat Muslim untuk bersatu dan berada di bawah panji kekhalifahan Utsmaniyah, di samping berbagai faktor lainnya. (Shahwah al-Rajul al-Maridh, hlm. 112).

Menurut penulis, Sultan Abdul Hamid II berhasil menghidupkan kembali kesadaran umat Islam mengenai pentingnya mempertahankan persatuan dan berusaha menyatukan umat di bawah panji kekhalifahan Utsmaniyah.

Dengan demikian, ia berupaya mencapai dua tujuan.

Pertama, memperkuat negara kekhalifahan dari dalam menghadapi berbagai gerakan nasionalisme, westernisasi, serta kelompok-kelompok politik dan sosial yang oleh penulis sumber dikaitkan dengan gerakan Freemason, Zionisme, kolonialisme, dan kekuatan Kristen.

Kedua, di luar negeri, umat Islam yang berada di bawah kekuasaan negara-negara Eropa seperti Rusia, Inggris, dan Prancis dapat dihimpun di bawah panji kekhalifahan.

Dengan demikian, menurut penulis, Kesultanan Utsmaniyah dapat menghadapi negara-negara tersebut dan menggunakan dukungan umat Islam sebagai instrumen tekanan politik, termasuk melalui ancaman menggerakkan umat Islam dan menyerukan jihad terhadap kekuatan kolonial di berbagai wilayah dunia Islam. (Shahwah al-Rajul al-Maridh, hlm. 112).

*Tulisan ini menggunakan buku “Ad-Daulah al-Utsmaniyah” karya Dr Ali Muhammad Ash-Shallabi sebagai salah satu sumber utama, serta banyak memanfaatkan materi dari buku “Sultan Abdul Hamid II” karya Dr Muhammad Harb.rol
 

No comments: