Satrio ”Tan Pokro Anggoning Nyandhang”
Masyarakat jawa dikenal akrab dengan ramalan - ramalan. Semua kegiatan / hajatan masyarakat suku jawa tak lepas dari ramal-meramal. Kalau melaksanakan kegiatan / hajatan tgl ini dan bulan ini akan baik dan lancar, atau jika dilaksanakan tgl dan bulan ini akan mendatangkan musibah dll. Meski sebagian ada yang menganggap meramal sesuatu yang belum terjadi itu ”gak ilok”, tabu, pamali dll, karena menurut mereka yang tidak sepakat soal ramal-meramal menilai meramal itu ”disiki kersaning Allah” (mendahului kehendak/ketetapan dari Allah SWT).
Namun nyatanya tetap saja ini terjadi berabad-abad di tengah masyarakat jawa. Bahkan satu tim dalam pertandingan sepak bola pun bisa di prediksi dengan meramal angka dan warna kostumnya. Benar-benar sempel. ”Percoyo gak percoyo!!!, becik gak usah percoyo!!!” demikian ujar cak Tohir salah satu host paling nyentrik di program acara Bal-balan sampe’ sempel (balsem) yang ditayangkan di salah satu TV lokal terbesar di jawa timur (Jtv).
Meramal juga makin hangat dibicarakan, ketika suksesi kepemimpinan nasional akan terjadi. Notonogoro adalah sebagian dari ramalan Prabu Jayabaya terpopuler yang secara masif, tidak terstruktur namun sistematis menjadi obrolan menarik di warung-warung kopi pinggir jalan. Sebagian masyarakat terutama suku jawa yang mempercayai ramalan Prabu Jayabaya, No-to-no-go-ro diyakini adalah urutan kepemimpinan nasional. ‘No’ adalah Soekarno Presiden RI 1, ‘To’ adalah Soeharto Presiden RI 2 dst.
Selain Notonogoro yang telah populer di warung-warung kopi, tembang dandang gulo juga tak kalah tenar. Kutipan dari jayabaya yang ditulis oleh Ronggowarsito, pujangga keraton surakarta ini juga dipercaya bernas mengarah pada kepemimpian nasional.
Satrio Kinunjoro adalah Soekarno
Satrio Mukti Wibowo adalah Soeharto
Satrio Jinumput/Sumelo Atur adalah BJ Habibie
Satrio Lelono Bumi adalah Gus Dur
Satrio Piningit adalah Megawati
Satrio pinilih adalah SBY
Lalu, siapa Satrio selanjutnya ?
Masih menurut ramalan. Prabu Jayabaya dalam ramalannya menulis, setelah 500 tahun terhitung sejak runtuhnya kerajaan Majapahit, nusantara / Indonesia akan dipimpin oleh Satrio ”tan pokro anggoning nyandhang”. Atau bisa diartikan ”tidak pantes jadi presiden”(dari sudut pandang fisik dan penampilannya).
Kita semua tahu, siapa presiden terpilih 2014 meskipun masih disengketakan ke MK. Banyak yang anggap capres no. urut 2 ini tidak pantas jadi presiden ((dari sudut pandang fisik dan penampilannya)). Bahkan ada yang mengatakan ”rupane lho nggilani, ndeso!!!”. Hehe ???.
Namun, semua pasti setuju bila siapapun presiden/satrio itu bila nantinya mampu menyejahterahkan rakyatnya dan dapat mengimplementasikan pancasila terutama sila ke 5, keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. Mampu membawa negeri kita tercinta ini menuju kejayaan, menjadi bangsa yang bermartabat sehingga disegani oleh negara2 tetangga. Maka, Satrio/Presiden yang wajahnya baik ”nggilani” atau yang ”tegas” dia layak jadi pemimpin nusantara.
By the way soal ramal-meramal terakhir saya ingin mengutip kata-kata cak Tohir, ”Percoyo gak percoyo!!!, becik gak usah percoyo!!!”.
Allah Maha Bijaksana.
salam ngramal tan pokro
dian halle wallahe
Dian H W
Namun nyatanya tetap saja ini terjadi berabad-abad di tengah masyarakat jawa. Bahkan satu tim dalam pertandingan sepak bola pun bisa di prediksi dengan meramal angka dan warna kostumnya. Benar-benar sempel. ”Percoyo gak percoyo!!!, becik gak usah percoyo!!!” demikian ujar cak Tohir salah satu host paling nyentrik di program acara Bal-balan sampe’ sempel (balsem) yang ditayangkan di salah satu TV lokal terbesar di jawa timur (Jtv).
Meramal juga makin hangat dibicarakan, ketika suksesi kepemimpinan nasional akan terjadi. Notonogoro adalah sebagian dari ramalan Prabu Jayabaya terpopuler yang secara masif, tidak terstruktur namun sistematis menjadi obrolan menarik di warung-warung kopi pinggir jalan. Sebagian masyarakat terutama suku jawa yang mempercayai ramalan Prabu Jayabaya, No-to-no-go-ro diyakini adalah urutan kepemimpinan nasional. ‘No’ adalah Soekarno Presiden RI 1, ‘To’ adalah Soeharto Presiden RI 2 dst.
Selain Notonogoro yang telah populer di warung-warung kopi, tembang dandang gulo juga tak kalah tenar. Kutipan dari jayabaya yang ditulis oleh Ronggowarsito, pujangga keraton surakarta ini juga dipercaya bernas mengarah pada kepemimpian nasional.
Satrio Kinunjoro adalah Soekarno
Satrio Mukti Wibowo adalah Soeharto
Satrio Jinumput/Sumelo Atur adalah BJ Habibie
Satrio Lelono Bumi adalah Gus Dur
Satrio Piningit adalah Megawati
Satrio pinilih adalah SBY
Lalu, siapa Satrio selanjutnya ?
Masih menurut ramalan. Prabu Jayabaya dalam ramalannya menulis, setelah 500 tahun terhitung sejak runtuhnya kerajaan Majapahit, nusantara / Indonesia akan dipimpin oleh Satrio ”tan pokro anggoning nyandhang”. Atau bisa diartikan ”tidak pantes jadi presiden”(dari sudut pandang fisik dan penampilannya).
Kita semua tahu, siapa presiden terpilih 2014 meskipun masih disengketakan ke MK. Banyak yang anggap capres no. urut 2 ini tidak pantas jadi presiden ((dari sudut pandang fisik dan penampilannya)). Bahkan ada yang mengatakan ”rupane lho nggilani, ndeso!!!”. Hehe ???.
Namun, semua pasti setuju bila siapapun presiden/satrio itu bila nantinya mampu menyejahterahkan rakyatnya dan dapat mengimplementasikan pancasila terutama sila ke 5, keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. Mampu membawa negeri kita tercinta ini menuju kejayaan, menjadi bangsa yang bermartabat sehingga disegani oleh negara2 tetangga. Maka, Satrio/Presiden yang wajahnya baik ”nggilani” atau yang ”tegas” dia layak jadi pemimpin nusantara.
By the way soal ramal-meramal terakhir saya ingin mengutip kata-kata cak Tohir, ”Percoyo gak percoyo!!!, becik gak usah percoyo!!!”.
Allah Maha Bijaksana.
salam ngramal tan pokro
dian halle wallahe
Dian H W




No comments:
Post a Comment