Bapak Para Nabi
Kenabian atau kerasulan memang di luar kuasa manusia, ia absolut berada dalam tangan yang Satu. Lihatlah Azar seorang penyembah berhala sekaligus tukang patung beranakkan seorang rasul Ibrahim dan ia orang pertama yang mendustai kemasinan lidah anaknya tersebut. Sebaliknya Nuh juga diutus dalam masa yang amat panjang – 950 tahun – namun anaknya Kan’an justeru mengingkari keberadaannya sendiri. Luth pun bernasib ‘malang’ beristrikan seorang pembangkang padahal ia kaki tangan Tuhan.
Bila Adam dikenal sebagai bapak moyangnya manusia, maka Ibrahim makruf sebagai bapak para nabi. Tidak ada seorang nabi dan rasul pun sesudahnya melainkan mereka berasal dari kemah sang Khalilullah ini.
Ibrahim dikaruniai usia sepanjang 200 tahun. Diawali dengan masa kelahirannya di Babilonia-Irak, kemudian hijrah ke Syam/Syria, Mesir, Mekah, kemudian wafat serta dikuburkan di Palestina. Dan persoalan akidah merupakan dialog yang tak putus-putus di sepanjang perjalanan hidupnya, di mana dan kapan pun.
Tersebutlah dalam riwayat bahwa suatu waktu Ibrahim kecil disuruh oleh ayahnya untuk menjajakan patung-patung yang telah ia selesaikan. Ibrahim pun pergi membawanya ke tengah keramaian, seraya berkata, “Belilah oleh kalian patung yang ada mudharatnya ini dan tidak mendatangkan manfaat sama sekali.”
Lain waktu ketika Ibrahim hendak dicampakkan ke kobaran api yang telah disiapkan Namrud dan bala tentaranya, Jibril datang menawarkan jasa apakah Ibrahim membutuhkan pertolongan atau tidak, Ibrahim menggeleng seraya berujar, “Sama kamu saya tidak membutuh apa pun, tapi sama Allah tentu.”
Lalu simak pulalah bagaimana ia mematahkan argumen Namrud yang katanya bisa menghidup dan mematikan manusia dengan cara mendatangkan dua orang tawanan; satu ia bebaskan (menghidupkan) dan yang satunya lagi ia hukum pancung (mematikan). Namun, terngangalah namrud ketika Ibrahim memintanya untuk menerbitkan Matahari dari Barat.
Kemudian puncak totalitas penyerahan dirinya pada Tuhan adalah perintah untuk menyembelih putranya Ismail. Dikatakan puncak karena lumayan banyak orang yang masih bisa mengorbankan harta, pangkat dan jabatan, namun ketika yang diminta mengorbankan anak maka tercekatlah tenggorokan mereka. Ibrahim untuk yang ini pun tidak gamang sama sekali.
Semakin menjuluk langit sebuah bangunan maka pondasinya mestilah semakin terhujam ke perut bumi. Dan Inilah yang telah dilakukan Ibrahim, ia meletakkan pondasi akidah yang kokoh, sehingga tidak heran kalau di kemudian hari lahirlah Ismail, Ishaq, Ya’kub, Yusuf, dan nabi-nabi lainnya, untuk kemudian ditutup oleh manusia terbaik Muhammad bin Abdullah. Merekalah manusia yang pohon kehidupannya berurat berakar di bumi, namun pucuknya menyentuh langit.
Wamdi J




No comments:
Post a Comment