Datu Timang (Tokoh Agama Islam dan Pendiri Kampung Jorong kab. Tanah Laut)

DATU TIMANG

Datu Timanggung, lebih dikenal masyarkat umum sebagai Datu Timang. Bapak Datu Timang bernama Dabung Dayu. Beliau berasal dari suku Kenyah. Menurut sejarah, Suku Kenyah merupakan salah satu suku Dayak yang ada di Kalimantan. Suku Kenyah adalah suku Dayak yang termasuk rumpun Kenyah-Kayan-Bahau yang berasal dari dataran tinggi Usun Apau, daerah Baram, Sarawak. Dari wilayah tersebut suku Kenyah memasuki Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur, melalui sungai Iwan di Sarawak terpecah dua sebagian menuju daerah Apau Kayan yang sebelumnya ditempati suku Kayan dan sebagian yang lainnya menuju daerah Bahau. Pergerakan suku ini menuju ke hilir akhirnya sampai ke daerah Mahakam dan akhirnya sebagian menetap di Kampung Pampang Samarinda Utara, Samarinda. Sebagian lagi bergerak ke hilir menuju Tanjung Palas. Mereka disebut bertelinga panjang. Bertelinga panjang karena pengaruh giwang dari besi yang berat berakibat telinga mereka tertarik menjuntai panjang karena beban.

Kemungkinan besar Datu Timang berasal dari keturunan pergerakan suku Kenyah tersebut. Menurut sejarah, sebagian suku Kenyah tersebut sudah ada yang masuk agama Islam. Agama Islam itu dibawa oleh pedagang dari Arab waktu berdagang ke daerah Kalimanan Timur sekitar akhir abad ke-15. Datu Timang juga salah satu yang sudah beragama Islam. Sekitar abad ke-18, dalam perjalanannya, Datu Timang, akhirnya bermukim di suatu kampung yang konon masih banyak hutan lebat dan beragam hewan seperti beruang, babi, kera, menjangan, dan lain-lain. Kampung tersebut belum mempunyai nama. Karena ketinggian ilmunya, Datu Timang merupakan tokoh yang diberi mandat penduduk setempat untuk mencari nama kampung tersebut. Dalam hati Datu Timang sudah terbersit nama kampung tersebut. Namun beliau tetap berdo’a pada Allah agar diberi petunjuk nama kampung yang cocok. Akhirnya petunjuk pun datang sesuai dengan yang sudah terbersit dalam hati Datu Timang, yakni Jorong. Jorong artinya tempat padi, tempat hasil alam yang melimpah dari tanah, sungai, dan laut, tempat orang berusaha, serta tempat penduduk yang banyak di masa yang akan datang.

Jorong merupakan tempat orang mencari nafkah. Tempat yang akan dituju orang untuk mencari penghidupan. Orang yang pernah tinggal di kampung Jorong ini akan enggan meninggalkannya. Kenyataan ini sebelumnya sudah diduga Datu Timang. Sebab Beliau pernah melihat di hulu sungai di Jorong (sungai Sawarangan) ada tumbuh satu pohon di atas batu. Pohon itu bernama Buluh Perindu. Pohon itu sebesar ibu jari kaki saja. Jadi siapa yang pernah minum air dari sungai di Jorong kemungkinan besar akan menetap jadi orang Jorong.

Selain mempunyai misi membangun daerah, beliau juga gencar menyebarkan agama Islam. Pada masa itu, penduduk kampung jorong sebagian besar orang-orang Dayak Biaju. Mereka masih menganut kepercayaan Animisme dan Dinamisme. Yakni, kepercayaan kepada makhluk halus dan roh, pemujaan terhadap roh (sesuatu yang tidak tampak mata). Berkat beliau, banyak mereka yang masuk Islam.

Pada jaman penjajahan Belanda, Datu Timang sangat berperan dalam perjuangan memerangi penjajah. Konon senjata yang digunakan Datu Timang hanya Sumpit. Sumpit adalah senjata tiup tradisional dari Suku Dayak yang mendiami sebagian besar Pulau Kalimantan , baik dari Dayak di Indonesia maupun Malaysia dan Brunei. Sumpit dibuat dari kayu ringan, panjang minimal 150 sentimeter hingga maksimal 225 sentimeter. Alat ini biasanya digunakan Suku Dayak untuk berburu. Namun, terkadang alat ini juga digunakan sebagai alat pertahanan diri dalam perang antarsuku. Batang bambu kecil yang sudah direndam racun merupakan senjata yang dimasukkan dalam sumpit ini. Anak panah sumpit ini dinamakan tamiang atau lamiang. Menurut cerita, tamiang sumpit Datu Timang mampu mencari sasarannya, seperti memiliki kendali. Juga dapat membedakan antara kawan dengan musuh.

Waktu melawan penjajah Belanda, beliau berbagi daerah pertahanan dengan dua saudara beliau (Nyai Kembang dan Datu Ambawang) dan sepupu beliau (Datu Sujimat dan Datu Surip). Nyai Kembang dan Datu Ambawang bertugas di daerah Munggu Wanau, Tandui, Kuningan, Batalang, dan Ambawang.

Nyai Kembang dikenal sebagai dukun beranak (bidan). Beliau terkenal mampu mengatasi kelahiran yang mengalami masalah seperti bayi lahir sungsang. Nyai Kembang pernah berperang melawan pasukan raja dari China bernama Liu. Mereka datang untuk menguasai dan merampas hasil alam daerah ini. Dalam peperangan tersebut Nyai Kembang juga dibantu orang-orang dari suku Dayak Biaju. Akhirnya peperangan dimenangkan Nyai Kembang. Raja Liu lalu melarikan diri. Nyai Kembang terus mencari keberadaan raja Liu hingga sampai ke pulau Kembang. Di pulau Kembang raja Liu ditemukan sedang bertapa di pinggir sungai. Nyai Kembang lalu menepuk pundak raja Liu sebanyak tiga kali. Setelah ditepuk oleh Nyai Kembang, konon raja Liu lalu berubah menjadi kera putih seperti kera yang menghuni pulau Kembang sekarang. Sedangkan Datu Ambawang selain bertugas melawan Belanda juga menjaga hutan di Ambawang (sekarang trans Ambawang) agar tidak dimasuki para gerobolan penjahat. Nyai Kembang dan Datu Ambawang akhirnya menjadi orang gaib.

Pada masa penjajahan Belanda, ada orang Belanda yang ingin menjadikan Nyai Kembang sebagai istri. Nyai Kembang menolak. Lalu untuk menghindar, konon Nyai Kembang memutuskan hidup di alam gaib. Menurut cerita, Nyai Kembang sekarang sering berada di pulau Kembang.

Datu Timang juga dibantu saudara sepupu beliau, yakni Datu Surip dan Datu Sajimat. Datu Surip bertugas di daerah sungai Halayung (Pulau Gudai). Beliau juga bermakam di tepi sungai Halayung. Nisannya hanya berupa batu. Menurut cerita, jika sungai Halayung meluap maka batu nisan tersebut akan berpindah ke tempat yang lebih tinggi agar tidak terendam air. Jika beruntung, di makam beliau bisa melihat lima buah keris pusaka. Namun jika ingin di ambil kelima keris tersebut akan menghilang.

Datu Sujimat bertugas di Pulau Panjang. Sekarang bernama desa Alur. Pulau Panjang merupakan pintu gerbang masuk ke kampung Jorong. Beliau menjaga para penjahat yang mau masuk kampung Jorong. Para penjahat yang akan masuk, melihat kampung Jorong berubah menjadi lautan atau terlihat gelap gulita. Para penjahat yang mencoba masuk kampung Jorong tidak akan berhasil. Datu Sujimat kemudian mengganti namanya menjadi Datu Ahmad. Beliau juga dikenal memelihara kucing sebanyak 41 ekor. Makam Datu Ahmad terletak di dekat perbatasan desa Alur dan desa Jorong. Makam beliau merupakan salah satu yang sering diziarahi warga kampung maupun orang luar daerah.

Datu Timang juga terkenal sakti atau mempunyai ilmu yang tinggi. Pernah beliau berjumpa dengan raja jin yang bernama Warajin yang datang dari Sebangau melalui Margasari sedang membawa bibit tanaman purun. Raja jin dibantu anak buahnya, yakni : Aji Braksa, Aji Brangta, dan Rangga Susu (jin perempuan). Datu Timang meminta bibit purun tersebut untuk di tanam di Jorong. Namun raja jin menolak sehingga terjadi pertarungan sengit. Menurut cerita, pertarungan itu berlangsung lumayan lama. Berkat kesaktiannya, akhirnya Datu Timang berhasil mengalahkan raja jin dan anak buahnya.

Raja jin kemudian menyerahkan semua bibit purun dan ketiga anak buahnya. Datu Timang bersama-sama penduduk kampung Jorong lalu menanam bibit purun tersebut di daerah Murung Tahu dan Banyu Habang. Dari sinilah konon bibit purun tersebut tersebar ke daerah-daerah sekitar kampung Jorong.

Ketiga anak buah jin yang diserahkan untuk membantu Datu Timang kemudian ditugaskan di wilayah-wilayah tertentu. Jin Aji Braksa diberi tugas oleh Datu Timang untuk menjaga daerah Taluk Hanau, Piyaungan, Padang Sabimbing, Tungkaran Naik, Pondok Biawak, Pinang Bakikis, dan Pondok Sarai. Jin Aji Brangta bertugas menjaga daerah hutan Liang Landak, Kuningan, Kanuar, Tandui, Pondok Kupiah, Gadamba, Sungai Kuwini, Lok Kota, Katal-katal, gunung Batu Basarudung, dan gunung Hujan Panas. Jin Rangga Susu, yakni jin perempuan, bertugas di Danau Udang, Pulau Cangkir, Pulau Tukang, Matang Lajar, Pulau Tiwadak, Pulau Anting-Anting, Munggu Sulah, Pulau Hajatan, Sungai Binjai, dan daerah hulu hilir Lok Melati. Menurut cerita, mereka sekarang telah kembali alam asalnya.

Perkembangan Islam di kampung Jorong pada masa itu cukup pesat. Untuk keperluan ibadah dan musyawarah, Datu Timang bersama warga, bermusyawarah untuk membangun sebuah masjid. Konon, kayu Ulin untuk keperluan tiang masjid dicari dan dibawa sendiri oleh Datu Timang dengan cara dipikul. Masjid tersebut diberi nama Nurul Huda. Sampai sekarang masjid Nurul Huda masih berdiri dan sudah mengalami beberapa kali renovasi. Pada waktu pembangunan masjid Sultan Suriansyah, Datu Timang juga kabarnya ikut berperan membawakan batangan kayu Ulin dengan cara dipikul sampai ke Kuin.

Selain itu, ketinggian ilmu Datu Timang , juga mampu berburu binatang tanpa senjata. Bila berburu menjangan, beliau hanya menunjuk binatang tersebut sambil menggerak-gerakkan jari telunjuk diiringi bacaan dua kalimat syahadat. Menjangan yang diburu pun tunduk dan tidak bisa berkutik hingga mudah ditangkap.

Datu Timang wafat pada tanggal 10 Dzulhijah 1331 H atau tahun 1910 M. Makam beliau terletak di samping masjid Nurul Huda di jalan Datu Timang desa Jorong. Karamah (kemuliaan) beliau adalah makam beliau termasuk yang dikeramatkan dan sering diziarahi masyarakat setempat maupun luar Jorong.

Ada dua buah parang peninggalan dari Datu Timang. Parang panjang seperti Samurai dan parang Baduk. Parang Baduk berbentuk panjang dan lebarnya seperti telapak tangan orang dewasa. Kedua parang tersebut masih tersimpan di rumah keturunan keenam dari Datu Timang bernama H. Muhammad Yatim A Halid, di Jorong. Kadang-kadang kedua parang tersebut bisa menghilang dari tempatnya dan kembali lagi dengan sendirinya, tanpa tahu sebabnya.

Pada acara Haul beliau, berdasarkan keterangan H. Muhammad Yatim A. Halid, disajikan juga : lamang tiga batang, telur dadar ayam kampung, sepiring nasi kuning , sepiring nasi putih, pisang mas atau mahuli tiga sikat, rokok dari tembakau Jawa dibuatkan lima batang, sebutir telur rebus, dupa Astanggi untuk wangi-wangian, kobokan (tempat cuci tangan) dari peninggalan Datu Timang, bahan dan alat penginangan, minyak likat untuk tapung tawar.

Berikut ini adalah foto pintu gerbang masuk menuju makam Datu Timang, makam Datu Timang, dan masjid Nurul Huda.

Syahrian

No comments: