Mereka mulai memahami betapa seriusnya ancaman invasi tersebut setelah pasukan Salib tidak hanya mengancam tanah dan akidah Islam, tetapi juga keberadaan dan kedudukan mereka di kota-kota Syam.
Karena itu, para fuqaha dan qadi di Damaskus, Aleppo, dan Tripoli segera mengambil langkah dengan meminta bantuan kepada kekuasaan pusat di Baghdad serta para penguasa lokal yang memiliki kekuatan militer untuk menghadapi ancaman tersebut.
Sekjen Persatuan Ulama Islam se-Dunia, Syekh Muhammad Ash-Shalabi, dikutip dari laman resminya, Sabtu (3/10/2026), menjelaskan beberapa sikap para ulama dan intelektual Islam terhadap invasi tentara Salib sebagai berikut:
1. Para fuqaha dan qadi Damaskus meminta bantuan kepada kekhalifahan Baghdad
Pada awalnya, Damaskus bukanlah sasaran utama pasukan Salib. Namun, para fuqaha dan qadi kota itu menyadari bahwa cepat atau lambat kota mereka juga akan terancam.
Damaskus, seperti halnya Yerusalem, merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan Islam yang didatangi para penuntut ilmu, fuqaha, dan qadi dari berbagai penjuru wilayah kekhalifahan.
Kekhawatiran mereka semakin besar setelah mengetahui nasib yang menimpa saudara-saudara mereka di Yerusalem. Karena itu, pada 492 H/1098 M mereka sepakat mengirim sebuah delegasi ke Baghdad, pusat kekhalifahan Islam, dan ke sejumlah kota besar di wilayah Persia.
Delegasi tersebut dipimpin oleh Qadi Damaskus, Zainul Islam Muhammad bin Nashr Abu Sa'd al-Harawi (w /519 H). Menurut al-Subki, kedudukan al-Harawi ketika itu sangat tinggi dan terhormat.
Pemilihan al-Harawi sebagai pemimpin delegasi menunjukkan besarnya kekhawatiran sekaligus harapan yang dirasakan para fuqaha dan qadi Syam.
Ia kemudian diterima oleh Khalifah Abbasiyah al-Mustazhhir Billah (486–512 H/1091–1118 M) bersama rombongannya.
Di hadapan khalifah, mereka menjelaskan kondisi kaum Muslimin di Yerusalem dan Syam serta ancaman pasukan Salib terhadap keberadaan mereka. Namun, usaha tersebut tidak menghasilkan keputusan konkret.
Karena itu, Qadi al-Harawi menyusun strategi untuk membangkitkan masyarakat Baghdad sebagai sarana menekan khalifah agar memberikan perhatian serius terhadap permintaan mereka.
Ia menjadikan masjid-masjid di Baghdad—sebagai pusat berkumpulnya masyarakat dan opini publik Islam—sebagai tempat untuk menyampaikan penderitaan kaum Muslimin di Syam. Inilah tahap kedua dari misi mereka.
Ibnu al-Atsir dalam Al-Kamil fi at-Tarikh, menggambarkan peristiwa tersebut:
“Para pembawa seruan dari Syam tiba di Baghdad pada Ramadhan bersama Qadi Abu Sa'd al-Harawi. Mereka menyampaikan di hadapan khalifah perkataan yang membuat mata menangis dan hati terasa pedih.
Pada Jumat, mereka berdiri di masjid jami dan memohon pertolongan. Mereka menangis dan membuat orang-orang menangis.
Mereka menceritakan apa yang menimpa kaum Muslimin di tempat suci yang mulia itu: kaum laki-laki dibunuh, perempuan dan anak-anak ditawan, harta benda dirampas, dan berbagai penderitaan lainnya.”
Besarnya penderitaan yang mereka gambarkan membuat suasana di Baghdad semakin mengharukan.
ILUSTRASI Perang Salib. - (dok wiki)
Khalifah kemudian memerintahkan Qadi Abu Muhammad al-Damaghani, Abu Bakar al-Syasyi, Abu al-Qasim al-Zanjani, Abu al-Wafa bin Aqil, dan Abu Sa'd al-Halwani untuk menemui Sultan Seljuk Barkiyaruq di Isfahan, yang ketika itu merupakan pusat kekuasaan politik dan militer yang sebenarnya.
Mereka diminta membantu para fuqaha Damaskus dalam menyampaikan permohonan bantuan kepada Sultan Seljuk.
Dengan demikian, khalifah juga dapat menyerahkan tanggung jawab penanganan persoalan tersebut kepada penguasa yang memiliki kekuatan militer.
Pemilihan para fuqaha tersebut tampaknya juga dilakukan dengan pertimbangan tertentu.
Sebagian nama mereka menunjukkan keterkaitan dengan wilayah Persia dan Transoxiana, seperti Damghan, Miyafariqin, dan Zanjan. Mereka diharapkan dapat memengaruhi para penguasa Seljuk di Persia agar mengirimkan bantuan militer.
Al-Damaghani pernah menjabat sebagai qadi di Nishapur. Al-Syasyi lahir di Miyafariqin, sedangkan Damghan sendiri tidak terlalu jauh dari Isfahan.
Namun, misi tersebut akhirnya gagal mencapai tujuan. Ketika rombongan sampai di kota Hulwan, mereka mendapat kabar bahwa Menteri Seljuk Majd al-Mulk al-Balasani telah terbunuh. Pada saat yang sama, para penguasa Seljuk di Persia sedang berselisih mengenai kekuasaan atas wilayah tersebut.
Dalam keadaan demikian, rombongan akhirnya kembali ke Baghdad tanpa memperoleh bantuan yang diharapkan. Qadi al-Harawi dan rombongannya pun pulang ke Damaskus dengan tangan hampa.
Damaskus kemudian berusaha mempertahankan dirinya dengan kekuatannya sendiri, sebagaimana akan dijelaskan kemudian, insya Allah.
Pada 513 H/1120 M, ketika pasukan Salib mengepung Damaskus, penguasa kota kembali mengirim delegasi ke Baghdad untuk meminta bantuan kepada Kekhalifahan Abbasiyah.
Lambang Salib Yerusalem yang digunakan tentara perang salib setelah menguasai Yerusalem dengan membantai umat Islam. - (Public Domains)
Delegasi ini dipimpin oleh Qadi Abdul Wahhab bin Abdul Wahid al-Syirazi al-Dimasyqi, yang ketika itu merupakan pemimpin kaum Hanbali di Syam.
Pemilihan al-Syirazi tidak terlepas dari kedudukan keluarganya di Damaskus. Keluarga Syirazi ketika itu merupakan salah satu keluarga terkemuka dalam mazhab Hanbali.
Mereka mengelola berbagai lembaga keagamaan, termasuk urusan peradilan, pengajaran, dakwah, dan kepemimpinan salat di sejumlah masjid.
Qadi al-Syirazi berhasil bertemu dengan Khalifah Abbasiyah di Baghdad. Khalifah memberikan penghormatan kepadanya dan menjanjikan bantuan. Namun, hasilnya tidak jauh berbeda dari misi al-Harawi sebelumnya.
Tampaknya, Kekhalifahan Abbasiyah memang tidak memiliki kemampuan nyata untuk memberikan bantuan selain menjanjikannya. Qadi al-Syirazi pun tampaknya menyadari keterbatasan kekuasaan politik dan otoritas keagamaan yang dimiliki Baghdad.
Karena itu, ia kembali ke Damaskus dan memilih mengandalkan kekuatan masyarakat sendiri. Ia kemudian menggerakkan penduduk untuk mempertahankan kota.
Ia memiliki majelis tempat ia menyerukan jihad dan memperoleh dukungan dari para penguasa Damaskus hingga wafat pada 536 H.
2. Qadi sekaligus Amir Fakhr al-Mulk bin Ammar dan upaya meminta bantuan kepada penguasa lokal serta kekhalifahan Baghdad
Pada awalnya, Fakhr al-Mulk memilih berdamai dengan pasukan Salib. Ia bahkan memberikan sejumlah uang dan menyediakan pemandu agar mereka tidak mengganggu wilayahnya.
Namun, setelah berhasil merebut Yerusalem, pasukan Salib beralih menghadapi Tripoli. Mereka mengepung kota tersebut.
Ibnu Ammar kemudian berusaha mencari bantuan dari para penguasa lokal di kota-kota Syam dan wilayah Jazirah.
Ia berhasil mempertahankan Tripoli dari kepungan untuk sementara waktu. Ia juga berkirim surat kepada Sultan Seljuk Muhammad bin Malik Syah, menjelaskan kondisi Tripoli serta keadaan Syam yang semakin terancam oleh invasi pasukan Salib.
Dalam surat-suratnya, Fakhr al-Mulk bin Ammar menggambarkan berbagai kerusakan yang ditimbulkan pasukan Franka: mereka menguasai benteng-benteng dan kota-kota pertahanan di Syam serta wilayah pesisir, melakukan pembunuhan terhadap kaum Muslimin, dan semakin memperketat pengepungan terhadap Tripoli.
Ia memohon pertolongan kepada Sultan Muhammad bin Malik Syah dan mendesaknya agar segera memberikan bantuan.
Sultan Alp Arslan memimpin bala tentara Seljuk melawan pasukan Salib. - (google.com)
ultan Muhammad kemudian menulis surat kepada dua panglimanya: Saif bin Shadaqah, penguasa al-Hillah, dan Jikirmisy, penguasa Mosul.
Ia meminta keduanya membantu Ibnu Ammar dengan memberikan dana dan mengirim pasukan untuk berjihad.
Sebagai imbalannya, Sultan menjanjikan wilayah al-Rahbah dan daerah-daerah di sepanjang Sungai Efrat kepada mereka apabila mereka bersedia memberikan bantuan.
Sultan Muhammad kemudian mengirim pasukan di bawah pimpinan Jawali Saqawu dengan alasan hendak membantu Ibnu Ammar di Tripoli. Namun, pasukan tersebut justru merebut Mosul dan sama sekali tidak bergerak menuju Tripoli.
Ibnu Ammar akhirnya menyadari bahwa kekuatan Islam di wilayah tersebut tidak mampu memberikan bantuan yang ia harapkan.
Ia kemudian memutuskan pergi sendiri ke Baghdad, pusat Kekhalifahan Abbasiyah. Ia tiba di sana dengan membawa berbagai hadiah dan benda-benda berharga.
Meskipun mendapat sambutan hangat di Baghdad, kunjungannya tidak berhasil mencapai tujuan yang diharapkan. Nasibnya tidak berbeda dengan Damaskus dan dua qadi yang sebelumnya menjalankan misi serupa, yaitu al-Harawi dan al-Syirazi.
Halaman 6 / 6
. Para fuqaha dan qadi Aleppo meminta bantuan kepada kekhalifahan Baghdad
Keluarga Ibnu Abi Jaradah, sebuah keluarga terkemuka dalam bidang keagamaan yang memegang urusan peradilan dan kepemimpinan keagamaan di Aleppo, juga memainkan peran dalam upaya meminta bantuan dari Baghdad.
Karena letaknya yang strategis, Aleppo turut menghadapi ancaman pasukan Salib. Pada 504 H/1111 M, ketika ancaman tersebut semakin nyata, kota itu mengirim sebuah delegasi yang terdiri dari para fuqaha dan tokoh-tokoh terkemuka.
Delegasi tersebut tampaknya dipimpin oleh Qadi Aleppo Abu Ghanim Hibah bin Abi Jaradah. Mereka pergi ke Baghdad dengan harapan dapat memperoleh bantuan.
Hubungan erat Ibnu Abi Jaradah dengan otoritas keagamaan di Baghdad turut menjadi alasan penting di balik penunjukan dirinya.
Namun, ketika qadi tersebut dan rombongannya tidak berhasil bertemu dengan Khalifah Abbasiyah al-Mustazhhir Billah, mereka akhirnya menyadari secara langsung betapa lemahnya posisi khalifah.
Mereka memahami bahwa kekuasaan nyata tidak berada di tangan khalifah, melainkan berada di tangan Sultan Seljuk.
Karena itu, mereka terlebih dahulu berusaha membangkitkan masyarakat untuk menekan khalifah.
Pada Jumat, mereka memasuki sebuah masjid yang berada dekat kediaman khalifah. Mereka menurunkan khatib dari mimbar dan membuat keributan. Mereka menyerukan penderitaan yang dialami umat Islam akibat serangan bangsa Franka.
Mereka juga menjelaskan kepada masyarakat apa yang menimpa saudara-saudara mereka di Aleppo dan berbagai wilayah Syam: kehancuran, pembunuhan, dan kerusakan yang ditimbulkan oleh pasukan Salib.
Seruan tersebut berhasil menggugah masyarakat dan membangkitkan semangat mereka.
Namun, para fuqaha Aleppo tetap tidak berhasil menemui Sultan Barkiyaruq. Para pengawalnya melarang mereka masuk.
Meski demikian, sang sultan memerintahkan para pengawalnya untuk menyampaikan bahwa ia akan mengirim pasukan guna membantu mereka.
Para fuqaha Aleppo kemudian memutuskan untuk kembali meminta bantuan kepada Khalifah al-Mustazhhir Billah.
Mereka mendatangi kediaman khalifah setelah terlebih dahulu memasuki Masjid Istana. Mereka menghalangi masyarakat yang hendak melaksanakan salat dan menjelaskan persoalan yang mereka hadapi.
Masyarakat pun ikut bangkit mendukung mereka.
Situasi tersebut akhirnya memaksa khalifah untuk menemui mereka. Di hadapan khalifah, mereka berkata, “Tidakkah engkau takut kepada Allah? Mengapa Raja Romawi justru lebih memiliki semangat membela Islam daripada engkau, hingga ia mengirim utusan kepadamu untuk mengajakmu berjihad melawan mereka?”
Keterangan tersebut menunjukkan bahwa kehadiran para fuqaha Aleppo di Baghdad pada 504 H/1111 M bertepatan dengan kedatangan delegasi Kekaisaran Bizantium ke Baghdad.
Delegasi Bizantium itu datang untuk berunding dengan Khalifah Abbasiyah dan Sultan Seljuk mengenai kemungkinan menyatukan kekuatan dalam menghadapi ancaman pasukan Salib di Syam.
Pihak Bizantium menjelaskan kepada pihak Muslim bahwa Kaisar Alexios Komnenos telah berusaha menghalangi pasukan Salib memasuki wilayah kaum Muslimin dan bahkan memerangi mereka.
Dari riwayat tersebut tampaknya pihak Bizantium berusaha mendapatkan dukungan dari kekuatan Islam untuk menghadapi ancaman pasukan Salib. Hal ini terutama terjadi setelah pasukan Salib melanggar kesepakatan yang sebelumnya dibuat dengan Bizantium pada 490 H/1096 M.
Kesepakatan tersebut antara lain mengatur pengembalian wilayah dan harta milik Bizantium di Syam apabila wilayah-wilayah tersebut berhasil direbut kembali dari pihak Muslim.
Bagaimanapun, para fuqaha Aleppo ternyata tidak memperoleh hasil yang lebih baik dari para delegasi kota-kota Syam lainnya ketika meminta bantuan kepada Kekhalifahan Baghdad.
Ibnu Katsir memang menyebutkan bahwa para fuqaha Baghdad, yang dipimpin oleh seorang ahli fikih bernama Ibnu al-Daghwani, merespons seruan para fuqaha Aleppo. Mereka bahkan memutuskan untuk pergi bersama mereka guna berjihad melawan pasukan Salib di Syam.
Namun, setelah mengetahui bahwa sejumlah kota telah jatuh ke tangan pasukan Salib, mereka kembali ke Baghdad tanpa melakukan tindakan lebih lanjut.
Terlepas dari riwayat tersebut, tampaknya para fuqaha Aleppo akhirnya kecewa terhadap ketidakmampuan Kekhalifahan Baghdad dalam memberikan bantuan nyata. Mereka pun mulai mengalihkan harapan kepada para penguasa lokal di Syam untuk mendapatkan pertolongan.rol
No comments:
Post a Comment