Yonghua Zheng, Imam Perempuan dari China
Zheng biasa memimpin ibadah dan mengajarkan nilai-nilai Islam untuk jamaah masjid khusus perempuan di provinsi Henan.
SOSOK Yonghua Zheng mungkin sudah tak asing lagi bagi masyarakat muslim di Qinyang City, provinsi Henan, China. Dia adalah salah satu imam perempuan di sana.
Di provinsi Cina tengah, Henan, pemandangan seorang muslimah memimpin salat jamaah muslimah di sebuah masjid 'khusus' bukan hal aneh. Zheng salah satunya, ia biasanya memimpin ibadah dan mengajarkan nilai-nilai Islam untuk jamaah masjid di provinsi Henan.
Menurut peneliti Shui Jingjun, yang juga seorang muslim dari etnik Hui, imam perempuan dimulai pada dinasti Qing sekitar pertengahan abad ke-18.
Selama beberapa dekade terakhir, perempuan muslim telah memimpin dan mengajarkan nilai-nilai Islam untuk jamaah masjid muslimah di provinsi Henan.
Ia memimpin semua salat di masjid wanita, kecuali salat jenazah. Dalam salat, imam perempuan tidak boleh memimpin jamaah laki-laki. Imam perempuan hanya boleh memimpin salat jamaah perempuan di masjid khusus perempuan.
Meskipun mampu mengajar dan memimpin doa serta salat untuk jemaah perempuan, mereka dilarang ikut ritual pemakaman atau mencuci mayat laki-laki sebelum penguburan.
Tidak Mudah
Meskipun imam perempuan bukan hal baru bagi muslim di China, menemukan generasi baru perempuan yang bisa menjadi imam salat tidaklah mudah.
Menjadi imam perempuan memerlukan keahlian khusus, diharuskan memiliki pengetahuan sangat mendalam dan menyeluruh mengenai agama dan memiliki kepercayaan diri dan tanggung jawab untuk memenuhi panggilan ini.
Menurut data resmi, Cina memiliki 20 juta Muslim, sebagian besar dari mereka terkonsentrasi di daerah-daerah dan propinsi-propinsi Xinjiang, Ningia, Gansu, dan Qinghai.[] sumber: dream.co.id/onislam.net
SOSOK Yonghua Zheng mungkin sudah tak asing lagi bagi masyarakat muslim di Qinyang City, provinsi Henan, China. Dia adalah salah satu imam perempuan di sana.
Di provinsi Cina tengah, Henan, pemandangan seorang muslimah memimpin salat jamaah muslimah di sebuah masjid 'khusus' bukan hal aneh. Zheng salah satunya, ia biasanya memimpin ibadah dan mengajarkan nilai-nilai Islam untuk jamaah masjid di provinsi Henan.
Menurut peneliti Shui Jingjun, yang juga seorang muslim dari etnik Hui, imam perempuan dimulai pada dinasti Qing sekitar pertengahan abad ke-18.
Selama beberapa dekade terakhir, perempuan muslim telah memimpin dan mengajarkan nilai-nilai Islam untuk jamaah masjid muslimah di provinsi Henan.
Ia memimpin semua salat di masjid wanita, kecuali salat jenazah. Dalam salat, imam perempuan tidak boleh memimpin jamaah laki-laki. Imam perempuan hanya boleh memimpin salat jamaah perempuan di masjid khusus perempuan.
Meskipun mampu mengajar dan memimpin doa serta salat untuk jemaah perempuan, mereka dilarang ikut ritual pemakaman atau mencuci mayat laki-laki sebelum penguburan.
Tidak Mudah
Meskipun imam perempuan bukan hal baru bagi muslim di China, menemukan generasi baru perempuan yang bisa menjadi imam salat tidaklah mudah.
Menjadi imam perempuan memerlukan keahlian khusus, diharuskan memiliki pengetahuan sangat mendalam dan menyeluruh mengenai agama dan memiliki kepercayaan diri dan tanggung jawab untuk memenuhi panggilan ini.
Menurut data resmi, Cina memiliki 20 juta Muslim, sebagian besar dari mereka terkonsentrasi di daerah-daerah dan propinsi-propinsi Xinjiang, Ningia, Gansu, dan Qinghai.[] sumber: dream.co.id/onislam.net




No comments:
Post a Comment